GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Dari tenda belajar hingga trauma healing, UNEJ mencoba menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar bantuan

Dari Tenda Belajar hingga Pelukan Pemulihan, UNEJ Dampingi Anak Korban Gempa Ngada

IDETORIAL.com, Ngada – Gempa bumi tidak hanya merusak bangunan. Bagi anak-anak di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), bencana juga sempat mengusik ruang belajar dan meninggalkan rasa takut yang tidak terlihat.

Di tengah situasi itu, Tim Pusat Lingkungan Hidup dan Kebencanaan (PLHK) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jember (UNEJ) hadir bukan sekadar membawa bantuan, tetapi mendampingi anak-anak melewati masa sulit pascagempa.

Dari tenda yang dijadikan ruang belajar hingga kegiatan trauma healing, UNEJ berupaya memastikan anak-anak tetap memiliki ruang untuk belajar, bermain, berinteraksi, dan perlahan menemukan kembali rasa aman.

Rangkaian aksi kemanusiaan tersebut dimulai dengan kedatangan Tim PLHK LPPM UNEJ di Kabupaten Ngada pada 3 September 2026. Tim kemudian berkoordinasi dengan Bupati Ngada, Raymundus Bena, untuk memastikan bantuan diarahkan ke lokasi yang benar-benar membutuhkan.

Bupati Ngada mengapresiasi kehadiran UNEJ yang turun langsung melihat kondisi masyarakat terdampak gempa.

Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan, Ombudsman Soroti Ketidakpastian Penumpang di Bandara

Menurutnya, penanganan bencana tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah. Perguruan tinggi memiliki peran penting karena tidak hanya memiliki sumber daya manusia dan keahlian akademik, tetapi juga dapat terlibat dalam pendampingan serta pemulihan masyarakat.

“Penanganan bencana harus dilakukan secara bersama-sama dan terkoordinasi. Bantuan yang datang sebaiknya langsung diarahkan ke lokus sasaran, sehingga dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat terdampak sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Raymundus.

Tenda Menjadi Ruang Belajar

Salah satu dampak gempa dirasakan siswa SDN Pore di wilayah Riung. Kerusakan sejumlah ruang kelas membuat kegiatan belajar mengajar terganggu.

Pada 5 September 2026, Tim PLHK LPPM UNEJ menyerahkan bantuan tenda untuk digunakan sebagai ruang alternatif pembelajaran.

Bagi anak-anak, tenda tersebut bukan hanya tempat sementara. Di tengah ruang kelas yang rusak, tenda menjadi tempat mereka kembali membuka buku, mengikuti pelajaran, dan bertemu dengan teman-temannya.

Baru Separuh Terverifikasi, 23.835 Rumah Rusak Pascagempa Flores

Ketua PLHK LPPM UNEJ, Dr. drg. Banun Kusumawardani, M.Kes., mengatakan kebutuhan anak-anak menjadi salah satu perhatian utama tim selama berada di Riung.

“Kami melihat bahwa dampak gempa tidak hanya menyangkut kerusakan fisik, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan anak-anak,” katanya.

Karena itu, ketika memperoleh informasi mengenai kerusakan ruang kelas, tim berupaya menyediakan tenda agar proses belajar siswa tetap dapat berjalan.

Tak Hanya Obat dan Pakaian

Perhatian UNEJ kemudian meluas ke kebutuhan kesehatan dan kebutuhan dasar masyarakat.

Tim menyerahkan bantuan obat-obatan kepada Puskesmas Riung untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa.

Ombudsman Bongkar Titik Rawan Lapas dan Rutan: Pungli, Sewa Kamar, HP dan Narkoba

Selain itu, warga Desa Tado, Kecamatan Riung, menerima bantuan pakaian dan mukena.

Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya UNEJ membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari selama masa pemulihan.

Namun, ada kebutuhan lain yang tidak dapat diselesaikan dengan bantuan material.

Yakni rasa takut.

Memulihkan Rasa Aman Anak

Beberapa hari setelah tenda bantuan diserahkan, perhatian tim kembali diarahkan kepada anak-anak.

Pada 7 September 2026, Tim PLHK LPPM UNEJ menggelar trauma healing bagi siswa SD Inpres Pore di wilayah Riung.

Anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas yang ramah, edukatif, dan menyenangkan. Mereka diberikan kesempatan untuk bermain, berinteraksi, dan mengekspresikan diri dalam suasana yang lebih ringan setelah melalui pengalaman bencana.

Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari pemulihan karena dampak gempa tidak selalu terlihat secara fisik.

Kepala LPPM UNEJ, Prof. Dr. Yuli Witono, S.TP., M.P., mengatakan pemulihan pascabencana tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan kembali sarana dan prasarana.

“Anak-anak juga membutuhkan pemulihan secara psikologis. Karena itu, trauma healing menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan ini,” tuturnya.

Menurutnya, anak-anak perlu kembali memiliki ruang untuk bermain, belajar, berinteraksi, dan membangun rasa percaya diri setelah menghadapi situasi yang tidak mudah akibat bencana.

Banun menambahkan, kehadiran UNEJ di tengah masyarakat ingin dibangun melalui pendampingan yang lebih manusiawi.

“Kami ingin kehadiran Tim PLHK tidak hanya dirasakan melalui bantuan berupa tenda, obat-obatan, pakaian, dan mukena. Kami juga ingin hadir secara manusiawi, mendengarkan, mendampingi, dan memberikan penguatan kepada masyarakat, khususnya anak-anak yang mengalami dampak langsung dari bencana,” ujarnya.

Menemani Anak-anak untuk Bangkit

Gempa mungkin telah berlalu, tetapi proses pemulihan bagi masyarakat masih berlangsung.

Bagi anak-anak, proses itu berarti kembali ke sekolah, kembali bermain bersama teman, dan perlahan menghapus rasa takut yang muncul setelah bencana.

Karena itu, bantuan UNEJ tidak berhenti pada tenda, obat-obatan, pakaian, dan perlengkapan ibadah. Pendampingan psikososial menjadi bagian dari upaya memastikan anak-anak tidak berjalan sendirian dalam melewati masa pascabencana.

Dari tenda belajar hingga trauma healing, UNEJ mencoba menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar bantuan: ruang bagi anak-anak Ngada untuk kembali merasa aman, kembali tersenyum, dan kembali menatap hari esok.

(Lidia)

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement