IDETORIAL.com, Kupang – Wali Kota Kupang, Chris Widodo, menegaskan bahwa ajaran agama harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat, nilai-nilai keagamaan tidak boleh berhenti pada pelaksanaan ibadah dan ritual, tetapi harus tercermin dalam kepedulian sosial, semangat berbagi, serta upaya menjaga kerukunan dan lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri Perayaan Sannipata (Dharmasanti) Waisak Tingkat Kota Kupang Tahun 2570 BE yang diselenggarakan Perkumpulan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Kota Kupang, Kamis, 16 Juli 2026.
Dalam sambutannya, Chris mengapresiasi berbagai kegiatan sosial yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Waisak, seperti donor darah, bakti sosial, aksi peduli lingkungan, dan kunjungan ke panti sosial. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa ajaran agama mampu diwujudkan dalam bentuk kepedulian terhadap sesama.
“Nilai agama harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Donor darah, bakti sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan bentuk nyata pengamalan ajaran agama yang membawa manfaat bagi sesama,” ujar Chris.
Ia menilai, organisasi keagamaan memiliki peran strategis dalam membangun karakter masyarakat, sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi. Karena itu, Pemerintah Kota Kupang berkomitmen terus mendukung berbagai kegiatan keagamaan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Chris juga menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia yang memiliki karakter, moral, dan semangat hidup berdampingan dalam keberagaman.
Menurutnya, Kota Kupang sebagai Kota Kasih harus terus dirawat melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun budaya.
“Persatuan bukan berarti menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama dalam perbedaan. Keberagaman bukan penghalang, melainkan kekuatan yang mempersatukan kita untuk membangun Kota Kupang sebagai rumah bersama,” katanya.
Pada kesempatan itu, Chris juga mengapresiasi kehadiran Yang Mulia Bhante Jagaro Mahathera di Kota Kupang. Ia mengaku memperoleh pelajaran berharga dari percakapannya dengan Bhante mengenai pentingnya pengendalian diri.
“Menunda kesenangan bukan berarti menolak kebahagiaan, tetapi melatih diri agar tidak dikendalikan oleh keinginan. Nilai sederhana ini mengandung makna yang sangat mendalam dan layak menjadi inspirasi bagi kita semua,” ujarnya.
Ketua Permabudhi Provinsi NTT, Indra Effendy, mengatakan Perayaan Trisuci Waisak menjadi momentum untuk menghayati nilai cinta kasih dan kasih sayang universal sebagaimana tema Waisak tahun ini, “Dharma Menjaga Kedamaian Dunia.”
“Rangkaian peringatan Waisak di Kota Kupang tidak hanya diisi kegiatan keagamaan, tetapi juga aksi sosial seperti donor darah, bakti sosial, aksi peduli lingkungan, dan kunjungan ke panti sosial,”terang Indra.
Kegiatan-kegiatan sosial tersebut merupakan wujud nyata pengamalan Dharma dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus kontribusi umat Buddha dalam mendukung terwujudnya Kota Kupang yang damai, harmonis, dan sejahtera.(lid)