IDETORIAL.com, Kupang – Yayasan Ume Daya Nusantara (UDN) Kupang, terus mendorong peningkatan kapasitas jurnalis di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam memahami isu Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI), sekaligus memperkuat kemampuan jurnalis menghasilkan karya jurnalistik yang efektif, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik.
Upaya tersebut dilakukan UDN melalui Forum Media yang mempertemukan praktisi media, dan para jurnalis untuk membahas isu GEDSI serta tantangan pemberitaan di tengah perkembangan industri media yang semakin dinamis.
Forum ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus refleksi bagi para jurnalis agar isu gender, disabilitas, dan kelompok rentan tidak hanya ditempatkan sebagai pelengkap dalam pemberitaan, tetapi dapat diangkat secara lebih utuh dan proporsional.
Dalam diskusi bersama isu GEDSI dan perubahan iklim, Yayasan UDN Kupang menghadirkan praktisi media, mantan jurnalis kawakan Matheos Messakh sebagai pemateri.
Matheos mengatakan, jurnalis didorong untuk memiliki perspektif GEDSI ketika menentukan sudut pandang pemberitaan. Pemahaman tersebut dinilai penting agar pemberitaan tidak melahirkan stigma, diskriminasi, maupun penggunaan istilah yang dapat merugikan kelompok tertentu.
Selain membahas GEDSI, forum juga memberikan penguatan mengenai kiat jurnalistik efektif. Jurnalis diingatkan pentingnya ketajaman dalam menentukan angle, melakukan verifikasi informasi, menghadirkan sumber yang beragam, serta menyajikan data dan fakta secara akurat sehingga berita memiliki nilai informasi yang kuat bagi masyarakat.
Penguatan kapasitas tersebut juga menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi digital dan media sosial, jurnalis dituntut tidak hanya cepat dalam menyampaikan berita, tetapi juga mampu menjaga akurasi, independensi, keberimbangan, dan etika jurnalistik.
“Jurnalis, pada dasarnya merupakan seorang generalis yang dituntut memahami berbagai persoalan. Namun, ketika berhadapan dengan isu tertentu seperti GEDSI, dibutuhkan pengetahuan dan perspektif yang lebih mendalam,”terang Matheos.
Ia mengingatkan, keterbatasan wawasan terhadap suatu isu dapat menyebabkan misleading atau penyesatan informasi kepada publik, baik disengaja maupun tidak.
Karena itu, jurnalis perlu memastikan sudut pandang yang digunakan tidak justru memperkuat stigma maupun merugikan kelompok rentan.
Dorong Penyegaran Jurnalistik
Matheos juga menyoroti minimnya tradisi penyegaran dan kaderisasi dalam dunia pers di Indonesia. Ia membandingkannya dengan profesi lain yang memiliki mekanisme pelatihan dan peningkatan kapasitas secara berkala.
“Masalahnya di kita, di media ini yang seringkali tidak terjadi. Di Indonesia tidak ada semacam kaderisasi. Anak-anak lulusan komunikasi pun, belum tentu paham definisi dasar jurnalisme,” katanya.
Menurutnya, ilmu komunikasi dan jurnalisme tidak sepenuhnya sama. Karena itu, ketika pendidikan formal belum mampu menjawab seluruh kebutuhan profesi, forum diskusi dan penyegaran menjadi penting untuk mengingatkan wartawan terhadap dasar-dasar pekerjaannya.
“Karena pendidikan formalnya tidak jalan, maka penyegaran-penyegaran seperti ini sangat dibutuhkan. Supaya setiap tahun kita bisa ingat kembali ke dasar,” ujarnya.
Cross Editing Perlu Dihidupkan Kembali
Selain pemahaman isu, Matheos mendorong media membangun kembali budaya cross editing atau penyuntingan silang.
Menurutnya, pada masa awal bekerja sebagai wartawan, setiap tulisan tidak langsung diterbitkan. Naskah terlebih dahulu dibaca dan diedit oleh rekan kerja untuk menemukan kekurangan sekaligus meningkatkan kualitas tulisan.
Ia menilai proses tersebut bukan untuk mencari kesalahan wartawan, melainkan menjadi mekanisme pembelajaran agar penulis dapat melihat kelemahan tulisannya dari perspektif orang lain.
Budaya cross editing dinilai semakin penting di tengah media online yang mengutamakan kecepatan publikasi.
“Yang saya khawatirkan saat ini, media online yang tidak memiliki hierarki editing. Tulisan langsung naik. Kita tidak mau dikritik, kita pikir sudah bagus. Kalau begini terus kita tidak akan berkembang,” ungkapnya.
Matheos juga menegaskan tidak ada formula tunggal untuk menentukan lead atau teras berita terbaik.
“Tidak ada rumus lead terbaik. Yang ada adalah lead yang menjawab kenyataan, dan mampu menyampaikan pesan dengan baik. Itu lead terbaik,” jelasnya.
Karena itu, wartawan didorong terbuka terhadap kritik, mau mengevaluasi karya sendiri, serta membangun kebiasaan saling mengoreksi di lingkungan kerja media.
Media Berperan Angkat Isu Kelompok Rentan
Sementara itu, Wakil Direktur Yayasan UDN Kupang, Simon Sadi Open mengapresiasi peran jurnalis dalam mengangkat isu inklusi dan kelompok rentan. Menurutnya, kolaborasi dengan media sangat penting agar isu GEDSI, ketahanan pangan, perubahan iklim, dan kelompok rentan dapat disampaikan secara lebih tajam kepada masyarakat.
“Kami tidak akan bisa berjalan sendiri tanpa bantuan dan kolaborasi dari teman-teman jurnalis. Karena itu kami terus mengarahkan kebersamaan ini untuk berdiskusi, membagi cerita, dan memahami satu sama lain,” ujar Simon.
Ia mengatakan, salah satu fokus diskusi tahun ini adalah ketahanan pangan, perubahan iklim, dan kelompok rentan.
Menurut Simon, masyarakat sipil bersama pemerintah mulai menghadapi tantangan perubahan iklim dan ketahanan pangan. Kondisi tersebut membutuhkan dukungan media untuk membangun kesadaran publik, terutama terhadap kelompok yang paling rentan terdampak.
“Dari teman-teman jurnalis dan media lah, yang mempunyai wawasan kuat untuk membangun kesadaran masyarakat. Terutama pada kelompok rentan, mulai dari perempuan, penyandang disabilitas, anak-anak, dan kelompok minoritas. Mereka yang paling terdampak saat bencana datang,” tegasnya.
Simon juga menyoroti ancaman cuaca ekstrem, termasuk potensi kekeringan akibat El Nino yang perlu menjadi perhatian masyarakat NTT.
Karena itu, media dinilai memiliki posisi strategis dalam memberikan informasi mengenai risiko perubahan iklim sekaligus mendorong kesiapsiagaan masyarakat.
“Ini hal-hal yang perlu jadi diskusi kita. Bagaimana media bisa membagikan pengetahuan agar masyarakat siap menghadapi,” katanya.
Karya Jurnalistik Peserta Dianalisis Bersama
Untuk memperkuat kemampuan peserta, forum tersebut juga diisi dengan pembahasan teknik penulisan, perspektif pemberitaan, serta prinsip dasar jurnalistik.
Tulisan para peserta dianalisis bersama sebagai bagian dari proses pembelajaran. Melalui mekanisme tersebut, wartawan dapat mengenali kekuatan sekaligus kekurangan dalam karya jurnalistik yang dihasilkan.
Simon menambahkan, UDN juga mengumpulkan pemberitaan yang berkaitan dengan perdagangan orang maupun kelompok rentan untuk menjadi bagian dari dokumentasi dan laporan kepada lembaga mitra.
“Kalau ada berita yang menyentuh isu perdagangan orang atau kelompok rentan, itu akan kami kumpulkan dan laporkan. Kami senang kalau penulisnya sudah lama bersama kami dan punya kapasitas dari program ini,” jelasnya.
Melalui Forum Media, UDN berharap hubungan dengan insan pers tidak sebatas kerja sama publikasi, tetapi berkembang menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat kapasitas jurnalistik.
Pemahaman yang lebih baik terhadap GEDSI dan perubahan iklim diharapkan mendorong media menghasilkan pemberitaan yang tidak hanya cepat, tetapi juga akurat, berimbang, dan tidak memperkuat stigma terhadap kelompok rentan.
Dengan demikian, media dapat menjalankan peran lebih strategis sebagai penyampai informasi sekaligus bagian dari upaya membangun kesadaran publik dan mendorong masyarakat lebih siap menghadapi berbagai persoalan sosial dan perubahan iklim.
(Lid)