IDETORIAL.com, Kupang – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui penguatan UMKM, perluasan akses pembiayaan, pengembangan usaha pondok pesantren, dan pembukaan akses pasar.
Sepanjang 2026, rangkaian program pengembangan ekonomi syariah yang difasilitasi BI NTT menghasilkan penjualan UMKM sebesar Rp1,21 miliar. Selain itu, BI NTT bersama PT Bank Syariah Indonesia Tbk mencapai kesepakatan pembiayaan syariah senilai Rp1 miliar bagi UMKM Tahu Kejora.
Kepala Perwakilan BI NTT, Adidoyo Prakoso, Minggu, 18 Oktober 2026 dalam rilis tertulis mengatakan, pengembangan ekonomi syariah perlu diarahkan pada penguatan kegiatan ekonomi produktif, yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas, termasuk pelaku UMKM dan komunitas pondok pesantren.
“Pengembangan ekonomi syariah tidak hanya berkaitan dengan sektor keuangan, tetapi juga bagaimana membuka peluang usaha, memperluas akses pembiayaan, dan meningkatkan daya saing produk lokal. Potensi ini perlu dikembangkan agar menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi NTT,” kata Kepala BI NTT, Adidoyo Prakoso
Upaya tersebut dijalankan melalui rangkaian Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2026, yang meliputi bazar Ramadan, perlombaan Ramadan, serta Halal Festival dan Tabligh Akbar 2026 bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT.
Halal Festival dan Tabligh Akbar dihadiri lebih dari 4.000 pengunjung. Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan penjualan UMKM sebesar Rp1.218.148.000.
Selain memperluas akses pasar, BI NTT melaksanakan edukasi ekonomi dan keuangan syariah sepanjang semester I 2026. Kegiatan tersebut mencatatkan rata-rata tingkat pemahaman peserta sebesar 92,61 persen.
BI NTT juga memfasilitasi perluasan akses pembiayaan. Bersama PT Bank Syariah Indonesia Tbk, BI NTT mencapai kesepakatan pembiayaan syariah senilai Rp1 miliar bagi UMKM Tahu Kejora.
Menurut Adidoyo, sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah. Pendampingan usaha dan akses pembiayaan perlu berjalan beriringan agar pelaku UMKM dapat mengembangkan kapasitas usaha dan menjangkau pasar yang lebih luas.
“Sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga keuangan, pondok pesantren, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang berkelanjutan. Kami ingin pengembangan ini memberikan dampak nyata terhadap penguatan UMKM dan perekonomian masyarakat,” demikian draf kutipan kedua yang juga perlu dikonfirmasi kepada Adidoyo.
Pengembangan ekonomi syariah turut menyasar pondok pesantren. Pada 13 Oktober 2026, BI NTT mengikuti Silaturahim Pesantren ISEF 2026 secara daring bersama enam pondok pesantren mitra, yakni Walisanga Ende, Pancasila Reo, Ar-Rohimah Pota, Insan Kamil Flobamorata Labuan Bajo, Hidayatullah Batakte di Kabupaten Kupang, dan Al-Quran Cijantung 7 Alor.
Dua pondok pesantren mitra tersebut terpilih sebagai finalis Impactful Program Bank Indonesia tahun 2026.
Pondok Pesantren Walisanga Ende menjadi salah satu dari 80 finalis program Tani Berkah Indonesia dan memperoleh dukungan sarana greenhouse untuk budidaya hortikultura. Sebelumnya, pesantren tersebut mendapatkan pendampingan dalam penyusunan model bisnis, pencatatan laporan keuangan, serta pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha).
Sementara itu, Pondok Pesantren Pancasila Reo terpilih sebagai salah satu dari 200 finalis program Air Berkah Indonesia dan memperoleh dukungan sarana unit usaha air minum dalam kemasan (AMDK), setelah mendapatkan pendampingan penyusunan model bisnis dan survei kualitas air.
Pengembangan ekonomi syariah di NTT tersebut sejalan dengan penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 tahun 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 14–18 Oktober 2026. ISEF mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”.
Melalui berbagai program tersebut, BI NTT berupaya memperkuat ekosistem ekonomi syariah yang inklusif, mulai dari peningkatan literasi dan kapasitas usaha hingga perluasan pembiayaan dan akses pasar.
Atas konsistensi pelaksanaan program ekonomi syariah, BI NTT memperoleh penghargaan sebagai Penggiat Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT pada 2026.
(Lidia)