IDETORIAL.com, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas meluncurkan Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak 2026–2030, sebagai panduan percepatan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia.
Dalam rilis tertulis, Sabtu, 25 Juli 2026, kerangka kerja ini menjadi acuan pelaksanaan program di tingkat pusat dan daerah untuk mendukung target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.
Data terbaru menunjukkan angka kematian ibu di Indonesia turun dari 189 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan Survei Penduduk 2020 menjadi 144 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan SUPAS 2025. Meski mengalami penurunan, pemerintah menilai masih terdapat kesenjangan akses dan kualitas layanan kesehatan antarwilayah yang perlu segera diatasi.
Pemerintah menargetkan pada 2029 angka kematian ibu turun menjadi 77 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi ditargetkan menjadi 9,96 per 1.000 kelahiran hidup.
Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas, Teni Widuriyanti, mengatakan penurunan angka kematian ibu dan anak merupakan prioritas nasional karena menjadi indikator penting kualitas pembangunan manusia.
Menurutnya, investasi pada kesehatan ibu dan anak akan berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dan memperkuat indeks modal manusia (Human Capital Index) sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebagai tindak lanjut, Bappenas bersama Kementerian Kesehatan akan melakukan diseminasi regional dan uji coba implementasi kerangka kerja di 10 provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai kementerian/lembaga agar intervensi penurunan kematian ibu dan anak dapat berjalan lebih efektif, terutama di daerah yang masih memiliki angka kematian tinggi.
Pelaksanaan kerangka kerja ini juga mendapat dukungan dari UNICEF, UNFPA, KOICA, DFAT melalui Program KITA SEHAT, serta IPAS. Salah satu langkah awal implementasinya adalah uji coba Project for Improving Maternal and Newborn Health in Papua of Indonesia, kolaborasi Pemerintah Indonesia, KOICA, dan UNICEF untuk memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di wilayah Papua.
Melalui kerangka kerja nasional tersebut, pemerintah berharap penguatan koordinasi lintas sektor, peningkatan kualitas layanan kesehatan, serta inovasi di daerah dapat mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak sekaligus mewujudkan layanan kesehatan yang lebih merata di seluruh Indonesia. (lid, UNFPA Indonesia))