IDETORIAL.com, Alor – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT mencatat pertumbuhan ekonomi NTT pada Triwulan II 2026 mengalami perlambatan dan berada di bawah tingkat ekonomi nasional.
Kondisi ini dipaparkan oleh Ahmad Akhirul Fatoni, Ekonom Yunior BI Provinsi NTT dalam kegiatan Capacity Building Media, Kamis, 15 Oktober 2026.
Berdasarkan data BI, share ekonomi NTT terhadap nasional sebesar 0,62% dan terhadap Balinusra 22,32%.
Pada Triwulan II 2026, pertumbuhan tercatat 5,01%, melambat dibanding triwulan sebelumnya.
Sektor pendorong pertumbuhan terdiri dari konstruksi yang tumbuh 9,45% didorong akselerasi proyek strategis, perdagangan 13,64% ditopang indeks keyakinan konsumen yang kuat, dan ekspor 7,61% dari peningkatan volume ternak pada momen Iduladha.
Sementara sektor penahan adalah pertanian yang berkontribusi 29,40% namun produksi padi kontraksi 8,01% (yoy), administrasi pemerintahan 13,48% akibat perlambatan belanja APBN dari 16% menjadi 5,5%, investasi/PMTB 40,99% karena penurunan kredit investasi, dan konsumsi rumah tangga 63,29% yang melambat.
BI juga mencatat bencana gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026 berdampak pada perlambatan ekonomi. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi NTT diprakirakan tetap kuat pada 2026-2027 dengan forecast 3,9 – 5,9% pada 2026 dan 4,06 – 6,06% pada 2027.
“Pertumbuhan ekonomi NTT tetap kuat pada tahun 2026-2027 dengan pertumbuhan pada sektor utama yang terjaga, meski Triwulan II 2026 mengalami perlambatan dan berada di bawah tingkat ekonomi nasional akibat dampak gempa M7,7 dan kontraksi produksi padi.”jelas Fatoni.
Faktor pendorongnya, tambah Fatoni, adalah akselerasi rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, pemulihan pertanian dan perikanan, peningkatan kunjungan wisatawan yang mendorong akomodasi dan transportasi, serta hilirisasi komoditas unggulan.
Untuk sumber pertumbuhan baru, BI memetakan tiga prospek.
Pertama, pengembangan nilai tambah komoditas potensial seperti rumput laut, kelapa, dan porang. Kedua, FTZ sebagai katalis di koridor Kupang-Tenau, Atapupu-Motaain, Wini dan Motamasin yang berbatasan dengan Timor-Leste dan dekat Australia. Ketiga, Energi Baru Terbarukan (EBT) berbasis surya, angin, dan panas bumi.
Sejalan dengan upaya pemulihan melalui pariwisata, BI menghadirkan materi “Membangun Narasi Kuat untuk Pariwisata NTT” oleh Gatot Widakdo.
Gatot dalam penyampaiannya menegaskan bahwa pariwisata tidak cukup hanya dengan promosi keindahan. Destinasi dikenal karena pemandangannya, namun dipilih karena ceritanya.
Ia mendorong pergeseran dari iklan ke cerita, dari viral ke percaya, dan dari kunjungan ke dampak. Rumusnya adalah fakta yang terverifikasi, suara warga, konteks, dan manfaat publik.
“NTT bukan satu cerita tunggal. Setiap pulau memiliki konteks yang khas,” ujarnya.
Ia juga memperkenalkan kerangka 5M: Manusia, Makna, Momen, Masalah, dan Masa Depan, serta menekankan kaidah jurnalistik karena kepercayaan adalah aset
(Lidia)