IDETORIAL.com, Alor – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Timur (KPw BI NTT) mendorong jurnalis membangun narasi pariwisata yang kuat berbasis nilai lokal, kepercayaan publik, dan perjalanan bertanggung jawab.
“Rekan-rekan media dengan kompetensi jurnalistiknya bisa membangun perspektif pariwisata, bagaimana kearifan lokal dan potensi ekonomi menjadi sebuah narasi yang bernilai untuk masyarakat,”kata Deputi Kepala Perwakilan BI NTT, Ari Setyo Wibowo lewat zoom dalam pembukaan kegiatan Capacity Building Media yang digelar KPw BI NTT, Kamis, 15 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Konsultan Media dan Komunikasi, Gatot Widakdo dengan materi “Membangun Narasi Kuat untuk Pariwisata Nusa Tenggara Timur”.
Gatot dalam pemaparannya mengatakan, destinasi pariwisata dikenal karena pemandangannya, namun dipilih wisatawan karena ceritanya. Karena itu, narasi pariwisata tidak boleh berhenti pada promosi keindahan.
“Destinasi dikenal karena pemandangannya. Dipilih karena ceritanya. Narasi yang kuat menghubungkan tempat, manusia, makna, dan pengalaman,” kata Gatot
Menurut Gatot, pariwisata yang sehat tumbuh ketika ekspektasi pengunjung sejalan dengan realitas di lapangan.
Ia menyebut tiga pergeseran yang perlu dilakukan media. Pertama, dari iklan ke cerita. Kedua, dari viral ke percaya. Ketiga, dari kunjungan ke dampak.
Ia juga menegaskan, jangkauan tinggi memang berguna, namun reputasi destinasi dibangun dari akurasi, transparansi, dan konsistensi.
Narasi juga harus mengarahkan wisatawan agar menghormati warga, budaya, dan daya dukung lingkungan.
Gatot merumuskan narasi pariwisata dengan formula fakta yang terverifikasi, suara warga, konteks, dan manfaat publik. Media diminta tidak menyamaratakan NTT sebagai satu cerita tunggal.
“NTT bukan satu cerita tunggal. Setiap pulau, komunitas, dan tradisi memiliki konteks yang khas,” ujarnya.
Ia memetakan kekayaan NTT dalam empat klaster, yakni alam dan kehidupan, tradisi dan pengetahuan seperti tenun ikat dan sasando, ritme komunitas seperti kalender adat dan kuliner, serta keragaman identitas seperti bahasa dan kepercayaan antarwilayah.
Untuk memperkuat cerita, Gatot memperkenalkan kerangka 5M, yakni Manusia, Makna, Momen, Masalah, dan Masa Depan.
Kerangka ini dimulai dari siapa tokoh di pusat cerita, nilai lokal apa yang perlu dipahami, peristiwa apa yang membuat cerita aktual, tantangan nyata yang dihadapi, hingga tindakan apa yang bisa dilakukan bersama.
Ia juga menekankan kaidah jurnalistik sebagai fondasi. Kepercayaan disebut sebagai aset promosi paling tahan lama.
Prinsip tersebut meliputi akurasi, verifikasi, keberimbangan, independensi, hormat terhadap privasi, dan koreksi yang transparan.
Sebagai contoh, ia mengubah judul promosional “Pesona Tenun Ikat NTT” menjadi judul berbasis cerita “Di Balik Sehelai Tenun: Pengetahuan, Waktu, dan Masa Depan Perajin” dengan menekankan siapa pembuatnya dan makna motif menurut komunitas.
“Jurnalisme menjaga akuntabilitas. Humas membuka akses dan menjelaskan. Komunitas menjaga makna. Pariwisata tumbuh ketika ketiganya saling menghormati,” tutup Gatot.
(Lidia)
.