IDETORIAL.com, Kupang – Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis bersama Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) dan Komunitas Relawan Indonesia Sejahtera (KRIS), memperkuat upaya deteksi dini tuberkulosis (TBC) di Kota Kupang.
Hingga pertengahan Oktober 2026, skrining pemerintah telah menjangkau sekitar 4.800 orang dan menemukan 230 kasus.
Serena menegaskan, pemberantasan TBC membutuhkan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, keluarga, dan lingkungan sekitar. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan Kolaborasi Kesehatan Masyarakat untuk Pemberantasan TBC di RSUD S.K. Lerik, Kota Kupang,
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum KOWANI Nanny Hadi Tjahjanto, perwakilan organisasi kesehatan dan perempuan, akademisi, tenaga kesehatan, pimpinan perangkat daerah, kepala UPTD Puskesmas se-Kota Kupang, serta mitra pelayanan masyarakat.
Menurut Serena, masyarakat perlu memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC dan menjalani pengobatan sesuai arahan tenaga kesehatan hingga tuntas.
“TBC bisa dicegah, diobati, dan disembuhkan. Karena itu, kita perlu melakukan deteksi dini dan memastikan pengobatan dijalani secara teratur sampai tuntas,” ujarnya, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengucilkan pasien TBC. Stigma dan rasa malu dapat membuat seseorang enggan memeriksakan diri, sementara dukungan keluarga dan lingkungan dibutuhkan agar pasien tetap menjalani pengobatan.
Serena menjelaskan, suplemen yang diberikan dalam kegiatan tersebut hanya merupakan dukungan tambahan dan tidak menggantikan obat maupun standar pengobatan TBC.
“Pemerintah sendiri sudah memiliki program penanganan TBC, sementara suplemen yang diberikan ini merupakan tambahan untuk membantu memperkuat daya tahan tubuh,” jelasnya.
Ketua Umum KOWANI Nanny Hadi Tjahjanto mengapresiasi kolaborasi tersebut. Ia mengatakan, organisasi perempuan dapat menjadi penggerak yang menghubungkan pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk memperluas manfaat program kesehatan.
“KOWANI merupakan organisasi penggerak. Kami tidak bisa bekerja sendiri, tetapi bisa membangun harmonisasi dan kolaborasi dengan pemerintah serta berbagai pihak untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Nanny.
Selain penanganan TBC, Nanny menyoroti program pembagian pembalut gratis bagi perempuan dari keluarga kurang mampu dan vaksinasi HPV gratis untuk mencegah kanker serviks yang dijalankan Pemkot Kupang.
Menurutnya, pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan perempuan turut mendukung keberlanjutan pendidikan anak perempuan. Keterbatasan ekonomi tidak seharusnya membuat mereka kehilangan kepercayaan diri atau terhambat mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Nanny juga membuka peluang kerja sama lanjutan agar program kesehatan perempuan di Kota Kupang dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi daerah lain.
Ia berharap gerakan pemberantasan TBC semakin kuat melalui kerja bersama dan dukungan sosial kepada pasien. Upaya tersebut perlu disertai perilaku hidup bersih serta lingkungan yang tidak memberikan stigma kepada orang yang sakit.
“Kita berharap melalui kolaborasi ini, tidak ada lagi masyarakat yang menderita TBC di Kota Kupang. Kita harus membangun budaya hidup bersih dan tidak mengucilkan orang yang sakit, sehingga mereka merasa nyaman untuk berobat,” katanya.
Pemerintah Kota Kupang menargetkan skrining menjangkau 7.100 orang hingga akhir November 2026. Kolaborasi lintas sektor ini juga mencakup pemberian suplemen tambahan bagi pasien TBC dan skrining kanker payudara sebagai bagian dari upaya memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya perempuan.
(Lidia)