IDERORIAL.com, Borong– Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, menyebut Wali Kota Kupang, Christian Widodo, sebagai kepala daerah pertama dari wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tidak terdampak langsung bencana namun memilih datang menemui masyarakat korban gempa di Flores.
Pernyataan tersebut disampaikan Agas saat menerima kunjungan Wali Kota Kupang di Posko Penanggulangan Bencana Kabupaten Manggarai Timur, Borong.
Menurut Agas, kehadiran Christian bukan sekadar membawa bantuan, tetapi menunjukkan kepedulian dan solidaritas antardaerah terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
“Bapa Wali Kota menjadi kepala daerah pertama di NTT yang tidak terdampak yang sudah mau turun langsung melihat kami di sini. Kami merasa terhibur, karena masih ada saudara-saudara yang punya kepedulian terhadap duka kemanusiaan yang menimpa kami,” ujar Agas.
Agas mengaku terharu dengan keputusan Wali Kota Kupang datang langsung ke wilayah terdampak. Baginya, kehadiran seorang kepala daerah dari daerah yang tidak mengalami dampak langsung menjadi dukungan moral bagi masyarakat dan pemerintah daerah yang sedang menangani bencana.
Manggarai Timur merupakan kabupaten ketiga yang dikunjungi Christian dalam rangkaian perjalanan kemanusiaannya di Flores. Sebelumnya, ia mendatangi Manggarai Barat dan Manggarai untuk menyerahkan bantuan Pemerintah Kota Kupang bagi masyarakat terdampak gempa.
Christian menempuh perjalanan selama lima hari sejak tanggal 25-28 Agustus 2026 dengan mengunjungi enam kabupaten, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ende dan Sikka.
Bawa Bantuan Rp635 Juta
Dalam kunjungan tersebut, Christian membawa bantuan Pemerintah Kota Kupang senilai total Rp635 juta untuk masyarakat terdampak gempa di Flores.
Bantuan terdiri atas Rp500 juta yang bersumber dari Belanja Tidak Terduga (BTT) Pemerintah Kota Kupang serta Rp135 juta yang dihimpun melalui donasi ASN lingkup Pemkot Kupang dan aksi penggalangan dana melalui laga ekshibisi tinju di arena Pameran Pembangunan NTT.
Selain bantuan dana, Pemkot Kupang juga menyerahkan paket sembako untuk membantu kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Christian mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas masyarakat Kota Kupang kepada warga Flores yang sedang menghadapi dampak bencana.
“Bantuan ini adalah simbol solidaritas kami. Kami ingin menyampaikan pesan bahwa saudara-saudara kita di Flores tidak sendirian. Satu pulau terluka, yang lain siap membantu. Kemanusiaan tidak memiliki batas wilayah,” tegasnya.
Ia memilih mengantar sendiri bantuan tersebut agar dapat melihat secara langsung kondisi masyarakat sekaligus mengajak daerah lain ikut memberikan dukungan kepada warga terdampak.
“Kenapa saya harus datang sendiri? Karena saya ingin mengajak teman-teman dari daerah lain untuk ikut berpartisipasi memberikan bantuan kepada warga terdampak di Flores,” katanya.
Apresiasi Juga Datang dari DPRD NTT
Kepedulian Wali Kota Kupang juga mendapat apresiasi dari Anggota DPRD Provinsi NTT asal daerah pemilihan Manggarai Raya, Yohanes Rumat.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Christian yang memilih datang langsung ke wilayah terdampak bencana.
“Sebagai tuan rumah, saya menyampaikan terima kasih yang luar biasa kepada Bapak Wali Kota Kupang. Karena kesederhanaan, ketulusan dan nilai kemanusiaannya, beliau bisa turun ke wilayah terdampak bencana,” ujar Yohanes.
Yohanes bahkan memberikan penilaian khusus terhadap langkah Christian.
“Menurut saya, dari 22 kepala daerah kabupaten/kota, Wali Kota Kupanglah yang terbaik,” katanya.
Perjalanan Tak Berhenti di Enam Kabupaten
Perjalanan Christian tidak berlangsung tanpa hambatan. Selain menempuh jarak antarkabupaten dalam kondisi pascabencana, rombongan juga merasakan guncangan gempa susulan di Flores.
Saat hendak kembali ke Kupang dari Maumere, Kabupaten Sikka, penerbangan yang akan ditumpangi Christian dibatalkan akibat erupsi Gunung Lewotobi.
Rute kepulangan akhirnya diubah. Christian dan rombongan melanjutkan perjalanan darat menuju Larantuka, Flores Timur, untuk mencari alternatif penerbangan menuju Kupang.
Rombongan akhirnya kembali ke Kota Kupang melalui penerbangan dari Larantuka pada Sabtu (29/8).
Christian menegaskan, Kota Kupang memang tidak mengalami dampak langsung seperti sejumlah wilayah di Flores. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk menjauh dari masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
“Kita mungkin tidak ikut diguncang gempa, tetapi kita ikut merasakan penderitaan mereka,” ujarnya.
Bagi Christian, solidaritas dalam situasi bencana tidak mengenal batas wilayah administratif. Kehadiran langsung di tengah korban menjadi cara untuk menunjukkan bahwa masyarakat Flores tidak menghadapi bencana seorang diri. (Lid)