GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Sekjen AJI Indonesia, Bayu Wardhana

AI Tak Gantikan Jurnalis, Tapi Bisa Mengubah Cara Kerja dan Model Bisnis Media

IDETORIAL.com, Kupang — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah cara kerja industri media.

Teknologi ini mampu membantu jurnalis mengolah informasi dalam jumlah besar dan mempercepat pekerjaan redaksi. Namun, AI tidak serta-merta menggantikan kerja jurnalistik yang bertumpu pada liputan lapangan, wawancara, verifikasi, dan penilaian editorial.

Hal ini dikemukakan Sekretaris Jendral (Sekjen) AJI Indonesia, Bayu Wardhana dalam paparan diskusi publik Konferta V AJI Kupang dengan tema “Tantangan Kerja Jurnalistik di Tengah Gempuran AI”, Jumat, 28 Agustus 2026.

Gagasan tersebut, tambah Bayu, menjadi salah satu pokok utama dalam materi AI dan Jurnalisme: Ancaman, Asisten, Peluang, dan Sumber Pendapatan Baru. Hal ini menegaskan bahwa posisi AI seharusnya ditempatkan sebagai penguat kerja jurnalis, bukan sebagai pengganti jurnalis.

“Dalam praktiknya, AI memang memiliki kemampuan untuk menghasilkan teks, merangkum dokumen, serta mengolah informasi dengan cepat. Tetapi kemampuan tersebut tidak dapat menggantikan pengalaman langsung seorang jurnalis ketika berada di lapangan,”tandas Bayu.

Wawali Serena dan Kepsek SMK Maritim Nusantara Temui Gubernur, Bahas Laga Nasional

Observasi, wawancara dengan narasumber, konfirmasi fakta, membaca situasi, hingga membangun akses kepada sumber merupakan bagian dari proses jurnalistik yang tetap membutuhkan manusia.

Karena itu, ketergantungan berlebihan terhadap materi yang beredar di internet justru dapat menjadi ancaman bagi kualitas pemberitaan. Berita yang hanya mengandalkan informasi daring berisiko menjadi seragam dan dangkal, sekaligus rentan terhadap halusinasi AI, kesalahan konteks, informasi kedaluwarsa, maupun penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

AI Mempercepat Kerja Redaksi

Di sisi lain, AI dapat menjadi asisten yang membantu jurnalis menghemat waktu dalam pekerjaan yang bersifat repetitif.

Teknologi ini dapat digunakan untuk mencari dan memetakan informasi dari dokumen publik, laporan, arsip, hingga kumpulan data berukuran besar. AI juga dapat membantu mengelompokkan dokumen, menemukan pola, menandai informasi yang relevan, serta melakukan transkripsi dan pencarian kata kunci dari rekaman wawancara maupun konferensi pers.

Dalam pekerjaan analisis awal, AI dapat membantu membandingkan angka, menyusun kronologi, membaca tren, dan menemukan kemungkinan anomali. Untuk kebutuhan redaksional, teknologi tersebut juga dapat membantu membuat kerangka tulisan, menyusun alternatif judul, membuat ringkasan, serta memeriksa struktur tulisan.

Flores Pascagempa, Indosat Salurkan Bantuan dan Pastikan Akses Komunikasi Warga

Namun, seluruh proses tersebut tetap membutuhkan kontrol manusia. Verifikasi, pengecekan terhadap sumber primer, konfirmasi kepada narasumber, serta keputusan editorial tidak dapat begitu saja diserahkan kepada mesin.

“Prinsipnya sederhana: AI menghemat waktu, sedangkan jurnalis menggunakan waktu yang dihemat itu untuk memperdalam liputan,”terang Bayu.

Ketika Konten Generik Semakin Mudah Dibuat

Penggunaan AI juga membuka peluang bagi media untuk meningkatkan kapasitas produksi tanpa harus mengorbankan standar jurnalistik.

Dalam kerja investigasi berbasis data, misalnya, AI dapat membantu membaca ribuan dokumen dan menemukan petunjuk awal yang mungkin sulit ditemukan secara manual. Hasil liputan juga dapat dikembangkan ke dalam berbagai format, mulai dari artikel, infografik, audio hingga video.

AI bahkan dapat membantu redaksi memantau perkembangan isu dan perubahan percakapan publik dengan lebih cepat.

Konferta V Lahirkan Ketua-Sekretaris AJI Kota Kupang Terpilih, Siap Tata Organisasi 2026-2029

Kondisi tersebut justru membuat nilai jurnalisme berkualitas semakin penting. Ketika konten generik dapat diproduksi dengan mudah oleh mesin, pembeda media bukan lagi semata-mata kecepatan mempublikasikan berita.

Nilai tersebut bergeser pada orisinalitas, kredibilitas, eksklusivitas, konteks, dan kepercayaan pembaca.

AI Bisa Membuka Sumber Pendapatan Baru

Perubahan akibat AI tidak hanya menyentuh proses produksi berita, tetapi juga berpotensi mengubah model bisnis media.

Media dapat mengembangkan produk data premium berupa database, dashboard, riset sektoral, maupun analisis berbasis data. Selain itu, tersedia peluang untuk mengembangkan layanan riset dan intelligence yang membantu organisasi memahami isu, regulasi, industri, dan tren.

Model berlangganan berbasis AI juga dapat dikembangkan melalui layanan pencarian arsip, ringkasan isu, dan personalisasi konten. Media juga dapat menawarkan produk pengetahuan seperti laporan khusus, briefing, newsletter, dan insight tematik.

Namun, monetisasi tersebut tetap harus bertumpu pada aset utama perusahaan media, yakni data, arsip, keahlian, dan kepercayaan. Pengelolaan data juga perlu memperhatikan aspek hak cipta dan privasi.

Bukan AI Versus Jurnalis

Pada akhirnya, hubungan antara AI dan jurnalis tidak seharusnya dilihat sebagai pertarungan antara manusia dan mesin.

AI memiliki keunggulan dalam kecepatan, pengolahan informasi dalam skala besar, serta otomatisasi. Sementara jurnalis tetap memiliki peran utama dalam melakukan liputan, wawancara, verifikasi, dan menentukan penilaian editorial.

Kolaborasi keduanya dapat menghasilkan berita yang lebih cepat, lebih mendalam, lebih relevan, sekaligus memiliki nilai lebih bagi publik.

Masa depan jurnalisme, karena itu, tidak ditentukan oleh kemampuan jurnalis untuk mengalahkan AI dalam hal kecepatan. Justru sebaliknya, teknologi tersebut perlu dimanfaatkan untuk mengurangi pekerjaan repetitif dan mempercepat pengolahan informasi.

Waktu yang diperoleh kemudian dikembalikan kepada pekerjaan yang menjadi inti jurnalisme: turun ke lapangan, melakukan investigasi, memverifikasi fakta, membangun sumber, serta menghadirkan data, konteks, analisis, dan eksklusivitas.

Dengan semakin mudahnya konten dibuat menggunakan teknologi, nilai berita yang benar-benar orisinal dan terpercaya justru semakin tinggi.

“AI mempercepat kerja. Tetapi jurnalis tetap menentukan apa yang layak dipercaya,”tutup Bayu.

(Lid)

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement