IDETORIAL.com, Ciloto – Di dukung Global Health Security (GHS) Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, sebanyak 59 tenaga kesehatan Indonesia dinyatakan lulus Field Epidemiology Training Program (FETP) Frontline Angkatan 11 dan 12, setelah menjalani pelatihan berbasis lapangan untuk memperkuat kemampuan investigasi wabah, surveilans, dan analisis data, yang dilaksanakan di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Kementerian Kesehatan di Ciloto, Jawa Barat.
Para lulusan merupakan tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (Puskesmas) di Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Pelatihan tersebut yang telah dimulai sejak bulan Mei hingga September 2026, dengan kompetensi yang diperoleh diarahkan untuk memperkuat kemampuan tenaga kesehatan di lini pelayanan terdepan dalam mendeteksi, melaporkan, dan merespons ancaman kesehatan masyarakat.
Pelatihan tersebut turut mendukung target 7-1-7 Indonesia, yakni mendeteksi ancaman kesehatan dalam waktu tujuh hari, melaporkannya dalam satu hari, dan melakukan respons dalam tujuh hari.
Kepala Unit Kesehatan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Eni Martin, dalam rilis tertulis, Senin, 28 September 2026 mengatakan, tenaga kesehatan yang telah mengikuti pelatihan memiliki peran penting dalam perlindungan kesehatan masyarakat di tingkat lapangan.
“Hari ini, kita tidak sekadar menutup sebuah program pelatihan; kita meluluskan 59 penjaga kesehatan masyarakat yang berada di garis depan,” ujar Eni.
Menurut dia, kemampuan mendeteksi, melaporkan, dan merespons ancaman kesehatan secara cepat dan tepat menjadi bagian penting dari upaya bersama untuk melindungi masyarakat.
Program FETP Frontline merupakan bagian dari kemitraan Indonesia dan Amerika Serikat dalam bidang keamanan kesehatan. Pelaksanaannya melibatkan Kementerian Kesehatan, BBPK Ciloto, serta dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, dengan dukungan teknis dari CDC Indonesia.
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Dr. Sumarjaya, mengatakan keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kelulusan peserta, tetapi juga penerapan kompetensi setelah mereka kembali bertugas.
“Keberhasilan program FETP Frontline tidak hanya diukur dari selesainya pelatihan oleh para peserta, tetapi juga dari sejauh mana kompetensi yang mereka peroleh dapat diterapkan untuk meningkatkan surveilans secara nyata,” katanya.
Ia mengatakan kompetensi tersebut perlu digunakan untuk memperkuat kemampuan dalam mendeteksi, melaporkan, dan merespons ancaman kesehatan masyarakat secara lebih cepat dan efektif.
Usai menyelesaikan pelatihan, para lulusan bergabung dengan Asosiasi Epidemiolog Lapangan Indonesia. Mereka kemudian kembali menjalankan tugas di sejumlah wilayah, antara lain Serang, Tangerang, Bogor, Bandung Barat, Surabaya, dan Malang.
Kembalinya para tenaga kesehatan ke fasilitas pelayanan kesehatan di daerah masing-masing menjadi bagian dari upaya menerapkan kemampuan epidemiologi lapangan secara langsung untuk memperkuat surveilans dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kesehatan masyarakat.
(Lidia)