IDETORIAL.com, Flores Timur – Konflik sosial kembali terjadi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Bentrokan antarwarga di Kecamatan Adonara Timur pada Sabtu,18 Juli 2026 mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, tujuh lainnya mengalami luka-luka, serta menyebabkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, konflik terjadi sekitar pukul 06.15 WITA antara warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dan warga Desa Narasaosina. Selain menimbulkan korban jiwa, peristiwa tersebut juga mengakibatkan kerugian material berupa 20 unit rumah terdampak, satu bangunan usaha, serta satu unit sepeda motor.
Merespons kejadian tersebut, Wakil Bupati Flores Timur bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) langsung turun ke lokasi. Rombongan yang terdiri atas Ketua DPRD Flores Timur, Dandim 1624 Flores Timur, Wakil Kapolres Flores Timur, Sekretaris Daerah, serta anggota DPRD Kabupaten Flores Timur, didampingi personel Kodim 1624 Flores Timur dan Polres Flores Timur, tiba di lokasi sekitar pukul 07.30 WITA.
Di lokasi, pemerintah daerah bersama aparat TNI dan Polri melakukan langkah-langkah persuasif untuk menghentikan bentrokan sekaligus mengendalikan situasi keamanan agar konflik tidak meluas.
Hingga Minggu, 19 Juli 2026, kondisi di Kecamatan Adonara Timur masih berada dalam pemantauan ketat aparat keamanan. Personel gabungan tetap disiagakan untuk menjaga situasi tetap kondusif serta mencegah potensi bentrokan susulan.
Konflik yang terjadi di Adonara Timur berlangsung hanya dua hari setelah upaya rekonsiliasi pascakonflik di wilayah lain di Kabupaten Flores Timur. Pada Kamis, 16 Juli 2026, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto bersama Wakil Bupati Flores Timur meresmikan hunian tetap dan sumur bor bagi warga terdampak konflik di Desa Bugalima, Kecamatan Adonara Barat.
Dalam kunjungan tersebut, Kepala BNPB juga menyaksikan pelaksanaan ikrar damai antara tokoh masyarakat Desa Bugalima dan Desa Ilepati yang ditandai dengan pertukaran cinderamata berupa sarung di Kantor Kecamatan Adonara Barat. Momentum tersebut menjadi simbol rekonsiliasi dan komitmen bersama untuk menjaga perdamaian di wilayah Adonara.
Kembalinya konflik sosial di Adonara Timur menjadi pengingat bahwa upaya penyelesaian konflik dan penguatan rekonsiliasi di tingkat masyarakat masih perlu terus dilakukan secara berkelanjutan guna mencegah terulangnya kekerasan antarkelompok di Flores Timur.(lid/BNPB)