IDETORIAL.com, Kupang – Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memacu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) agar tidak hanya mampu menghasilkan produk unggulan, tetapi juga siap membawa produk lokal menembus pasar global.
Dorongan tersebut dilakukan melalui Bootcamp UMKM Ekspor 2026 bertema “Berdaya Saing, Siap Mendunia” yang digelar BI NTT bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT serta Akademi Mudah Ekspor pada 14-15 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Ruang Nembrala, Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT itu diikuti 50 UMKM hasil kurasi dari 98 pendaftar.
Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso, dalam rilis tertulis, Kamis, 17 September 2026 mengatakan, peluang produk UMKM NTT untuk masuk pasar internasional harus diikuti dengan kesiapan usaha yang kuat.
Menurutnya, memiliki produk yang potensial saja belum cukup untuk menjadi eksportir. Pelaku usaha harus mampu menjaga kualitas, memenuhi standar pasar, menjamin kontinuitas produksi serta memahami kebutuhan calon pembeli.
“UMKM yang ingin masuk ke pasar global harus memiliki kesiapan usaha secara menyeluruh. Bukan hanya produknya yang bagus, tetapi juga harus mampu menjaga kualitas, memenuhi standar, menjaga kontinuitas produksi dan memenuhi kebutuhan pasar tujuan,” ujar Adidoyo.
Ia mengatakan penguatan kapasitas UMKM menjadi penting agar pelaku usaha tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi mampu mengembangkan produk menjadi komoditas yang memiliki daya saing dan pasar yang jelas.
“Yang kita dorong adalah bagaimana produk lokal NTT bisa naik kelas, memiliki pasar yang jelas dan mampu memenuhi komitmen kepada pembeli ketika masuk ke pasar yang lebih luas,” katanya.
Dalam bootcamp tersebut, peserta dibekali kemampuan untuk menjadi lebih buyer-ready atau siap menghadapi calon pembeli dari pasar internasional.
Materi yang diberikan mencakup pemetaan pasar, penyusunan harga dan penawaran komersial, manajemen risiko pembayaran, komunikasi dan negosiasi bisnis, penguatan profil usaha, katalog produk, pemasaran digital hingga presentasi penawaran ekspor atau export pitching.
Analis Fungsi Pelaksanaan dan Pengembangan UMKM KI & Syariah BI NTT, Reyza Lisembina B., mengatakan proses menjadi eksportir membutuhkan tahapan dan konsistensi.
“Menjadi eksportir bukan proses yang terjadi dalam waktu singkat, tetapi dibangun melalui kesiapan produk, ketepatan membaca pasar, konsistensi memenuhi standar, serta keberanian untuk terus belajar dan membuka jejaring baru,” ujarnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT, Zet Sony Libing, mengatakan daerah memiliki sejumlah produk unggulan yang berpotensi dikembangkan untuk pasar internasional.
“NTT memiliki produk unggulan yang berpotensi menjangkau pasar internasional. Potensi ini perlu didukung dengan kualitas yang konsisten, kapasitas produksi yang memadai, serta pemahaman terhadap kebutuhan pasar tujuan,” katanya.
Penguatan UMKM menuju pasar ekspor juga berlangsung di tengah tantangan perdagangan luar negeri NTT. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor NTT pada Januari-Juni 2026 mencapai USD32,03 juta, turun 10,62 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Meski demikian, NTT masih mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD29,78 juta pada periode tersebut.
Sejumlah produk daerah seperti pangan olahan, kopi, kemiri beserta turunannya dan wastra dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.
Adidoyo mengatakan sinergi antara BI, pemerintah daerah dan mitra pendamping diperlukan agar peluang tersebut dapat ditindaklanjuti dengan kesiapan bisnis yang lebih konkret.
“Sinergi ini penting agar UMKM tidak berjalan sendiri. Kita ingin mereka memiliki kemampuan membaca pasar, menyiapkan penawaran dan membangun komunikasi dengan calon pembeli sehingga peluang ekspor bisa ditindaklanjuti secara berkelanjutan,” ujarnya.
Bootcamp UMKM Ekspor 2026 selanjutnya menjadi bagian dari persiapan menuju business matching ekspor dalam ajang Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026 yang dijadwalkan berlangsung Oktober mendatang.
Melalui kegiatan tersebut, UMKM peserta diharapkan memiliki target pasar yang lebih jelas, materi penawaran yang lebih siap serta rencana tindak lanjut untuk menjajaki peluang kerja sama dengan calon pembeli internasional.
BI NTT menilai penguatan daya saing dan perluasan akses pasar UMKM menjadi bagian penting dalam mendorong produk lokal NTT memiliki nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus memperkuat kontribusi UMKM terhadap perekonomian daerah.
(Lidia/*)