IDETORIAL.com, Jakarta – Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, mendorong perluasan kolaborasi dengan kota-kota di kawasan Asia Pasifik untuk mendukung pembangunan Kota Kupang yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Kerja sama antarkota dinilai penting untuk membuka akses terhadap inovasi, pertukaran pengetahuan, serta praktik terbaik dalam menjawab berbagai persoalan perkotaan, mulai dari transportasi, pengelolaan sampah, lingkungan hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Komitmen tersebut disampaikan Serena saat menghadiri The 46th CityNet Executive Committee (ExCom) Meeting yang dibuka Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, Selasa, 3 November 2026.
Pertemuan tingkat regional tersebut mempertemukan para pemimpin kota, pemerintah daerah, mitra strategis, dan perwakilan negara-negara Asia Pasifik untuk memperkuat kerja sama pembangunan perkotaan yang inklusif, resilien, dan berkelanjutan.
Serena mengatakan, partisipasi Kota Kupang dalam forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring kemitraan sekaligus mempelajari berbagai pendekatan pengelolaan kota yang telah diterapkan di daerah lain.
“Kota Kupang membutuhkan kolaborasi dan pertukaran pengalaman dengan kota-kota lain. Melalui forum CityNet ini, kita dapat belajar tentang inovasi pengelolaan kota, transportasi, lingkungan, pengelolaan sampah, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik,” ungkap Serena.
Menurutnya, berbagai pengalaman yang diperoleh dari forum tersebut dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan kebijakan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik Kota Kupang.
Ia berharap hubungan kerja sama yang terbangun melalui CityNet tidak berhenti pada pertemuan dan pertukaran gagasan, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui kolaborasi konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi referensi untuk mendorong pembangunan Kota Kupang yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memperkenalkan transformasi Jakarta sebagai kota yang mulai mengubah orientasi pembangunan dari kendaraan pribadi menuju kota yang lebih berpusat pada manusia, dengan dukungan transportasi publik terintegrasi dan penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Pramono mengakui Jakarta masih menghadapi sejumlah persoalan perkotaan, antara lain kemacetan, persoalan sampah, polusi udara, banjir, dan kesenjangan sosial.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah produksi sampah Jakarta yang mencapai sekitar 9.000 ton setiap hari. Untuk mengatasinya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan pembangunan tiga fasilitas pembangkit listrik tenaga sampah serta mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah modern, termasuk RDF Rorotan dan tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R).
Di sektor transportasi, Pemprov DKI Jakarta terus mengembangkan sistem transportasi publik yang terintegrasi dan inklusif guna meningkatkan mobilitas masyarakat serta mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Pramono berharap pertemuan CityNet tidak sekadar menghasilkan dokumen kesepakatan, tetapi juga melahirkan komitmen aksi, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama konkret antarkota.
Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengapresiasi inisiatif Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membangun kota yang lebih sehat, bersih, dan manusiawi. Menurutnya, pengembangan kawasan metropolitan Jakarta dapat menjadi salah satu referensi pembangunan perkotaan di Indonesia maupun kawasan Asia.
Presiden CityNet National Chapter Indonesia yang juga Wali Kota Tomohon, Caroll J.A. Senduk, turut menekankan pentingnya solidaritas dan kolaborasi antarkota dalam menghadapi tantangan pembangunan perkotaan yang semakin kompleks.
Rangkaian The 46th CityNet Executive Committee Meeting meliputi sesi Executive Committee, City Leaders Roundtable, kunjungan teknis ke sejumlah proyek unggulan Jakarta, serta penandatanganan komitmen kerja sama antarkota.
Melalui forum tersebut, pemerintah kota di kawasan Asia Pasifik diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam mengembangkan solusi berbagai persoalan perkotaan, termasuk pengelolaan lingkungan, transportasi, infrastruktur, tata kelola pemerintahan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Bagi Kota Kupang, keterlibatan dalam jaringan CityNet membuka peluang untuk memperluas kemitraan regional dan menyerap inovasi pembangunan yang dapat disesuaikan dengan kondisi daerah. Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam menghadirkan pelayanan publik dan lingkungan perkotaan yang lebih baik bagi masyarakat.
(Lidia)