IDETORIAL.com, Jakarta – Kemiskinan tidak selalu terlihat dari meja makan yang kosong atau rumah yang tidak layak huni. Bagi perempuan, kemiskinan juga dapat hadir dalam bentuk yang lebih senyap: kesulitan memenuhi kebutuhan menstruasi setiap bulan.
Persoalan inilah yang coba dijawab Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang melalui program “Ina Kasih”. Program tersebut tidak sekadar membagikan pembalut secara gratis, tetapi menjadi bentuk intervensi pemerintah terhadap kebutuhan dasar kesehatan reproduksi perempuan, khususnya mereka yang hidup dalam kondisi miskin ekstrem.
Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, mengatakan kehadiran pemerintah tidak boleh hanya diukur dari pembangunan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga harus mampu menjangkau kebutuhan dasar masyarakat yang sering kali luput dari perhatian.
“Ina Kasih merupakan kegiatan intervensi pemberian pembalut gratis yang diberikan Pemkot Kupang kepada perempuan yang berada dalam kemiskinan ekstrem. Pemerintah harus hadir karena ini merupakan kebutuhan dasar kesehatan yang harus dipenuhi,” ujar Serena saat berkunjung ke Redaksi Investortrust di Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
Program ini lahir dari persoalan menstrual poverty atau kemiskinan menstruasi, yakni kondisi ketika perempuan tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memperoleh produk menstruasi, fasilitas sanitasi, maupun informasi yang layak mengenai menstruasi dan kesehatan reproduksi.
Di Kota Kupang, persoalan tersebut menjadi semakin relevan karena masih terdapat keluarga dengan kemampuan ekonomi sangat terbatas.
Serena menyebut sekitar 500 keluarga di Kota Kupang memiliki penghasilan kurang dari Rp500ribu/bulan. Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan pembalut yang harus dipenuhi setiap bulan dapat menjadi beban tambahan bagi keluarga.
Harga satu bungkus pembalut berkisar Rp20ribu hingga Rp26ribu Jika dalam satu keluarga terdapat dua atau tiga perempuan yang mengalami menstruasi, pengeluaran tersebut tentu semakin besar.
Bagi keluarga miskin, uang yang digunakan membeli pembalut bisa saja harus berbagi dengan kebutuhan lain seperti makanan, pendidikan, transportasi, maupun kebutuhan rumah tangga.
Persoalan tersebut bahkan berpotensi memengaruhi pendidikan anak perempuan. Keterbatasan memperoleh produk menstruasi yang layak dapat membuat sebagian anak memilih tidak masuk sekolah ketika sedang menstruasi.
“Hal-hal kecil seperti ini sering kali luput dari perhatian pemerintah. Mungkin ada yang bertanya mengapa pemerintah masuk ke ranah yang dianggap pribadi. Namun, kami melihat ini sebagai kebutuhan dasar kesehatan perempuan,” kata Serena.
Menyasar Perempuan dari Keluarga Paling Rentan
Pada tahap awal, Ina Kasih menyasar 1.275 perempuan berusia 10–45 tahun yang masuk dalam kelompok miskin ekstrem, penerima Program Keluarga Harapan (PKH), serta penyandang disabilitas.
Para penerima manfaat tersebar di 51 kelurahan di Kota Kupang. Mereka ditetapkan berdasarkan data desil satu dan dua Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Dinas Sosial Kota Kupang.
Dengan sasaran tersebut, Ina Kasih diarahkan kepada kelompok yang paling membutuhkan, bukan sekadar menjadi program pembagian bantuan secara umum.
Ina Kasih diluncurkan di Taman Nostalgia Kota Kupang pada 20 September 2025. Setelah diluncurkan, pembalut disalurkan secara rutin kepada penerima manfaat di seluruh kelurahan.
Nama Ina Kasih sendiri memiliki makna yang kuat dengan identitas daerah. “Ina” dalam bahasa setempat berarti ibu atau perempuan, sedangkan “Kasih” merujuk pada identitas Kota Kupang sebagai Kota Kasih.
Program ini sekaligus membawa pesan bahwa pemenuhan kebutuhan kesehatan perempuan merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah dalam mengatasi dampak kemiskinan.
Melawan Stigma Menstruasi
Intervensi Program “Ina Kasih” tidak berhenti pada pembagian pembalut.
Pemkot Kupang juga menjalankan proyek percontohan di SMP Negeri 11 Kupang dengan memberikan pembalut gratis, sekaligus edukasi mengenai menstruasi dan kesehatan reproduksi.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena persoalan menstruasi bukan hanya menyangkut ketersediaan produk. Stigma, rasa malu, ketakutan, dan anggapan bahwa menstruasi merupakan sesuatu yang tabu juga masih menjadi persoalan bagi perempuan dan anak perempuan.
Melalui edukasi, pemerintah berupaya membangun pemahaman bahwa menstruasi merupakan proses biologis yang normal dan perlu dibicarakan secara sehat.
Dengan demikian, Ina Kasih ditempatkan sebagai program yang menggabungkan intervensi sosial, kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan.
Dari Pembalut ke Perlindungan Kesehatan Reproduksi
Pemkot Kupang kemudian memperluas pendekatan Ina Kasih ke isu kesehatan reproduksi lainnya.
Salah satunya melalui pemberian vaksin human papillomavirus (HPV) secara gratis sebagai bagian dari upaya pencegahan kanker serviks.
Pada tahap awal, sebanyak 50 perempuan menerima vaksin secara simbolis dari total sasaran 150 perempuan berusia 15–45 tahun dengan pemberian tiga dosis.
Langkah ini menunjukkan bahwa Ina Kasih mulai dikembangkan sebagai pintu masuk menuju agenda perlindungan kesehatan reproduksi perempuan yang lebih luas.
Inovasi tersebut juga telah memperoleh pengakuan. Ina Kasih meraih Juara I Kategori Prototipe Inovasi Unggulan Daerah dalam Kompetisi Gelangnona 2025 pada 11 Desember 2025.
Penghargaan itu memperkuat posisi Ina Kasih sebagai inovasi pelayanan publik yang mencoba menjawab persoalan masyarakat dari kebutuhan yang paling dasar.
Serena berharap program tersebut dapat direplikasi oleh pemerintah kabupaten dan kota lain di NTT hingga menjadi model kebijakan kesehatan reproduksi perempuan di tingkat nasional.
Pemkot Kupang juga membuka peluang kolaborasi dengan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR untuk memperluas cakupan penerima manfaat.
“Kami ingin memperkenalkan Ina Kasih di tingkat pusat agar dapat menjadi role model di NTT dan seluruh Indonesia. Kesehatan reproduksi perempuan perlu menjadi perhatian pemerintah dan dunia usaha, khususnya untuk melindungi perempuan prasejahtera dari berbagai penyakit organ reproduksi,” ujarnya.
Pada akhirnya, Ina Kasih bukan semata cerita tentang pembalut gratis.
Program ini berbicara tentang bagaimana kemiskinan dapat memengaruhi kebutuhan paling dasar perempuan, bahkan sesuatu yang harus mereka hadapi setiap bulan.
Ketika penghasilan keluarga hanya cukup untuk bertahan hidup, kebutuhan menstruasi dapat berubah menjadi beban ekonomi. Ketika beban itu tidak tertangani, dampaknya dapat merembet pada kesehatan, pendidikan, kepercayaan diri, hingga produktivitas perempuan.
Melalui Ina Kasih, Pemkot Kupang berupaya memastikan bahwa kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi perempuan untuk mendapatkan hak atas kesehatan reproduksi, tetap bersekolah, hidup sehat, dan menjalani kehidupan secara bermartabat.
(Lid)