IDETORIAL.com, Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyerahkan 50 unit perangkat rontgen dada digital ultra-portabel kepada Pemerintah Indonesia untuk memperkuat deteksi dini tuberkulosis (TBC), terutama di wilayah terpencil yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi pemeriksaan kesehatan.
Dukungan peralatan medis tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama kesehatan Amerika Serikat dan Indonesia. Penyerahan dilakukan dalam kunjungan Pejabat Senior Biro Keamanan dan Diplomasi Kesehatan Global (Bureau of Global Health Security and Diplomacy/GHSD) Departemen Luar Negeri AS, Jeff Graham, di Jakarta.
Dalam kunjungan tersebut, Graham bertemu dengan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, untuk membahas bantuan luar negeri Amerika Serikat bagi sektor kesehatan Indonesia serta tahapan lanjutan kemitraan kesehatan kedua negara.
Keduanya juga menyaksikan serah terima 50 unit perangkat rontgen digital yang disponsori Pemerintah Amerika Serikat. Peralatan tersebut berupa Impact-Global Digital X-Ray Kits produksi perusahaan Amerika Serikat, MinXray Inc., yang dilengkapi perangkat lunak Super Intelligence untuk membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi potensi kasus TBC.
Dukungan tersebut tidak hanya mencakup penyediaan perangkat, tetapi juga instalasi, pelatihan bagi tenaga kesehatan Indonesia, serta paket garansi dan layanan selama tiga tahun.
Selain untuk pemeriksaan TBC, teknologi rontgen portabel ini dapat dimanfaatkan secara terpadu untuk mendeteksi berbagai penyakit dan kondisi kesehatan lainnya. Dengan kemampuan tersebut, peralatan ini diharapkan memperluas jangkauan pemeriksaan medis, khususnya bagi masyarakat di komunitas terpencil dan wilayah yang belum memiliki fasilitas pemeriksaan memadai.
“Amerika Serikat dan Indonesia memiliki komitmen bersama untuk menghentikan penyebaran penyakit menular sebelum melintasi batas negara,”terang Graham
Ia mengatakan, bantuan tersebut merupakan bagian dari pendekatan kesehatan terpadu yang memungkinkan satu perangkat digunakan untuk mendeteksi berbagai penyakit dan kondisi kesehatan lainnya.
Graham berharap kerja sama kesehatan kedua negara terus diperdalam, tidak hanya untuk melindungi masyarakat Amerika Serikat dan Indonesia, tetapi juga membuka peluang bagi industri Amerika Serikat.
Menurutnya, deteksi TBC secara lebih dini, terutama di komunitas terpencil, penting untuk menekan risiko penularan penyakit lintas negara. Investasi Amerika Serikat dalam penanggulangan TBC, termasuk penguatan jaringan laboratorium, sistem pemantauan, dan penanganan resistansi obat, juga berpotensi menjadi landasan bagi peningkatan kesiapsiagaan serta respons terhadap pandemi penyakit yang ditularkan melalui udara.
“Sistem rontgen buatan Amerika Serikat ini akan membantu tenaga kesehatan Indonesia mendeteksi dan menangani TBC di komunitas yang sebelumnya belum memiliki akses terhadap teknologi ini,” ujar Graham.
Sebanyak 50 unit perangkat tersebut tiba di Indonesia pada 4 November 2026. Kementerian Kesehatan akan memimpin proses pendistribusian dan penempatan peralatan di berbagai lokasi pelaksanaan program penanggulangan TBC di seluruh Indonesia dengan dukungan Pemerintah Amerika Serikat.
Melalui penyediaan teknologi pemeriksaan portabel tersebut, kedua negara menargetkan penguatan deteksi dini dan surveilans penyakit sehingga penanganan TBC dapat menjangkau lebih banyak masyarakat sekaligus mengurangi risiko penularan lintas negara.
Selain agenda bersama Kementerian Kesehatan, Graham juga bertemu dengan perwakilan perusahaan Amerika Serikat di bidang kesehatan dan ilmu hayati yang beroperasi di Indonesia.
Pertemuan tersebut turut melibatkan perwakilan U.S.-ASEAN Business Council dan AmCham Indonesia. Pembahasan difokuskan pada upaya memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap teknologi medis dan obat-obatan asal Amerika Serikat, serta memperkuat kemitraan pemerintah dan sektor swasta dalam pembangunan sistem kesehatan Indonesia.
(Lidia/*)