IDETORIAL.com, Kupang – Kemudahan mengakses layanan keuangan belum otomatis membuat masyarakat semakin memahami cara mengelola keuangan. Di tengah pesatnya transaksi digital, Bank Indonesia justru melihat adanya pekerjaan rumah besar: akses terhadap layanan keuangan tumbuh lebih cepat dibandingkan pemahaman masyarakat terhadap risiko dan manfaatnya.
Kondisi itu tercermin dari perbedaan indeks inklusi dan literasi keuangan nasional yang disampaikan Bank Indonesia. Indeks inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen, sementara indeks literasi keuangan baru berada di angka 66,46 persen.
Terdapat kesenjangan 14,05 poin persentase antara keduanya, artinya, masyarakat yang telah menggunakan atau memiliki akses terhadap layanan keuangan jauh lebih banyak dibandingkan masyarakat yang benar-benar memahami produk dan layanan tersebut.
Kesenjangan inilah yang menjadi perhatian dalam kegiatan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) Series 5 Tahun 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis, 3 September 2026.
Mengusung tema “Money Wise, Future Rise”, kegiatan tersebut menyasar generasi muda dengan pesan bahwa kemampuan mengelola keuangan harus berjalan seiring dengan kemudahan akses terhadap layanan finansial.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Ari Setyo Wibowo, mengatakan peningkatan akses keuangan perlu dibarengi kemampuan masyarakat untuk menggunakan layanan tersebut secara bijak dan aman.
Indeks inklusi keuangan nasional meningkat dari 75,02 persen menjadi 80,51 persen. Sementara indeks literasi keuangan hanya meningkat dari 65,43 persen menjadi 66,46 persen.
“Artinya, semakin banyak masyarakat yang telah menggunakan layanan keuangan, tetapi belum semuanya memahami bagaimana mengelolanya secara bijak dan aman,” kata Ari Setyo Wibowo.
Bukan Sekadar Punya Rekening dan Aplikasi
Persoalan literasi keuangan menjadi semakin penting karena layanan finansial kini berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Masyarakat dapat melakukan pembayaran, mengakses kredit, menabung hingga membeli produk investasi melalui perangkat digital. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko. Tanpa pemahaman yang cukup, seseorang dapat mengambil keputusan keuangan hanya karena tergiur kemudahan, promosi atau iming-iming keuntungan tinggi.
Generasi muda menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian karena merupakan salah satu pengguna aktif ekosistem digital. Mereka tidak hanya berhadapan dengan berbagai pilihan produk keuangan, tetapi juga dengan derasnya informasi dan tawaran investasi di media sosial maupun platform digital.
“Di sinilah literasi keuangan menjadi penting,”tandas Ari Setyo Wibowo
Kemampuan menggunakan layanan keuangan tidak sama dengan kemampuan memahami risikonya. Seseorang bisa dengan mudah melakukan transaksi, tetapi belum tentu memahami bunga, biaya, risiko investasi, legalitas penyedia layanan maupun konsekuensi dari keputusan finansial yang diambil.
LIKE IT Dorong Generasi Muda Lebih Kritis
Melalui LIKE IT 2026, Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan, OJK dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) berupaya memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan.
Program kolaborasi dalam Forum Koordinasi Pengembangan Sektor Keuangan tersebut telah berjalan sejak 2021 dan dilaksanakan di berbagai daerah.
Di NTT, kegiatan diarahkan untuk memperkuat pemahaman generasi muda mengenai investasi yang sehat, legal dan berkelanjutan.
Generasi muda tidak hanya didorong untuk mampu mengatur pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga memahami risiko sebelum mengambil keputusan finansial. Pesannya sederhana: jangan membeli atau berinvestasi hanya karena mudah, populer, atau menjanjikan keuntungan besar. Legalitas dan risiko harus menjadi pertimbangan.
Dari Konsumtif ke Produktif
Di tengah budaya digital, tantangan keuangan generasi muda tidak hanya datang dari investasi ilegal.
Pola konsumsi impulsif juga menjadi persoalan. Dorongan mengikuti tren, memenuhi gaya hidup, hingga melakukan pembelian karena pengaruh lingkungan sosial dapat menggerus kemampuan menabung dan membangun aset untuk masa depan.
Karena itu, tema “Money Wise, Future Rise” tidak sekadar mengajak generasi muda mengenal produk keuangan. Lebih jauh, mereka didorong membangun kebiasaan finansial yang sehat: membedakan kebutuhan dan keinginan, menentukan prioritas, menyisihkan pendapatan serta mempertimbangkan risiko sebelum menggunakan produk keuangan.
Bagi BI, peningkatan literasi menjadi penting agar pertumbuhan inklusi keuangan tidak hanya menghasilkan masyarakat yang semakin banyak menggunakan layanan keuangan, tetapi juga masyarakat yang semakin cakap mengambil keputusan finansial.
Sebab, ketika akses keuangan semakin luas sementara pemahaman tertinggal, peluang ekonomi memang terbuka lebih besar—tetapi risikonya juga ikut membesar. Karena itu, tantangan berikutnya bukan sekadar membuat masyarakat bisa bertransaksi, melainkan memastikan mereka tahu apa yang sedang mereka lakukan dengan uangnya.
Di tengah indeks inklusi yang sudah mencapai 80,51 persen, pekerjaan rumahnya adalah mempersempit jarak dengan literasi yang baru mencapai 66,46 persen.
Generasi muda NTT diharapkan tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan digital, tetapi menjadi generasi yang cerdas membaca peluang, memahami risiko, dan mandiri menentukan masa depan finansialnya.
(Lid)