GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, S.H., saat membuka Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Tahun 2026

Sekolah Lapang Cuaca Bekali Nelayan Kupang Hadapi Risiko Cuaca Ekstrem

IDETORIAL.com, Kupang – Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terus memperkuat budaya sadar cuaca di kalangan nelayan melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Tahun 2026.

Program ini diharapkan membekali nelayan dengan kemampuan membaca dan memanfaatkan informasi cuaca maritim sebagai langkah antisipasi menghadapi cuaca ekstrem sekaligus meningkatkan keselamatan saat melaut.

“Kami, Pemkot Kupang mengapresiasi konsistensi BMKG menyelenggarakan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan ini, sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir dalam memahami informasi cuaca sebelum melaut,”kata Sekda Kota Kupang, Jeffry Pelt, saat buka kegiatan, Selasa, 4 Agustus 2026

Menurutnya, perkembangan teknologi telah memudahkan nelayan memperoleh informasi cuaca secara cepat dan akurat. Jika sebelumnya nelayan mengandalkan pengalaman membaca arah angin, posisi bintang, dan tanda-tanda alam, kini informasi ilmiah dari BMKG menjadi dasar penting dalam menentukan waktu yang aman untuk melaut.

Jeffry mengingatkan bahwa tujuan utama seorang nelayan bukan hanya memperoleh hasil tangkapan, tetapi juga kembali ke rumah dengan selamat. Karena itu, ia meminta para peserta memanfaatkan pelatihan tersebut untuk meningkatkan kemampuan membaca informasi cuaca dan menjadikannya sebagai dasar dalam mengambil keputusan sebelum berlayar.

OJK Terbitkan POJK Baru, Perkuat Pengawasan dan Tata Kelola Industri Pinjaman Daring

“Pemerintah Kota Kupang berkomitmen terus memperkuat sinergi bersama BMKG, Dinas Perikanan, Basarnas, TNI AL, Polairud, dan seluruh pemangku kepentingan agar informasi cuaca semakin mudah diakses oleh masyarakat pesisir,” tambah Jeffry.

Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang, Yandri Tungga, menjelaskan bahwa penyelenggaraan SLCN Tahun 2026 dilatarbelakangi karakteristik Nusa Tenggara Timur sebagai wilayah kepulauan dengan jumlah masyarakat pesisir dan nelayan yang besar.

Para peserta pelatihan diharapkan dapat menjadi agen informasi di lingkungan masing-masing dengan membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada nelayan lain sehingga semakin banyak masyarakat pesisir yang memahami pentingnya memperhatikan prakiraan cuaca sebelum beraktivitas di laut.

“Dengan pemanfaatan layanan informasi BMKG, setidaknya dapat mendukung aktivitas melaut yang lebih aman dan produktif,”terang Yandri.

Ketua Tim Manajemen Operasi dan Kerja Sama Meteorologi Maritim BMKG, Yuli Kartiningsih,, mengatakan Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi kelautan yang besar, namun juga menghadapi risiko tinggi akibat perubahan cuaca yang sangat dinamis.

Distribusi Obat di NTT Diperkuat, APL Resmikan Gudang Baru di Kupang

Melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, BMKG berupaya membangun budaya sadar cuaca agar nelayan tidak hanya mampu mengakses informasi prakiraan cuaca, tetapi juga memahami serta menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan sebelum melaut.

“Program ini juga diharapkan mampu mewujudkan nelayan yang hebat, selamat, dan sejahtera,”harap Yuli

Sebanyak 34 peserta mengikuti pelatihan ini, terdiri atas 25 nelayan dari Kelurahan Lasiana, lima nelayan Kampung Solor, dan empat penyuluh perikanan. Mereka mendapatkan materi mengenai prakiraan cuaca maritim, tinggi gelombang, peringatan dini cuaca ekstrem.

(Lid)

36 Casis Paskibraka Kota Kupang Jalani Pemusatan Latihan

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement