IDETORIAL.com, Kupang – Pemilihan Duta Literasi Keuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2026 tidak sekadar menjadi ajang kompetisi untuk menentukan figur terbaik, tetapi diarahkan menjadi bagian dari strategi memperluas edukasi keuangan kepada masyarakat.
Sebanyak 20 finalis yang mengikuti grand final diharapkan menjadi penggerak literasi keuangan yang mampu menularkan pengetahuan tentang sektor jasa keuangan hingga ke lingkungan masyarakat.
Langkah tersebut menjadi penting di tengah kesenjangan antara akses dan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan di NTT. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTT menunjukkan tingkat inklusi keuangan telah mencapai 92,78 persen, sedangkan tingkat literasi keuangan baru 67,71 persen.
Artinya, akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan sudah relatif luas, tetapi belum seluruhnya diikuti pemahaman yang memadai mengenai manfaat, risiko, serta cara memanfaatkannya secara tepat.
Kepala OJK Provinsi NTT, Yan Jimmy Hendrik Simarmata, mengatakan pemilihan Duta Literasi Keuangan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Bulan Inklusi Keuangan 2026. Melalui kegiatan ini, OJK ingin mendorong lahirnya agen edukasi yang dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai industri jasa keuangan.
Menurut Yan Jimmy, para finalis telah mendapatkan pembekalan mengenai tugas dan fungsi OJK, industri perbankan, pasar modal, industri keuangan nonbank, hingga aktivitas keuangan ilegal. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada para peserta, tetapi diteruskan kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Kami berharap dengan mereka telah dibekali pengetahuan mengenai OJK, perbankan, pasar modal, industri keuangan nonbank, termasuk aktivitas keuangan ilegal, mereka bisa menularkan pengetahuan yang telah dimiliki kepada masyarakat di sekitarnya,” kata Yan Jimmy saat membuka Grand Final Pemilihan Duta Literasi Keuangan Provinsi NTT Tahun 2026 di Hotel Aston Kupang, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, tingkat literasi keuangan NTT masih berada di bawah rata-rata nasional. Namun, berdasarkan pemeringkatan 38 provinsi, NTT berada pada posisi 15–16. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap berbagai produk dan layanan jasa keuangan.
Salah satu tantangan yang perlu diperhatikan adalah pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan syariah yang masih relatif terbatas. Hal ini berkaitan dengan karakteristik dan perkembangan ekosistem industri keuangan syariah di daerah.
Yan Jimmy menegaskan, peningkatan inklusi harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi. Sebab, masyarakat tidak cukup hanya memiliki rekening atau mengakses layanan keuangan, tetapi juga perlu memahami produk yang digunakan, risiko yang menyertainya, serta mampu membedakan layanan keuangan legal dan ilegal.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur NTT, Melki Laka Lena menekankan bahwa literasi keuangan harus memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Literasi bukan sekadar persoalan memiliki rekening, melainkan kemampuan mengelola dan memanfaatkan layanan keuangan secara bijak untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan mengembangkan usaha produktif.
Menurut Gubernur, edukasi keuangan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik ekonomi masyarakat NTT. Petani, misalnya, perlu memahami cara mengelola pendapatan hasil panen. Nelayan dan peternak membutuhkan pengetahuan untuk memanfaatkan pembiayaan dalam mengembangkan usaha, sementara keluarga perlu memiliki kemampuan merencanakan keuangan, menabung, serta mempersiapkan kebutuhan pendidikan dan masa depan anak.
Hal ini menjadi perhatian karena sekitar 60 persen masyarakat NTT bekerja di sektor pertanian. Karena itu, edukasi keuangan harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat dengan pendekatan yang sesuai kondisi dan kebutuhan mereka.
Gubernur juga mengapresiasi OJK NTT bersama seluruh lembaga jasa keuangan yang terus mendorong edukasi keuangan, termasuk melalui pemilihan Duta Literasi Keuangan. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada penentuan pemenang, tetapi dilanjutkan dengan pembinaan dan pemberian ruang bagi seluruh finalis untuk berkontribusi.
“Siapa pun yang terpilih tetap menjadi bagian dari gerakan literasi keuangan di seluruh NTT. Semua harus terus dibina dan diberi ruang untuk berkontribusi,” pesannya.
Harapan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pemilihan duta tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang keluar sebagai pemenang, tetapi juga sejauh mana para finalis mampu menjalankan peran sebagai penyambung informasi dan edukasi keuangan kepada masyarakat.
Dengan keterlibatan para duta, edukasi diharapkan dapat menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini masih memiliki keterbatasan pemahaman mengenai layanan keuangan, termasuk pelaku usaha mikro, petani, nelayan, peternak, dan keluarga di wilayah perdesaan.
Pada akhirnya, peningkatan literasi keuangan diharapkan tidak hanya memperluas pengetahuan masyarakat, tetapi juga membangun kemampuan mengambil keputusan keuangan secara bijak, memanfaatkan teknologi digital dengan aman, mengenali risiko penipuan, serta menciptakan peluang ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.
(Lidia)