IDETORIAL.com, Kupang – Lomba kebersihan antarkelurahan di Kota Kupang tidak hanya menjadi ajang penilaian lingkungan, tetapi didorong menjadi gerakan yang meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan secara berkelanjutan.
Wali Kota Kupang, Chris Widodo, mengapresiasi inisiatif Komunitas Beta Bersih (KBB) yang selama dua tahun terakhir turut menggerakkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Menurut Chris, persoalan kebersihan kota tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena Kota Kupang merupakan ruang hidup bersama yang harus dijaga secara kolektif.
“Komunitas Beta Bersih adalah contoh nyata bahwa dengan kolaborasi kita bisa melalui banyak hambatan, rintangan dan tantangan. Kota Kupang bukan milik satu orang atau milik pemerintah saja, tetapi Kota Kupang adalah rumah bersama,” ujar Chris, Kamis, 17 September 2026.
Ia menilai keberadaan komunitas yang bergerak secara mandiri menunjukkan bahwa masyarakat dapat mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan lingkungan tanpa harus selalu menunggu pemerintah.
“Komunitas Beta Bersih ini tidak pernah bertanya apa yang negara kasih kepada kita, tetapi apa yang bisa kita kasih duluan kepada negara,” katanya.
Christian berharap lomba kebersihan tidak hanya mendorong kelurahan berlomba mendapatkan nilai terbaik ketika penilaian berlangsung. Lebih dari itu, kebersihan harus dipertahankan setelah lomba selesai hingga menjadi kebiasaan masyarakat.
“Juara sejati bukan hanya mampu menjaga kebersihan saat dinilai, tetapi mampu menjaga kebersihan sampai menjadi budaya dan kebiasaan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan para lurah bahwa keberhasilan menjaga kebersihan lingkungan bukan hasil kerja seorang lurah. Ada aparatur kelurahan, RT/RW, petugas kebersihan dan masyarakat yang ikut menentukan keberhasilan tersebut.
“Tidak ada Superman, yang ada superteam. Saya percaya pasti di balik kalian ada staf kelurahan, ada petugas RT, RW dan masyarakat. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih saya kepada mereka,” ujarnya.
Menurut Christian, menjaga lingkungan merupakan bagian dari pembangunan kota. Pembangunan tidak hanya berbicara tentang gedung, jalan maupun infrastruktur, tetapi juga menyangkut perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat.
“Satu selokan yang tidak lagi dipenuhi sampah, satu pekarangan yang selalu dibersihkan, satu pohon yang ditanam, satu warga yang sadar bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Itu adalah pembangunan sebuah kota,” tuturnya.
Ke depan, Chris mengusulkan agar mekanisme lomba kebersihan dikembangkan sehingga tidak hanya memberikan penghargaan kepada kelurahan dengan nilai tertinggi. Peningkatan capaian dibandingkan tahun sebelumnya juga dinilai penting untuk diperhitungkan.
“Bukan hanya tentang siapa yang paling tinggi, tetapi siapa yang meningkat paling banyak,” katanya.
Selain kategori peningkatan terbaik, ia mengusulkan kategori kelurahan terhijau, kelurahan dengan partisipasi masyarakat terbanyak, serta kelurahan dengan drainase atau selokan paling bersih.
Dalam lomba kebersihan antarkelurahan tersebut, Kelurahan Nunbaun Sabu meraih Juara 1, Kelurahan Oepura Juara 2, dan Kelurahan Liliba Juara 3.
Kelurahan Oebufu meraih Harapan 1, Kelurahan Batuplat Harapan 2, dan Kelurahan Naikoten 1 Harapan 3. Sementara itu, Kelurahan Nefonaek berada di peringkat 7, Merdeka peringkat 8, Oesapa Barat peringkat 9, dan Bonipoi peringkat 10.
Chris berharap penghargaan tersebut menjadi pemicu bagi seluruh kelurahan untuk terus meningkatkan partisipasi warga dalam menjaga kebersihan. Dengan demikian, gerakan kebersihan tidak berhenti setelah lomba berakhir, tetapi berkembang menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Kota Kupang.
(Lidia/*)