GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, OJK Waspadai Tekanan Global dan Inflasi

IDETORIALcom, Jakarta – Perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan tetap stabil dan mampu menjalankan fungsi intermediasi untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK pada 26 Agustus 2026 yang diumumkan di Jakarta, Senin, 7 Agustus 2026.

OJK mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2026 sebesar 5,61 persen, pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh investasi, belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga.

Namun, OJK mengingatkan bahwa tekanan eksternal masih menjadi risiko yang perlu diantisipasi.

Sarjito Resmi Pimpin Pengawasan Bursa Mineral, OJK Bidik Indonesia Jadi Penentu Harga Komoditas

Risiko geopolitik di Timur Tengah masih tinggi seiring berlanjutnya konflik di Iran dan penutupan Selat Hormuz. Gangguan terhadap jalur distribusi energi tersebut berpotensi memicu volatilitas harga minyak dan komoditas sekaligus mempertahankan tekanan inflasi global.

Tekanan tersebut diperburuk oleh fenomena El Nino yang berkepanjangan. Kekeringan dan kebakaran hutan di sejumlah kawasan meningkatkan risiko gagal panen yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga pangan global.

Di tengah situasi tersebut, pertumbuhan ekonomi global juga cenderung melambat. Mayoritas negara mencatatkan perlambatan ekonomi pada triwulan II-2026.

Tiongkok, misalnya, mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 4,3 persen yoy pada triwulan II-2026. Data terkini juga menunjukkan pelemahan masih terjadi pada sektor produksi maupun permintaan domestik negara tersebut.

Sementara itu, Amerika Serikat menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja yang mulai termoderasi dan inflasi yang masih tinggi meski menunjukkan tren penurunan.

AJI Desak Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Liput Erupsi Anak Krakatau

Tekanan juga datang dari pasar keuangan global. Imbal hasil obligasi pemerintah negara maju terus meningkat, antara lain dipengaruhi kebutuhan pendanaan belanja modal perusahaan hyperscalers di tengah kebijakan moneter yang masih restriktif.

Kondisi tersebut turut mendorong keluarnya dana nonresiden dari pasar keuangan sejumlah negara berkembang.

Di dalam negeri, tekanan ekonomi tercermin dari inflasi Agustus 2026 yang mencapai 3,19 persen yoy. Aktivitas manufaktur juga masih berada di zona kontraksi dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) berada pada level 49,8.

Ketahanan eksternal Indonesia turut mengalami moderasi. OJK mencatat neraca perdagangan masih mengalami defisit pada Juni 2026, sementara defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2026 meningkat menjadi 3,3 persen dari PDB.

Meski menghadapi tekanan tersebut, OJK menilai sektor jasa keuangan masih berada dalam kondisi stabil. Fungsi intermediasi sektor keuangan tetap berjalan dan diharapkan mampu mendukung aktivitas ekonomi serta memperkuat momentum pertumbuhan nasional.

Thomas Davin Pimpin UNICEF Indonesia, Bawa Pengalaman Inovasi Global dari 120 Negara

Kondisi ini menjadi penting karena sektor keuangan memiliki peran strategis dalam memastikan pembiayaan tetap mengalir ke dunia usaha, investasi dan konsumsi ketika ekonomi global menghadapi ketidakpastian yang semakin tinggi.

(Lid/OJK)

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement