GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam menginisiasi pembangunan Graha GMIT Eklesia Batam.

Serena Francis Inisiasi Graha GMIT Eklesia Jadi Rumah Aman Pekerja Migran

IDETORIAL.com, Batam – Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam menginisiasi pembangunan Graha GMIT Eklesia Batam sebagai rumah aman, pusat pemulihan, dan pemberdayaan bagi pekerja migran yang menghadapi persoalan di perantauan.

Urgensi pembangunan fasilitas tersebut tergambar dari data Lembaga Jaringan Safe Migran soal meningkatnya kasus yang menimpa pekerja migran Indonesia (PMI).

Data menunjukkan jumlah kasus yang ditangani lembaga itu meningkat dari 164 kasus pada 2024 menjadi 448 kasus pada 2025. Kenaikan sekitar 173 persen dalam setahun ini menunjukkan besarnya kebutuhan terhadap layanan perlindungan dan pendampingan bagi pekerja migran.

Serena Francis mengatakan, pembangunan Graha GMIT Eklesia Batam bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik, tetapi menyediakan ruang aman, persaudaraan, dan kesempatan baru bagi pekerja migran yang membutuhkan pertolongan, khususnya mereka yang kembali dari Malaysia dan Singapura melalui Batam.

“Bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam, kami ingin menghadirkan tempat yang aman bagi saudara-saudara yang menghadapi kesulitan di perantauan. Melalui pendampingan dan pelatihan, kita berharap mereka dapat pulang dengan harapan serta kesiapan untuk hidup mandiri,” kata Serena.

Pemilihan Duta Literasi Keuangan, Strategi OJK Perluas Edukasi di NTT

Komitmen pembangunan graha tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama pada 1 November 2026 di Batam. Serena juga menegaskan komitmennya untuk mendukung pembangunan melalui keterlibatan Pemerintah Kota Kupang dan jejaring mitra yang dimilikinya.

Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Sanep Blegur, mengapresiasi inisiatif Serena Francis bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam. Menurutnya, pembangunan graha merupakan wujud pelayanan kasih gereja yang tidak hanya berorientasi pada kehidupan spiritual, tetapi juga menjawab persoalan sosial masyarakat.

“Kami mengapresiasi inisiatif Ibu Serena Francis bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam. Kita berharap rumah ini menjadi tempat saudara-saudara kita diterima, dipulihkan, dan dikuatkan untuk kembali membangun kehidupan,” ujarnya.

Graha GMIT Eklesia Batam direncanakan memiliki luas bangunan 1.033 meter persegi dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp5,27 miliar, termasuk kelengkapan fasilitas. Bangunan ini akan dilengkapi dormitori perempuan dan laki-laki dengan kapasitas total 56 orang, ruang konseling, administrasi, pembinaan dan belajar, ruang makan, pantry, serta area rekreasi.

Selain itu, tersedia 12 kamar guest house berkapasitas 24 orang, lobi, area komunal, dan taman tengah. Graha juga dilengkapi aula multifungsi yang dapat menampung 200 orang untuk kegiatan ibadah, 150 orang untuk seminar, atau 100 orang untuk pelatihan.

Sumpah Pemuda ke-98, Pemkot Kupang Tekankan Tiga Karakter

Pelayanan graha akan dikembangkan melalui empat pilar utama, yakni rumah aman, pusat pemberdayaan, pusat pembinaan jemaat, dan pusat budaya Indonesia Timur. Keempat pilar tersebut dirancang agar fasilitas ini tidak hanya menjadi tempat penampungan sementara, tetapi juga menyediakan pendampingan, pemulihan, pembinaan, dan peningkatan keterampilan bagi pekerja migran.

Sanep berharap pembangunan dan keberlanjutan pelayanan graha mendapat dukungan berbagai pihak melalui semangat kebersamaan dan gotong royong. Ia menilai perlindungan pekerja migran membutuhkan keterlibatan gereja, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat luas.

Gagasan pembangunan Graha GMIT Eklesia Batam turut mendapat dukungan Deputi BP Batam Fary Francis, anggota DPR RI Saraswati Djojohadikusumo, Pemerintah Kota Batam, serta Pengurus PGI Wilayah Kepulauan Riau.

Dukungan tersebut diharapkan berkembang menjadi kolaborasi yang lebih luas dengan melibatkan dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan. Dengan demikian, graha ini diharapkan menjadi ruang perlindungan dan pemulihan bagi pekerja migran Indonesia sekaligus membantu mereka membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah menghadapi persoalan di perantauan.

(Lidia)

Prokopim Kupang Didorong Perkuat Kualitas Publikasi

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement