GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT), Adevi Sabath

Gejolak Pasar Modal Tak Hanya Dipicu MSCI, BEI NTT Soroti Faktor Global dan Domestik

IDETORIAL.com, Kupang– Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak semata-mata dipengaruhi pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), tetapi juga dipicu berbagai faktor global dan domestik, mulai dari kenaikan harga minyak, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed), hingga dinamika politik.

Hal ini dijelaskan Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT), Adevi Sabath, dalam Media Gathering, Jumat, 23 Oktober 2026, gejolak pasar modal harus dilihat secara menyeluruh karena pergerakan indeks saham dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan.

Menurut Adevi, pengumuman MSCI mengenai evaluasi status pasar modal Indonesia menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor. Namun, kondisi tersebut bukan satu-satunya penyebab tekanan terhadap IHSG.

“Penurunan IHSG itu tidak hanya disebabkan karena pengumuman dari MSCI. Ada kondisi global, harga minyak naik, kenaikan suku bunga dari The Fed, faktor geopolitik di luar negeri, juga politik di dalam negeri,” kata Adevi dalam pemaparannya kepada wartawan.

Ia menjelaskan, pengalaman ketika pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar saham dapat terjadi akibat kombinasi berbagai faktor, termasuk kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, dan ketidakpastian politik.

105 Catar SMK Maritim Nusantara Ditempa Jadi Pelaut Tangguh

Karena itu, menurut dia, dinamika pasar modal Indonesia saat ini perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya dengan melihat keputusan lembaga penyedia indeks global tersebut.

Adevi menjelaskan, MSCI menyoroti dua persoalan utama dalam evaluasi pasar modal Indonesia, yakni transparansi kepemilikan saham dan konsentrasi perdagangan. Kedua aspek tersebut menjadi perhatian dalam menilai keterbukaan serta aksesibilitas pasar bagi investor.

Menurut Adevi, otoritas pasar modal Indonesia telah melakukan berbagai langkah pembenahan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga terkait. Namun, reformasi tersebut perlu terus dilanjutkan agar transparansi dan tata kelola pasar modal semakin baik.

Ia menyebutkan, langkah pembenahan antara lain mencakup peningkatan batas minimum saham yang beredar di publik atau free float menjadi 15 persen serta penguatan keterbukaan informasi kepemilikan saham.

“Kita juga tidak menyangkal. Kalau ada masukan, kita akan perbaiki,” ujarnya.

Investor Pasar Modal Tumbuh, Akses di Kawasan Timur Perlu Diperluas

Adevi menilai, pembenahan tersebut penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memperkuat daya saing pasar modal Indonesia. Ia berharap langkah reformasi yang dilakukan otoritas dapat menjadi pertimbangan dalam evaluasi pasar Indonesia oleh MSCI.

Saham Perbankan Ikut Terdampak

Adevi juga menjelaskan, keputusan MSCI dapat memengaruhi pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi konstituen indeks tersebut. Sejumlah emiten besar Indonesia, termasuk perusahaan perbankan, masuk dalam kelompok saham yang diperhatikan investor global.

Ia menyebut saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII) sebagai beberapa emiten besar yang menjadi bagian dari pembahasan mengenai dampak evaluasi indeks MSCI.

Menurut Adevi, ketika sentimen negatif mendorong investor asing mengurangi kepemilikan saham, tekanan dapat merambat ke saham-saham berkapitalisasi besar dan memengaruhi pergerakan IHSG.

Meski demikian, ia menilai fundamental perusahaan tetap menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan investor dalam mengambil keputusan investasi.

KPEI Perkuat Penjaminan Transaksi Jaga Kepercayaan Investor

Adevi memaparkan, berdasarkan data yang disampaikan dalam presentasinya, sekitar 74 persen dari 962 perusahaan yang tercatat masih membukukan pertumbuhan laba. Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi salah satu indikator yang perlu dipertimbangkan dalam melihat prospek pasar modal Indonesia.

Ia juga menyoroti valuasi saham yang dapat berubah seiring pergerakan harga di pasar. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan kinerja perusahaan, risiko investasi, serta tujuan keuangan sebelum mengambil keputusan.

Investor Pasar Modal NTT Capai 292.572 SID

Di tengah dinamika pasar modal nasional, perkembangan jumlah investor di NTT juga menjadi perhatian BEI. Hingga September 2026, jumlah investor pasar modal di provinsi ini mencapai 292.572 Single Investor Identification (SID), dengan nilai aset sekitar Rp2,63 triliun.

Adevi menjelaskan, investor pasar modal memiliki pilihan instrumen yang beragam, tidak hanya saham, tetapi juga reksa dana dan obligasi. Berdasarkan data yang dipaparkannya untuk Juni 2026, investor saham tercatat sekitar 23,8 persen dari keseluruhan investor pasar modal di NTT.

Menurut dia, hasil pengamatan dalam kegiatan edukasi menunjukkan bahwa pelajar, mahasiswa, dan kelompok usia muda cenderung lebih aktif mengenal investasi saham. Sementara itu, sebagian masyarakat yang telah bekerja, termasuk aparatur sipil negara dan pegawai swasta, cenderung memilih instrumen seperti reksa dana atau obligasi.

Kondisi tersebut menjadi pertimbangan bagi BEI untuk memperluas edukasi pasar modal, khususnya kepada masyarakat yang telah memiliki penghasilan tetap.

“Kita perlu memperbanyak edukasi juga kepada teman-teman yang sudah punya pendapatan,” kata Adevi.

Ia menambahkan, keberadaan galeri investasi di lingkungan pendidikan ikut berkontribusi terhadap pengenalan pasar modal di kalangan pelajar dan mahasiswa. Melalui fasilitas tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi dan pembelajaran mengenai investasi secara lebih terarah.

Hingga September 2026, BEI NTT memiliki 23 galeri investasi, bertambah empat dari 19 galeri pada 2025. Sebanyak 15 galeri berada di perguruan tinggi, sedangkan delapan lainnya merupakan galeri investasi edukasi di tingkat SMA dan SMP.

Galeri investasi tersebut tersebar di sejumlah wilayah di NTT, termasuk Pulau Timor, Flores, dan Sumba. Namun, BEI masih berupaya memperluas jangkauan edukasi ke Kabupaten Rote Ndao dan Kabupaten Sabu Raijua yang belum memiliki galeri investasi.

Adevi mengatakan, pihaknya terbuka untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi maupun lembaga pendidikan di kedua wilayah tersebut. Menurut dia, keterbatasan ukuran kampus tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun galeri investasi.

Melalui perluasan edukasi dan peningkatan transparansi pasar modal, BEI berharap masyarakat NTT semakin memahami karakteristik berbagai instrumen investasi, mampu mengenali risiko, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang memadai di tengah dinamika pasar keuangan.

(Lidia)

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement