IDETORIAL.com, Sidoarjo — Pengembangan rumput laut di Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi perhatian delegasi tingkat tinggi Pemerintah Indonesia dan United Nations Development Programme (UNDP) dalam kunjungan pada 17–18 September 2026.
Sentra budidaya dan pengolahan rumput laut tersebut dinilai menunjukkan peluang pengembangan ekonomi biru yang dapat memperkuat pendapatan masyarakat pesisir sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda Archipelagic and Island States (AIS) Forum, sebuah inisiatif Pemerintah Indonesia yang sekretariatnya didukung dan difasilitasi UNDP. Delegasi melihat langsung pengembangan rumput laut di lokasi budidaya Tlocor dan Koperasi Agar Makmur Sentosa.
Di Tlocor, delegasi menyaksikan proses panen, kondisi tambak yang telah direhabilitasi, serta pengeringan rumput laut di tingkat pembudidaya. Sementara di koperasi, delegasi melihat fasilitas bersama yang digunakan untuk pengeringan, pembersihan, dan pengepresan rumput laut sebagai bagian dari penguatan penanganan pascapanen.
Sidoarjo merupakan salah satu sentra budidaya Gracilaria berbasis tambak di Jawa Timur. Rumput laut dibudidayakan bersama ikan bandeng di sejumlah tambak pesisir yang sebelumnya mengalami perubahan kondisi lingkungan setelah semburan lumpur Lapindo pada 2006.
Pemanfaatan kembali tambak tersebut tidak hanya membuat lahan lebih produktif, tetapi juga membuka sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir melalui kegiatan budidaya dan pengolahan rumput laut.
Potensi ini sejalan dengan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut tropis terbesar dunia. Indonesia juga menjadi eksportir utama rumput laut dan menyumbang sekitar 69 persen ekspor rumput laut global pada 2025.
Namun, besarnya produksi belum sepenuhnya menghasilkan nilai ekonomi maksimal. Produktivitas yang masih rendah, keterbatasan infrastruktur dan teknologi, kesenjangan keterampilan, serta akses terhadap pembiayaan dan pasar menjadi tantangan yang perlu diatasi.
Karena itu, pengembangan rumput laut diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan seluruh rantai nilai, mulai dari budidaya, panen, pengeringan, pengolahan, hingga pemasaran.
Kepala Perwakilan UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella, dalam rilis tertulis, Sabtu, 19 September 2026 mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya, masyarakat, pengetahuan, dan inovasi yang dapat menjadi modal untuk mengembangkan industri rumput laut secara berkelanjutan.
Menurut Sara, peluang Indonesia adalah meningkatkan posisi dari pemimpin berdasarkan volume produksi menjadi pemimpin berdasarkan nilai ekonomi yang dihasilkan.
“Peluangnya adalah beralih dari pemimpin dalam volume menjadi pemimpin dalam nilai,” ujar Sara.
Penguatan rantai nilai tersebut diharapkan dapat menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan pembudidaya, sekaligus menarik investasi sektor swasta.
Pemerintah Indonesia dan UNDP juga mendorong pengembangan Indonesia Seaweed Investment Partnership (ISIP) sebagai salah satu upaya memperkuat koordinasi, memobilisasi investasi, mendorong inovasi, dan mempercepat pertumbuhan industri rumput laut secara berkelanjutan.
Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno mengatakan pengembangan ekonomi biru perlu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya laut dan perlindungan ekosistem.
“Bagi Indonesia, laut bukan hanya sumber peluang ekonomi, tetapi juga bagian penting dari identitas, ketahanan pangan, dan mata pencaharian jutaan orang,” katanya.
Kunjungan UNDP-AIS Forum ke Sidoarjo memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi biru dapat dimulai dari penguatan sektor yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Rumput laut tidak hanya dipandang sebagai komoditas produksi, tetapi sebagai bagian dari rantai ekonomi yang dapat menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan peluang investasi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Pengalaman Sidoarjo selanjutnya dapat menjadi pembelajaran bagi negara-negara kepulauan dan negara pulau lainnya melalui AIS Forum dalam mengembangkan potensi ekonomi biru masing-masing.
(Lidia/*)