IDETORIAL.com, Kupang – Pemerintah Kota Kupang menilai kolaborasi antara pemerintah dan gereja menjadi kunci dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat.
Sinergi tersebut diperlukan agar kemajuan teknologi tidak hanya mendorong inovasi, tetapi juga tetap berlandaskan nilai-nilai iman, moral, dan kemanusiaan.
Komitmen itu disampaikan Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Pelt, saat mewakili Wali Kota Kupang membuka Sinode Distrik XVII Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Indonesia Bagian Timur Tahun 2026 di Hotel Kristal Kupang, Selasa, 4 Agustus 2026.
Dalam sambutannya, Jeffry menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kota Kupang sebagai tuan rumah penyelenggaraan Sinode Distrik XVII HKBP Indonesia Bagian Timur. Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai daerah menjadi momentum mempererat persaudaraan sekaligus memperkenalkan Kota Kupang sebagai Kota Kasih.
Ia mengatakan, sinode bukan sekadar forum organisasi gereja, tetapi juga ruang strategis untuk menyatukan visi pelayanan dan melahirkan gagasan yang mampu menjawab tantangan zaman. Karena itu, tema sinode yang mengangkat kecerdasan buatan dinilai sangat relevan dengan perkembangan teknologi saat ini.
“Teknologi berkembang sangat cepat. Tantangannya bukan lagi bagaimana menghindarinya, tetapi bagaimana menggunakannya secara bijaksana agar memberi manfaat bagi kehidupan dan pelayanan. Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Kami membutuhkan kolaborasi bersama gereja, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat,” ujar Jeffry.
Menurutnya, Pemerintah Kota Kupang terus membuka ruang sinergi dengan lembaga-lembaga keagamaan dalam mendukung pembangunan, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia berharap rekomendasi yang dihasilkan dalam sinode tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami siap berkolaborasi dengan berbagai gagasan yang lahir dari sinode ini. Gagasan yang baik tidak cukup hanya disimpan, tetapi harus diwujudkan demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan bersama,” katanya.
Sementara itu, Praeses HKBP Distrik XVII Indonesia Bagian Timur, Pdt. Christian Sitompul, mengatakan perkembangan kecerdasan buatan merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. Menurutnya, gereja perlu memanfaatkan teknologi tersebut sebagai instrumen pendukung pelayanan tanpa mengesampingkan nilai-nilai iman.
“Kita tidak mungkin menolak perkembangan kecerdasan buatan. Yang harus kita lakukan adalah menjadikannya sebagai alat yang mendukung pelayanan, menambah pengetahuan, dan membawa manfaat bagi gereja serta masyarakat tanpa mengabaikan nilai-nilai iman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu fokus pembahasan Sinode Distrik XVII HKBP Indonesia Bagian Timur Tahun 2026 adalah transformasi pelayanan gereja di era digital, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung pelayanan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Sinode yang diikuti peserta dari Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan Tengah, Papua Barat Daya, hingga Papua Selatan itu dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari dengan agenda sidang, seminar tematik, penyusunan program pelayanan, serta perumusan rekomendasi strategis bagi penguatan pelayanan HKBP di Indonesia Bagian Timur.
(Lid)