IDETORIAL.com, Kupang Kinerja dunia usaha di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan akselerasi yang signifikan pada triwulan II 2026.
Dalam rilis tertulis BI NTT, Senin, 20 Juli 2026 menyatakan, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha mencapai 43,81 persen, melonjak dari 14,11 persen pada triwulan I 2026.
Capaian ini mencerminkan semakin bergairahnya aktivitas ekonomi di daerah, terutama ditopang sektor pertanian yang memasuki masa panen raya dan meningkatnya realisasi belanja pemerintah.
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi kontributor utama pertumbuhan dengan SBT sebesar 24,90 persen. Peningkatan tersebut didorong oleh puncak panen padi dan jagung musim tanam pertama, disertai berlanjutnya panen berbagai komoditas perkebunan.
Di saat yang sama, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib turut menguat dengan SBT 4,68 persen, seiring percepatan penyerapan anggaran APBN dan APBD memasuki pertengahan tahun.
Momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah dan libur sekolah pertengahan tahun juga memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi. Kondisi ini mendorong pertumbuhan sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang kembali berada di zona positif dengan SBT 1,01 persen, serta sektor Informasi dan Komunikasi yang mencatat SBT 2,29 persen akibat meningkatnya konsumsi masyarakat dan penggunaan layanan digital. Sementara itu, sektor Jasa Pendidikan turut memberikan kontribusi dengan SBT sebesar 3,82 persen.
Meski aktivitas usaha meningkat, tingkat kapasitas produksi terpakai pada triwulan II tercatat 70,67 persen, lebih rendah dibandingkan 77,28 persen pada triwulan sebelumnya. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi normalisasi aktivitas di sektor pertambangan, industri pengolahan, dan pertanian setelah berakhirnya musim tanam pertama. Kendati demikian, tingkat utilisasi yang tetap berada di atas 70 persen menunjukkan aktivitas produksi di NTT masih berada pada level yang cukup tinggi.
Dari sisi kondisi keuangan, pelaku usaha juga menunjukkan ketahanan yang baik. Likuiditas usaha tetap stabil dengan Saldo Bersih sebesar 19 persen, sedangkan tingkat rentabilitas meningkat menjadi 15,33 persen dari 13 persen pada triwulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan kemampuan pelaku usaha dalam menjaga arus kas dan meningkatkan keuntungan di tengah membaiknya aktivitas ekonomi.
Survei Bank Indonesia juga mencatat peningkatan signifikan pada investasi dunia usaha. SBT investasi melonjak menjadi 18,35 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan 4,06 persen pada triwulan I 2026. Lonjakan investasi terutama terjadi pada sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, Informasi dan Komunikasi, serta Real Estat, yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi NTT.
Di sisi pembiayaan, akses kredit juga mengalami perbaikan dengan Saldo Bersih sebesar 13 persen, naik dari 11 persen pada triwulan sebelumnya. Namun demikian, penggunaan tenaga kerja masih belum sepenuhnya pulih. SKDU mencatat SBT tenaga kerja sebesar minus 1,48 persen, dipengaruhi menurunnya kebutuhan tenaga kerja pertanian setelah masa panen dan belum optimalnya realisasi proyek infrastruktur pemerintah yang umumnya meningkat pada semester II.
Memasuki triwulan III 2026, pelaku usaha tetap optimistis meski memperkirakan laju pertumbuhan akan sedikit melambat. Kegiatan usaha diproyeksikan tetap berada di zona ekspansi dengan SBT sebesar 31,25 persen, ditopang oleh sektor pertanian, informasi dan komunikasi, perdagangan, serta administrasi pemerintahan. Pada periode tersebut, penggunaan tenaga kerja diperkirakan kembali tumbuh positif dengan SBT 8,72 persen, sementara tekanan harga jual diproyeksikan mereda seiring meningkatnya pasokan hasil panen gadu.
Secara keseluruhan, hasil SKDU Bank Indonesia menunjukkan bahwa fondasi ekonomi NTT pada triwulan II 2026 semakin menguat. Penguatan sektor pertanian, meningkatnya investasi, membaiknya akses pembiayaan, serta optimisme pelaku usaha menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah pada semester kedua tahun 2026. (lid)