IDETORIAL.com, Kupang – Wakil Wali Kota Kupang sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Ekonomi Kreatif (Gekraf) Nusa Tenggara Timur (NTT), Serena Francis, menyambut pegiat ekonomi kreatif nasional yang juga merupakan Ketua DPC Gekraf Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Amsal Christy Sitepu, dalam perjalanan bertajuk 131 Hari Jelajah Nusantara dengan agenda membahas penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis kolaborasi.
Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk menyerap aspirasi para pelaku ekonomi kreatif di NTT sekaligus memetakan berbagai tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan subsektor ekonomi kreatif. Berbagai isu mengemuka, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, akses pembiayaan, pemasaran produk, hingga perlunya dukungan regulasi yang berpihak kepada pelaku usaha kreatif.
“Tidak hanya sebagai Wakil Wali Kota Kupang tapi juga sebagai Ketua Gekraf NTT berharap diskusi hari ini, kita dapat saling berbagi untuk merangkul dan berkolaborasi bersama dari sisi pemerintah maupun pelaku ekonomi kreatif di NTT,”kata Serena.
Membangun ekonomi kreatif tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas individu. Dibutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, media, hingga sektor swasta agar tercipta ekosistem yang mampu melahirkan inovasi dan membuka peluang usaha baru bagi generasi muda.
Serena turut menjelaskan bahwa, NTT memiliki kekayaan budaya, seni, kuliner, kriya, fesyen, musik, dan potensi pariwisata yang menjadi modal besar dalam pengembangan ekonomi kreatif. Menurutnya, potensi tersebut membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, dan media agar mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Sementara itu, Amsal Sitepu menjelaskan, program 131 Hari Jelajah Nusantara merupakan inisiatif untuk menjangkau berbagai daerah di Indonesia, bertemu langsung dengan komunitas dan pelaku ekonomi kreatif, serta menghimpun masukan yang dapat menjadi bahan penyusunan kebijakan maupun penguatan ekosistem ekonomi kreatif di tingkat nasional.
“131 Hari Jelajah Nusantara dirancang untuk mendengar langsung suara para pelaku ekonomi kreatif di berbagai penjuru Indonesia. Dari kota ke kota, menjemput aspirasi, memetakan persoalan, sekaligus mencari praktik-praktik baik yang dapat dikembangkan menjadi gerakan bersama,”terang Amsal.
Amsal menambahkan, setiap perjalanan bukan hanya tentang menempuh ribuan kilometer, tetapi juga tentang menemukan ide-ide besar dari daerah.
Sementara bagi Gekraf NTT, kunjungan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan memastikan potensi kreatif daerah tidak berhenti sebagai karya, tetapi tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
(LId)
Perjalanan panjang selama 131 hari mengelilingi Nusantara membawa pegiat ekonomi kreatif nasional, Amsal Christy Sitepu, tiba di Nusa Tenggara Timur. Di Kota Kupang, langkahnya disambut hangat Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Ekonomi Kreatif (Gekraf) NTT, Serena Francis, Sabtu, 1 Agustus 2026.
“Dengan diskusi hari ini, kita saling berbagi untuk merangkul dan berkolaborasi bersama dari sisi pemerintah maupun pelaku ekonomi kreatif di NTT,”kata Serena
Pertemuan itu bukan sekadar kunjungan silaturahmi, melainkan ruang bertukar gagasan tentang bagaimana ekonomi kreatif dapat menjadi penggerak pertumbuhan baru di wilayah kepulauan yang kaya akan budaya dan talenta lokal.
Bagi Amsal, setiap daerah memiliki cerita dan tantangan yang berbeda. Karena itu, program .
Di NTT, diskusi bersama Gekraf berlangsung dalam suasana terbuka. Beragam isu mengemuka, mulai dari penguatan kapasitas sumber daya manusia, akses pembiayaan, pemasaran produk kreatif, hingga pentingnya membangun jejaring yang mampu menghubungkan pelaku ekonomi kreatif daerah dengan pasar nasional bahkan internasional.
Serena Francis menilai NTT memiliki modal besar untuk berkembang sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif di kawasan timur Indonesia. Kekayaan tenun, musik tradisional, seni pertunjukan, kriya, kuliner, hingga destinasi wisata yang mendunia merupakan aset yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga nilai ekonomi jika dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
Menurut dia, Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk menyerap aspirasi para pelaku ekonomi kreatif di NTT sekaligus memetakan berbagai tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan subsektor ekonomi kreatif. Berbagai isu mengemuka, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, akses pembiayaan, pemasaran produk, hingga perlunya dukungan regulasi yang berpihak kepada pelaku usaha kreatif.
Semangat kolaborasi itulah yang menjadi benang merah dalam pertemuan tersebut. Gekraf NTT menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang yang mempertemukan para pelaku kreatif, memperkuat kapasitas mereka, serta membuka akses terhadap jejaring, pembiayaan, dan promosi.
Bagi Amsal Sitepu,
Dari Kupang, semangat kolaborasi itu kembali ditegaskan: ketika kreativitas bertemu jejaring yang kuat, ekonomi kreatif bukan sekadar konsep, melainkan jalan menuju pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.