IDETORIAL.com, Kupang — UPTD Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar sosialisasi kain tenun Ngada di Aula UPTD Museum Provinsi NTT.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya nyata untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap nilai sejarah dan warisan budaya yang terkandung dalam kain tenun tradisional.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, saat membuka kegiatan, Kamis, 20 Agustus 2026 menegaskan bahwa, kain tenun Ngada bukan sekadar hasil kerajinan tangan biasa. Di dalam selembar kain tenun, terdapat nilai sejarah, filosofi, identitas, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
“Setiap motif, warna, dan teknik pembuatan kain tenun mencerminkan kehidupan, adat istiadat, serta jati diri masyarakat Kabupaten Ngada,” ujar Ambrosius.
Ia juga mengapresiasi program edukatif yang diinisiasi oleh UPTD Museum NTT dan mengajak generasi muda untuk bangga serta aktif menjadi duta budaya dalam mempromosikan kain tenun tradisional.
Senada dengan hal itu, Kepala Subbagian Tata Usaha UPTD Museum NTT, Paulus Nesi, S.ST, menjelaskan bahwa kain tenun Ngada memiliki perpaduan nilai estetika, sosial budaya, dan simbolik yang sangat kuat.
Melalui sosialisasi ini, pemerintah berharap generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga mampu memanfaatkan kain tenun secara kreatif tanpa mengabaikan nilai luhur di dalamnya.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal dan mencintai kain tenun tradisional sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan,” kata Paulus.
Kegiatan edukatif ini diisi dengan pemaparan materi oleh pakar kebudayaan yang kompeten di bidang tenun tradisional Ngada, disusul dengan sesi diskusi dan tanya jawab interaktif.
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai unsur penting, mulai dari pemerhati budaya, perwakilan perguruan tinggi, hingga organisasi perangkat daerah (OPD) terkait di wilayah NTT.
Melalui sinergi ini, kain tenun Ngada diharapkan dapat terus lestari dan diapresiasi oleh generasi sekarang maupun masa depan.
(Lidia)