IDETORIAL.com, Kupang – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mencatat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi dalam lima tahun terakhir.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik, 5 Agustus 2026, mencatat rata-rata laju pertumbuhan penduduk NTT mencapai 1,60 persen per tahun, menunjukkan jumlah penduduk terus bertambah seiring masih tingginya angka kelahiran.
Kondisi tersebut diperkuat oleh Total Fertility Rate (TFR) yang tercatat sebesar 2,72 anak per perempuan. Angka ini masih berada di atas replacement level atau tingkat penggantian penduduk sebesar 2,1 anak per perempuan.
“Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan penduduk di NTT masih terus berlangsung dan struktur penduduk didominasi kelompok usia muda,”terang Kepala BPS NTT, Matamira Kale.
Di sisi lain, rasio ketergantungan penduduk mencapai 54,92. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 55 penduduk usia belum produktif maupun lanjut usia. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang dalam memanfaatkan bonus demografi melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penciptaan lapangan kerja.
Indikator kesehatan penduduk juga menunjukkan perkembangan positif. Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate/IMR) terus mengalami penurunan hingga mencapai 22,21 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup. Penurunan tersebut mencerminkan perbaikan layanan kesehatan ibu dan anak, meski upaya peningkatan kualitas pelayanan masih perlu terus diperkuat.
Sementara itu, mobilitas penduduk di NTT memperlihatkan tren yang beragam. Sebagian besar kabupaten mencatat migrasi risen neto positif, yang berarti jumlah penduduk yang masuk lebih banyak dibandingkan yang keluar. Sebaliknya, Kota Kupang mencatat migrasi risen neto negatif sebesar -8,21, mengindikasikan arus perpindahan penduduk keluar lebih besar dibandingkan yang masuk.
Meski jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat, NTT hingga kini belum memasuki fase ageing population. Persentase penduduk berusia 60 tahun ke atas tercatat sebesar 9,94 persen, masih berada di bawah ambang batas 10 persen yang umumnya digunakan sebagai indikator suatu wilayah memasuki era penduduk menua.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa NTT masih memiliki peluang memaksimalkan bonus demografi, dengan catatan peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan produktivitas tenaga kerja dapat terus dipacu,”tutup Matamira.
(Lid)