IDETORIAL.com, Kupang – Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan kinerja yang cukup stabil pada Triwulan III-2025, meskipun menghadapi tekanan secara kuartalan. Berdasarkan data terbaru, besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp 36,97 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 20,45 triliun.
Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), ekonomi NTT pada Triwulan III-2025 tumbuh sebesar 4,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Pertumbuhan ini didorong terutama oleh sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 13,89 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan signifikan sebesar 19,54 persen.
“Ekonomi NTT triwulan III-2025 tumbuh sebesar 4,88 persen, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024 (y-on-y),”kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Matamira Kale dalam rilis, Selasa, 5 Mei 2026.
Namun demikian, jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi NTT mengalami kontraksi sebesar 1,79 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang terkontraksi cukup dalam sebesar 11,46 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa juga mengalami kontraksi terdalam sebesar 13,03 persen.
Secara kumulatif, perekonomian NTT selama Triwulan I hingga III tahun 2025 masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,01 persen (cumulative-to-cumulative/c-to-c). Sektor perdagangan besar dan eceran kembali menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dari sisi lapangan usaha dengan kenaikan sebesar 12,79 persen. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,88 persen.
Dari sisi struktur ekonomi, perekonomian NTT pada Triwulan III-2025 masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi sebesar 27,58 persen. Adapun dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi mencapai 66,25 persen.
“Bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi NTT pada triwulan III-2025 mengalami kontraksi sebesar 1,79 persen,”jelas Matamira
Kondisi ini menunjukkan bahwa, meskipun sektor eksternal seperti ekspor memberikan dorongan pertumbuhan yang kuat secara tahunan, ketergantungan terhadap sektor primer dan konsumsi domestik, masih menjadi ciri utama struktur ekonomi NTT.
Pemerintah daerah diharapkan dapat terus mendorong diversifikasi ekonomi untuk memperkuat ketahanan terhadap fluktuasi musiman dan tekanan eksternal. (*)