GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
apat Koordinasi Pengentasan Kemiskinan dan peluncuran Program Gerakan Taruna Unggul dan Berdaya (Garuda)

Program Garuda Jadi Model Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan di Kupang

IDETORIAL.com, Kupang – Program Gerakan Taruna Unggul dan Berdaya (Garuda) didorong menjadi model baru, pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat di Kota Kupang.

Melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan Karang Taruna, program ini diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal dan menerapkan konsep ekonomi sirkular.

“Pengentasan kemiskinan tidak dapat bergantung pada bantuan sosial semata, tetapi harus dilakukan melalui program pemberdayaan yang mampu menciptakan masyarakat mandiri secara ekonomi,”kata Wali Kota Kupang, Chris Widodo dalam Rapat Koordinasi Pengentasan Kemiskinan yang dirangkaikan dengan peluncuran Program Garuda, Kupang, 9 Juli 2026.

Menurutnya, Program Garuda menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghasilkan solusi berkelanjutan bagi masyarakat. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa limbah dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi, yang membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Pendekatan seperti itu, katanya, lebih berdampak dalam memutus rantai kemiskinan karena membangun kapasitas masyarakat untuk berproduksi dan menciptakan nilai tambah.

535 Pelari Ramaikan Independence Night Run di Kupang

Ia menegaskan Pemerintah Kota Kupang siap mendukung keberlanjutan Program Garuda, melalui penguatan koordinasi dengan Karang Taruna, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

“Pemkot mendukung penuh. Kami akan terus membangun koordinasi lintas sektor agar program pemberdayaan pemuda ini berjalan semakin masif dan benar-benar berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Kupang,” tegasnya.

Data jumlah penduduk miskin di NTT mencapai sekitar 1,03 juta jiwa, meski angka kemiskinan ekstrem berhasil ditekan menjadi 6,96 persen. Kondisi itu menjadi tantangan bersama yang membutuhkan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Fauzan, mengatakan, perguruan tinggi di NTT harus memperkuat kolaborasi dan menghasilkan program-program yang memberikan dampak nyata, bukan hanya sebatas kajian akademik.

“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menjadi penyelesai masalah (problem solver), bagi berbagai persoalan masyarakat, termasuk kemiskinan dan pengangguran,”tandas Prof. Fauzan.

OJK Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Perluas Lingkup Unit Karbon di Bursa

Rektor Undana, Prof. Jefri S. Bale, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat melalui kolaborasi pentahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.

“Tagline Kemendikti Sainstek adalah Berdampak. Ini merupakan kontrak sosial bahwa seluruh aktivitas perguruan tinggi harus memberikan dampak konkret bagi masyarakat. Peluncuran Program Garuda menjadi momentum membangun Nusa Tenggara Timur yang lebih kuat, inklusif, dan berkeadilan,” tutup Jefri. (Lid)

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement