IDETORIAL.com, Jogja — Jejak migrasi, perdagangan, pertukaran budaya, dan hubungan manusia dengan alam menjadi sumber penciptaan karya seniman Indonesia, Malaysia, dan Singapura yang dipertemukan di panggung Yogyakarta pada Oktober 2026.
Kolaborasi lintas negara tersebut melahirkan dua pertunjukan, Hutan dan Rumah dari Lidah, yang mengangkat keterhubungan sejarah serta warisan budaya masyarakat Asia Tenggara.
Hutan dipentaskan dalam Pesta Boneka pada 6–7 Oktober di Kampung Media, sedangkan Rumah dari Lidah dijadwalkan tampil dalam Bedog Arts Festival pada 9–10 Oktober di Studio Banjarmili.
Kedua karya itu merupakan bagian dari Embracing Shared Heritage through Performing Arts, inisiatif regional yang dilaksanakan UNESCO melalui kemitraan dengan Temasek Foundation. Program tersebut mempertemukan seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura untuk mengeksplorasi bagaimana warisan budaya yang terbentuk lintas batas dapat diterjemahkan melalui seni pertunjukan.
Selama empat bulan, para seniman bertukar gagasan dan mengembangkan karya bersama. Proses tersebut tidak hanya mempertemukan beragam tradisi seni, tetapi juga membuka ruang untuk melihat kembali sejarah, identitas, ingatan, dan pengalaman masyarakat yang memiliki keterhubungan budaya.
Head of Culture UNESCO Regional Office in Jakarta, Moe Chiba, mengatakan seni memiliki kemampuan untuk melintasi batas negara, tetapi kesempatan bagi seniman dari negara berbeda untuk bertemu dan berkarya bersama masih terbatas.
“Melalui inisiatif ini, kami ingin memberi ruang bagi para seniman untuk bertemu, bertukar gagasan dan menciptakan karya baru dari warisan budaya yang menghubungkan mereka,” kata Chiba.
Head of Programmes Office and Resilient Societies Temasek Foundation, James Chan, mengatakan masyarakat Asia Tenggara memiliki banyak keterhubungan, meski setiap komunitas tetap mempunyai tradisi, cerita, dan perspektif masing-masing.
Menurut dia, seni dapat menjadi ruang pertemuan untuk mengenali pengalaman yang berbeda sekaligus menemukan titik temu di tengah keberagaman kawasan.
Dua karya yang dihasilkan membawa pendekatan berbeda terhadap warisan budaya bersama.
Hutan mengeksplorasi hubungan masyarakat dengan hutan sebagai ruang alam sekaligus ruang budaya. Cerita, ingatan, kepercayaan, serta hubungan manusia dengan alam menjadi bagian dari eksplorasi karya tersebut.
Pertunjukan ini juga menggunakan sejumlah pendekatan inklusif untuk memperluas akses penonton, termasuk bagi penonton neurodivergen.
Sementara Rumah dari Lidah menelusuri warisan budaya Peranakan yang berkembang melalui migrasi dan pertukaran budaya antargenerasi di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Sutradara Rumah dari Lidah, Melati Suryodarmo, mengatakan budaya Peranakan tidak dapat direpresentasikan hanya melalui satu cerita karena di dalamnya terdapat beragam pengalaman personal dan sejarah keluarga.
“Saya tidak ingin menggambarkan budaya Peranakan hanya melalui satu cerita. Saya ingin membuka ruang bagi beragam pengalaman pribadi—potongan sejarah, bahasa, makanan, dan ingatan yang mungkin selama ini tersembunyi atau terlupakan,” ujar Melati.
Inisiatif Embracing Shared Heritage through Performing Arts telah berlangsung sejak 2025 dengan mempertemukan seniman, peneliti, mahasiswa, dan pelaku budaya dari ketiga negara melalui lokakarya, diskusi, serta pertukaran seni.
Dua pertunjukan di Yogyakarta menjadi ruang untuk membawa proses tersebut kepada publik sekaligus menunjukkan bahwa warisan budaya Asia Tenggara tidak selalu berhenti pada batas geografis negara, tetapi tumbuh dari perjumpaan dan pertukaran masyarakat yang berlangsung lintas generasi.
(Lidia/*)