GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
rutinitas warga Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur

Merdeka 81 Tahun, Setetes Air Masih Jadi Perjuangan Warga Linamnutu

IDETORIAL.com, TTS – Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika langkah-langkah itu mulai terdengar. Di pundak dan tangan mereka tergenggam jerigen-jerigen kosong yang sebentar lagi akan dipenuhi air. Bukan untuk dijual, melainkan untuk bertahan hidup.

Pemandangan itu menjadi rutinitas warga Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Di desa yang dihuni sekitar 600 kepala keluarga itu, air bersih masih menjadi barang yang harus diperjuangkan setiap hari.

Bagi sebagian warga, perjalanan mencari air bukan sekadar berjalan beberapa ratus meter. Mereka harus menyusuri jalan tanah di sepanjang saluran irigasi bendungan dengan jarak yang bisa mencapai lima kilometer. Jerigen-jerigen yang dibawa pulang menjadi penentu apakah keluarga mereka bisa minum, memasak, mandi, atau mencuci pada hari itu.

Saat ditemui, Senin 3 Agustus 2026, Erna Sopaba, warga Dusun II Desa Linamnutu, mengatakan kebutuhan air untuk minum hanya bisa diperoleh dari sumur dangkal milik salah satu warga sekitar yang diperbolehkan untuk mengambil, namun sumur itupun memanfaatkan rembesan air irigasi. Sementara untuk mandi dan mencuci, warga mengandalkan aliran irigasi.

“Kalau air minum kami ambil di sumur dangkal yang sumbernya dari irigasi. Untuk mandi dan cuci, kami ambil langsung dari irigasi. Paling jauh kami berjalan sekitar lima kilometer lewat jalan tanah di sepanjang saluran bendungan,” ujar Erna.

Inflasi NTT Juli 2026 Terkendali di Level 2,43 Persen, Waingapu Tertinggi

Perjalanan itu harus dilakukan berulang kali, terutama saat kebutuhan air meningkat atau ketika musim kemarau membuat debit air semakin kecil. Tidak ada pipa yang mengalir ke rumah-rumah warga, tidak ada keran yang bisa dibuka kapan saja. Setiap tetes air adalah hasil dari tenaga, waktu, dan kesabaran.

Di saat sebagian besar masyarakat Indonesia mulai memasang bendera Merah Putih dan mempersiapkan berbagai perlombaan menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, warga Linamnutu masih disibukkan dengan rutinitas mencari air.

Bagi mereka, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Air adalah penentu kehidupan. Digunakan untuk minum, memasak, mandi, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan ternak. Ketika kemarau datang, perjuangan itu menjadi semakin berat karena sumber air semakin terbatas.

Ironi itu terasa begitu nyata. Di usia Indonesia yang memasuki 81 tahun kemerdekaan, masih ada warga yang belum menikmati akses terhadap kebutuhan dasar. Kemerdekaan belum sepenuhnya hadir dalam bentuk layanan publik yang paling mendasar: air bersih.

Meski demikian, harapan warga tetap sederhana. Mereka berharap pemerintah dapat membangun beberapa titik sumur bor atau menghadirkan infrastruktur air bersih agar masyarakat tidak lagi harus berjalan berkilometer sambil memikul jerigen.

Penyaluran KUR di Kota Kupang Tembus Rp600 Miliar

“Kami berharap, ada sumur bor atau bak penampung yang dapat dibuat pemerintah untuk permudah mendapatkan air,”pinta Erna.

Bagi warga Linamnutu, hadiah kemerdekaan bukan hanya kemeriahan upacara, lomba tujuh belasan, atau pesta rakyat. Kemerdekaan akan terasa lebih berarti ketika air bersih mengalir lebih dekat ke rumah-rumah mereka. Ketika anak-anak tak lagi ikut mencari air sebelum berangkat sekolah, dan para ibu bisa menggunakan waktunya untuk keluarga, bukan menghabiskan berjam-jam di jalan demi memenuhi kebutuhan air.

Menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia, kisah dari Desa Linamnutu menjadi pengingat bahwa makna kemerdekaan tidak hanya diukur dari bertambahnya usia bangsa, tetapi juga dari sejauh mana setiap warga negara dapat menikmati hak-hak dasar secara setara.

Di desa kecil di selatan Pulau Timor itu, harapan masih dibawa bersama setiap jerigen yang dipikul. Warga percaya, suatu hari nanti mereka tak lagi menapaki jalan panjang demi setetes air. Sebab bagi mereka, air bersih bukan sekadar kebutuhan hidup, melainkan wujud nyata kemerdekaan yang selama ini mereka nantikan.

(Lid)

Pekan Menyusui Sedunia 2026, UNICEF – WHO Ajak Perkuat Dukungan ASI bagi Ibu dan Bayi

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement