IDETORIAL.com, Kupang — Dari sekitar 35 ribu anak yang ada di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), penemuan anak yang terindikasi tuberkulosis (TBC) baru mencapai 14 persen atau sekitar 4.900 anak
Kondisi ini menunjukkan perlunya memperkuat deteksi dini, untuk memastikan kasus TBC pada anak dapat ditemukan dan ditangani lebih cepat.
“Yang ditemukan itu baru 14 persen,” demikian dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, Retnowati, saat menghadiri penguatan penanganan TBC di Kota Kupang. Kamis, 24 September 2026.
Perhatian terhadap TBC pada anak, tambah Retnowati, semakin penting karena kelompok usia ini rentan terhadap gangguan kesehatan, yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Penemuan kasus sejak awal, menjadi salah satu kunci agar anak yang terindikasi dapat segera menjalani pemeriksaan dan mendapatkan pengobatan.
“Penemuan TBC pada anak di Kota Kupang selama ini antara lain terjadi secara pasif. Anak datang ke fasilitas kesehatan karena mengalami penyakit atau keluhan lain, kemudian dalam proses pemeriksaan ditemukan indikasi TBC,”jelas Retnowati.
Kondisi tersebut mendorong peningkatan skrining dan deteksi lebih awal. Dalam strategi penanganan TBC, pemeriksaan ditargetkan mencapai 90 persen, sementara kasus yang telah ditemukan ditargetkan mendapatkan pengobatan sebesar 95 persen. Adapun keberhasilan pengobatan ditargetkan mencapai 90 persen.
Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan sosialisasi kepada masyarakat, skrining lebih awal, deteksi yang lebih cepat serta peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di seluruh puskesmas.
Penguatan deteksi juga dilakukan melalui pendekatan lintas sektor, termasuk sektor pendidikan. Satuan pendidikan anak usia dini (PAUD) menjadi salah satu titik perhatian karena berinteraksi langsung dengan anak usia dini yang masih berada dalam fase pertumbuhan.
Plt. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernest Ludji turut menyampaikan bahwa di Kota Kupang terdapat sekitar 270 satuan PAUD, mulai dari kelompok bermain hingga TK, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun masyarakat dan swasta. Guru dan penyelenggara PAUD didorong memahami langkah-langkah deteksi dini sehingga kondisi kesehatan anak yang membutuhkan pemeriksaan dapat dikenali lebih cepat.
Keterlibatan sektor pendidikan juga perlu diperkuat dengan peran orang tua. Anak menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan keluarga, sehingga orang tua memiliki peran penting dalam mengenali perubahan kondisi kesehatan, dan memastikan anak memperoleh pemeriksaan ketika terdapat gejala atau faktor risiko.
“Kenapa harus dari tingkat PAUD? Supaya upaya-upaya deteksi dini itu dimulai dari tingkat yang paling kecil. Karena anak-anak itu rentan. Umur satu sampai enam tahun itu umur yang masih rentan,” ujar Ernest.
Perhatian terhadap anak juga berkaitan dengan hasil penelusuran pada kelompok dewasa. Dari sekitar 3.000 orang yang dilakukan penelusuran, ditemukan sekitar 180 orang dewasa yang terduga TBC. Kondisi tersebut menjadi dasar untuk memperhatikan anggota keluarga dan lingkungan terdekat, termasuk anak-anak.
Dengan memperkuat skrining, edukasi dan kerja lintas sektor, penanganan TBC di Kota Kupang diarahkan untuk meningkatkan penemuan kasus pada anak. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula anak dapat memperoleh pemeriksaan, pengobatan dan pendampingan yang dibutuhkan.
(lidia)