IDETORIAL.com, Tabanan – Hamparan sawah di Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, tampak lengang selepas masa panen. Petak-petak tanah yang mulai mengering meninggalkan sisa jerami cokelat keemasan. Di beberapa sudut, asap putih mengepul pelan dari tumpukan jerami yang dibakar petani. Meski tampak sepi, di sinilah denyut nadi ketahanan pangan Bali bermula.
Di tengah gempuran alih fungsi lahan akibat pariwisata, Subak Bengkel tetap berdiri kokoh. Area irigasi seluas 335 hektare ini bukan sekadar hamparan sawah, melainkan benteng produksi pangan yang dikelola secara kolektif oleh sekitar 500 petani. Di sana, sebuah gedung baja seluas 200 meter persegi berdiri gagah. Di dalamnya, mesin vertical dryer berkapasitas 10 ton dan unit penggilingan padi (Rice Milling Unit) modern bersiap mengubah gabah menjadi beras berkualitas.
Namun, mesin-mesin canggih itu hanyalah alat. Tantangan sesungguhnya bagi petani muncul saat panen raya tiba: lonjakan pasokan yang kerap mencekik harga. Di titik kritis inilah, Badan Urusan Logistik (Bulog) hadir layaknya “malaikat pelindung”.
“Bamper” di Kala Harga Jatuh
Pande Putu Widia Paramata, Pengelola Subak Bengkel, menggambarkan peran Bulog dengan metafora yang sederhana namun mengena.
“Bulog itu ibaratnya ‘bamper’ untuk petani. Peran Bulog sangat terasa jika harga jatuh. Apalagi saat panen raya, hanya Bulog yang bisa membeli dengan kualitas apa pun sesuai standar,” ujar Pande.
Sebagai buffer atau penyangga, Bulog menjalankan tugas berat: menahan gejolak harga dari dua sisi. Di tingkat hulu, mereka menyerap gabah petani sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) agar petani tidak merugi. Di tingkat hilir, saat harga di pasar melambung, Bulog mengeluarkan cadangan beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) agar masyarakat tetap bisa makan tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
“Harga beras tidak pernah di atas HET (Harga Eceran Tertinggi) dan harga gabah tidak pernah di bawah HPP. Ini bukti sinergi kami berhasil,” tambah Pande.
Petani anggota Subak Bengkel, Made Sucitra, turut menyampaikan bahwa, bila usai masa panen, dan padi – padi yang dihasilkan telah terdistribusi hingga konsumen, lahan – lahan sawah pada kawasan Subak Bengkel juga dimanfaatkan pada diversifikasi tanaman seperti palawija. Pola tanam bergilir ini dilakukan untuk menjaga kesuburan tanah, mengurangi ketergantungan pada satu komoditas, serta meningkatkan pendapatan petani di luar musim panen padi.
“Setelah musim panen padi selesai, sebagian petani memanfaatkan lahan sawah untuk menanam jagung, kacang tanah, kedelai, hingga ubi-ubian,”ujar Made.
Namun, meskipun diversifikasi ini memberi ruang ekonomi tambahan, tantangan tetap muncul, terutama dalam hal akses pasar dan stabilitas harga. Hasil palawija sering kali tidak memiliki sistem penyerapan yang sekuat komoditas beras. Di sinilah peran Badan Urusan Logistik (Bulog) menjadi relevan, tidak hanya sebagai penyangga beras, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ketahanan pangan yang lebih luas.
Dengan memperkuat sistem distribusi dan memperluas jangkauan kebijakan pangan, Bulog berpotensi mendukung stabilitas pendapatan petani, yang tidak hanya bergantung pada padi. Hal ini penting agar transformasi menuju agribisnis berkelanjutan di Subak Bengkel tidak berhenti pada tingkat produksi, tetapi juga menyentuh aspek pemasaran dan kesejahteraan petani secara menyeluruh
Sergap: Hadir di Sawah, Bayar di Lokasi
Kepastian pasar adalah mimpi setiap petani. Ni Made Diah Ayu Wulandari, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat, menjelaskan bahwa sejak awal 2025, program Sergap (Serap Gabah Petani) telah menjadi penyelamat. Program ini memangkas mata rantai tengkulak yang sering kali mempermainkan harga.
Selain menjaga harga, inovasi program Sergap juga berperan dalam memperkuat cadangan pangan nasional. Gabah yang diserap akan diolah menjadi beras dan disimpan sebagai stok pemerintah, yang kemudian dapat digunakan untuk intervensi pasar jika terjadi gejolak harga.
“Melalui Sergap, Bulog menyiapkan jalan bagi petani. Mereka langsung mengambil gabah di lokasi dan bayar saat itu juga. Ini sangat membantu petani di desa-desa dampingan kami,” ungkap Diah.
Tak hanya urusan perut hari ini, Bulog juga mendukung keberlanjutan agribisnis di Subak Bengkel. Ketika petani mulai mendiversifikasi lahan dengan menanam jagung atau kedelai untuk menjaga kesuburan tanah, kehadiran lembaga penyangga seperti Bulog menjadi jaring pengaman agar pendapatan petani tetap stabil meski di luar musim padi.
Tiga Pilar untuk Bali
Pimpinan Wilayah Bulog Bali, M. Anwar, menegaskan bahwa peran mereka adalah instrumen negara untuk menjaga kedaulatan pangan. Ada tiga pilar yang mereka jaga dengan ketat: Ketersediaan, Keterjangkauan, dan Stabilisasi.
Anwar menjelaskan bahwa infrastruktur gudang Bulog kini telah menjangkau pelosok kabupaten/kota di Bali. Hal ini memastikan pangan tidak hanya ada secara stok, tetapi juga bisa diakses dengan mudah oleh warga.
“Bulog tidak sekadar penyedia stok, tapi memastikan keseimbangan dari hulu hingga hilir. Kami menjaga tiga pilar ini demi kepentingan produsen sekaligus konsumen,” tegas Anwar, saat ditemui, Kamis, 7 Mei 2026.
Keterjangkauan juga bukan hanya di lokasi atau wilayah sekitar, namun memiliki makna lebih luas, dengan sebaran infrastruktur gudang lintas provinsi kabupaten/kota, hingga di pelosok,
“Kalau bisa di bilang, Bulog itu stok nasional, dimana tempat produksi dapat membantu daerah lain yang tidak maksimal produksi, jadi makna keterjangkauan itu sangat luas,”tambah Anwar
Sinergi ini pun tak berjalan sendiri. Bulog terus menggandeng Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, TNI, hingga Polri untuk memastikan setiap butir beras sampai ke tangan yang membutuhkan.
Di balik hamparan sawah Subak Bengkel yang mulai retak menunggu musim tanam baru, ada harapan yang tetap terjaga. Harapan bahwa peluh petani akan terbayar layak, dan piring konsumen akan selalu terisi dengan harga yang bersahabat. (Lid)