Ketika Bumi Menangis, Harapan Tak Ikut Runtuh
IDETORIAL.com, Kupang, – SAAT BUMI FLORES MENANGIS
Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA.
Azan subuh baru saja menggema di kampung-kampung Flores, menyatu dengan embun pagi yang menyejukkan. Di dapur-dapur rumah panggung, ibu-ibu mulai menanak nasi dan merebus air. Di pelabuhan-pelabuhan kecil, para nelayan bersiap mendorong perahu ketinting menuju laut.
Pagi berjalan seperti biasa.
Hingga dalam 20 detik yang terasa seperti selamanya, semuanya berubah.
Tanah mengaum dahsyat. Air laut tiba-tiba surut. Rumah-rumah kayu dan beton roboh dengan suara gemuruh, menyisakan debu dan puing-puing. Tangis masyarakat pecah dalam kepanikan dan kepedihan.
Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 hingga 7,8 yang berpusat di lepas pantai Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, mengguncang pagi yang semula syahdu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episentrum gempa berada di laut akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores. Gempa terjadi pada kedalaman sangat dangkal, sekitar 10 kilometer di bawah permukaan laut. Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor utama kuatnya guncangan dan besarnya kerusakan yang terjadi di daratan.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu guncangan terkuat di Nusa Tenggara Timur sejak tragedi gempa dan tsunami Flores pada 1992 yang menewaskan lebih dari 2.000 jiwa.
Tiga puluh empat tahun kemudian, bumi Flores kembali diuji.
Guncangan M7,7 dirasakan hingga Pulau Sumba, Sumbawa, Lombok, bahkan Makassar di Sulawesi Selatan. Di Maumere, Ende, dan Ruteng, warga berhamburan keluar rumah saat fajar. Sebagian menyelamatkan diri hanya dengan pakaian seadanya—daster dan sarung tidur.
Karena episentrum berada di laut dengan kedalaman dangkal, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami sekitar lima menit setelah gempa pertama.
Peringatan itu kemudian terbukti.
Tsunami lokal terbentuk dan menerjang sejumlah kawasan pesisir. Di wilayah pesisir Kabupaten Sikka dan Ngada, tinggi gelombang laut tercatat mencapai 1,61 meter. Sejumlah perahu nelayan terseret arus deras, sementara rumah-rumah panggung di bibir pantai rusak diterjang gelombang.
Namun, berkat peringatan dini tersebut, sebagian besar warga sempat menyelamatkan diri menuju dataran yang lebih tinggi sebelum gelombang tiba.
Bencana memang datang dalam hitungan detik.
Namun luka yang ditinggalkannya jauh lebih panjang.
TIGA PEKAN DALAM KETAKUTAN
Bencana ternyata tidak berhenti pada hari pertama.
Hingga 7 September 2026 pukul 05.00 WIB, catatan seismograf BMKG menunjukkan telah terjadi 13.156 kali gempa susulan dengan berbagai magnitudo. Gempa susulan terbesar tercatat berkekuatan magnitudo 6,2. Sebanyak 172 gempa susulan dirasakan kuat oleh warga.
Bagi para penyintas, angka-angka tersebut bukan sekadar catatan dalam laporan kebencanaan.
Setiap getaran adalah kecemasan.
Setiap suara gemuruh membuat mereka kembali mengingat pagi ketika bumi berguncang.
Selama tiga pekan, sebagian penyintas harus tidur di tenda-tenda darurat. Tanah yang terus bergerak membuat rasa aman menjadi sesuatu yang mahal.
Trauma kolektif dan kecemasan psikologis pun menjadi pekerjaan rumah besar setelah fase evakuasi berlalu.
Skala kehancuran tercermin dari data yang dihimpun dari laporan terpadu BNPB, Wikipedia, serta tim investigasi lapangan.
Sebanyak 129 orang meninggal dunia dan 1.678 orang mengalami luka berat maupun ringan.
Lebih dari 179.037 jiwa kehilangan tempat tinggal.
Sebanyak 115.321 warga lainnya terpaksa bertahan di posko penampungan, tenda terpal, halaman sekolah, hingga halaman rumah ibadah dan gereja. Rumah mereka ambruk atau dinilai terlalu berbahaya untuk ditempati kembali karena ancaman gempa susulan.
Di balik angka-angka itu, ada keluarga yang kehilangan rumah.
Ada anak-anak yang kehilangan ruang belajar.
Ada orang tua yang kehilangan tempat tidur.
Dan ada ribuan orang yang harus memulai kembali hidup dari bawah tenda.
KETIKA RUMAH TAK LAGI MENJADI TEMPAT AMAN
Secara keseluruhan, sebanyak 89.618 unit rumah mengalami kerusakan.
Sebanyak 26.343 rumah rusak berat, sedangkan 63.275 lainnya mengalami kerusakan sedang dan ringan.
Kerusakan juga menjalar ke fasilitas publik.
Di sektor kesehatan, sejumlah puskesmas, klinik desa, dan rumah sakit mengalami keretakan struktural hingga ambruk. Sebagian pasien terpaksa dirawat di tenda darurat yang didirikan di halaman rumah sakit. Kantung infus bahkan harus digantungkan pada tiang-tiang bambu seadanya.
Di sektor pendidikan, ratusan sekolah dari tingkat SD hingga SMA mengalami kerusakan. Dampak terberat dirasakan di Kabupaten Manggarai Timur dan Manggarai, hingga kegiatan belajar mengajar lumpuh.
Fasilitas publik dan pemerintahan juga terdampak. Infrastruktur vital seperti bandara perintis, kantor pengadilan, gedung pemerintahan daerah, hingga Rutan Ruteng mengalami kerusakan struktural yang membutuhkan penanganan besar.
Kerusakan tercatat di berbagai wilayah Flores, mulai dari Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada hingga kawasan Manggarai Raya.
Puluhan titik jalan nasional terputus akibat longsor.
Jaringan listrik padam selama dua pekan.
Di tengah kondisi tersebut, air bersih berubah menjadi kebutuhan yang sangat berharga.
14 HARI TANGGAP DARURAT: NEGARA TURUN TANGAN
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menetapkan Status Keadaan Darurat Bencana selama 14 hari pada tahap awal, 15–28 Agustus 2026. Status tersebut kemudian diperpanjang selama 14 hari, yakni 29 Agustus hingga 12 September 2026.
Kebijakan itu ditempuh untuk mempercepat evakuasi korban, memperlancar distribusi logistik pangan, serta mengerahkan personel gabungan secara maksimal.
Bantuan logistik berupa tenda darurat, makanan siap saji, air bersih, dan selimut dikirim secara bertahap dari Kota Kupang, Surabaya, hingga Jakarta menggunakan armada udara dan laut.
Tim medis gabungan dari TNI, Polri, dan Kementerian Kesehatan mendirikan rumah sakit lapangan di sejumlah titik pengungsian.
Pendampingan psikososial dan trauma healing juga digencarkan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang mengalami tekanan psikologis akibat bencana.
Di tengah kehancuran, kehidupan perlahan berusaha menemukan ritmenya kembali.
BELAJAR DI BAWAH TENDA
Gempa tidak hanya merobohkan rumah.
Ia juga memaksa anak-anak kehilangan ruang belajar.
Sebagai bentuk perhatian terhadap dunia pendidikan, Kementerian Agama Republik Indonesia menyalurkan bantuan kemanusiaan dan dana renovasi pendidikan senilai Rp3 miliar.
Belasan tenda belajar darurat didirikan secara gotong royong di berbagai kabupaten terdampak.
Di dalam tenda-tenda itu, anak-anak duduk berhimpitan di atas terpal. Papan tulis sederhana menjadi pengganti ruang kelas.
Fasilitasnya jauh dari memadai.
Namun semangat belajar mereka tidak ikut runtuh.
Di tengah keterbatasan, mereka tetap mengeja, membaca, bernyanyi, dan mencoba menjalani hari seperti anak-anak lainnya.
Barangkali, bagi mereka, belajar adalah cara paling sederhana untuk mengatakan bahwa kehidupan harus terus berjalan.
PARA IBU BERGERAK UNTUK FLORES
Di tengah tumpukan puing dan duka, solidaritas kemanusiaan datang dari berbagai penjuru negeri.
Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI) menjadi salah satu bagian dari gerakan tersebut.
Dari Sabang hingga Merauke, bahkan hingga perwakilan luar negeri seperti Tokyo dan New York, para anggota PIPEBI menyatukan langkah dan menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu masyarakat Flores.
Misi mereka sederhana: meringankan beban saudara-saudara yang sedang menghadapi bencana.
Sebagai organisasi perempuan yang selama bertahun-tahun bergerak dalam pemberdayaan perempuan, UMKM, sosial, dan pendidikan, PIPEBI melihat bencana bukan hanya sebagai persoalan distribusi logistik.
Bencana juga menyangkut perlindungan martabat perempuan dan anak-anak yang berada dalam situasi rentan di pengungsian.
Hingga 7 September 2026, penggalangan dana PIPEBI berhasil menghimpun Rp300 juta.
Seluruh dana tersebut akan disalurkan dalam bentuk kebutuhan pokok, perlengkapan perempuan dan anak, serta obat-obatan spesifik bagi para penyintas di tujuh kabupaten yang terdampak parah.
Penyaluran dilakukan melalui koordinasi dengan BPBD dan BNPB agar bantuan dapat menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan.
DI BAWAH TERPAL ORANYE
Pada 27 Agustus 2026, saya bersama Kepala Perwakilan BI NTT dan tim Bank Indonesia, serta Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi NTT, terbang dari Kupang menuju Maumere.
Perjalanan sekitar 60 menit menggunakan pesawat ATR berlangsung dalam bayang-bayang Gunung Lewotobi yang kembali mengalami serangkaian erupsi intensif pada akhir Agustus 2026.
Setiba di Maumere, kami langsung menuju Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik di Madawat, Kabupaten Sikka.
Kami diterima Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago dan Wakil Bupati Sikka Simon Subandi bersama tim BNPB. Mereka menjelaskan kondisi Flores yang saat itu telah memasuki minggu ketiga pascabencana.
Dari Pos Komando Madawat, kami bergerak menuju Pos Pendukung Logistik Nasional BNPB Maumere di Bandara Frans Seda.
Bantuan Bank Indonesia yang telah tiba menggunakan pesawat Hercules sehari sebelumnya diserahkan kepada Kepala Pos Pendukung Logistik Nasional BNPB Maumere, Mayor Jenderal (Pur) Denny Herman, untuk kemudian didistribusikan ke wilayah terdampak di Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Manggarai Barat, Flores Timur, dan Sikka.
Menjelang siang, perjalanan berlanjut ke Kangae.
Kecamatan kecil itu masih menyimpan luka.
Puluhan warga bertahan di tenda-tenda darurat sambil menunggu gempa berhenti mengguncang tanah tempat mereka hidup.
Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu sekitar 30 menit menjadi hampir satu jam. Jalan rusak, medan terjal, bukit, dan jurang menjadi bagian dari perjalanan.
Setiba di Kangae, kami menuju sebuah sudut permukiman tempat BPBD mendirikan tenda darurat, terutama bagi perempuan dan anak-anak.
Di sanalah cerita-cerita tentang kehilangan terasa begitu dekat.
MARIA DAN SENYUM YANG SEMPAT HILANG
Saya duduk bersama Maria.
Seorang perempuan yang pada awal pertemuan menyambut dengan senyum.
Namun beberapa kali senyum itu menghilang ketika angin berembus kencang.
Di bawah terpal oranye yang membentang di tengah permukiman, aroma minyak angin bercampur dengan debu jalanan.
Di lantai tenda terdapat beberapa bantal, selimut, dan kasur lipat tipis yang tampak berdebu.
Terpal terasa dingin di kaki, kontras dengan udara siang yang panas menyengat.
Maria kemudian bercerita tentang pagi ketika gempa datang.
Suaminya tertimpa beton di teras rumah ketika berusaha menyelamatkan diri.
Dengan suara parau yang tertahan, ia menceritakan bagaimana tetangga-tetangganya mengalami luka akibat tertimpa dinding rumah dan genteng.
“Yang paling penting anak-anak saya selamat, Bu. Suami saya juga cuma luka ringan. Ada banyak tetangga yang luka-luka karena kejatuhan dinding rumah atau genteng,” ucapnya lirih.
Sesekali ia memeluk erat anaknya yang berusia tujuh tahun.
Di sampingnya, anak kecil itu tampak asyik membuka permen yang saya bawa dari Kupang.
Sejenak, ia seperti lupa bahwa dirinya sedang berada di pengungsian.
Barangkali memang begitu cara anak-anak bertahan.
Mereka menemukan kegembiraan dari hal-hal kecil, bahkan ketika dunia di sekeliling mereka sedang berantakan.
MALAM YANG PANJANG BAGI PARA LANSIA
Tidak jauh dari tempat kami duduk, beberapa lansia bersandar di dinding posko.
Mata mereka menyiratkan kelelahan fisik dan mental.
Di usia yang tak lagi muda, mereka harus melewatkan malam-malam panjang di atas kasur tipis dengan fasilitas seadanya.
Seorang perempuan lansia bercerita bahwa malam adalah waktu yang paling sulit.
“Paling susah kalau malam hari, angin masuk ke tenda, dingin sekali. Tapi saya sangat bersyukur Ibu datang bawa bantuan. Senang, ada banyak yang peduli pada nasib oma-oma ini,” tuturnya dengan senyum tipis.
Kalimat itu sederhana.
Namun di tengah bencana, perhatian adalah sesuatu yang sangat berarti.
Sebab bagi mereka yang kehilangan hampir segalanya, mengetahui bahwa masih ada orang yang peduli bisa menjadi sumber kekuatan untuk bertahan.
TAWA ANAK-ANAK DI TENGAH PUING
Suasana haru tiba-tiba mencair ketika terdengar gelak tawa dari luar tenda.
Sekelompok anak pengungsi membentuk lingkaran.
Mereka mengikuti kegiatan pemulihan trauma yang dipandu relawan.
Mereka mengeja.
Mereka bernyanyi.
Mereka tertawa.
Suara itu terdengar sederhana, tetapi memiliki makna besar.
Di tengah bencana yang merenggut rumah, rasa aman, dan kehidupan yang mereka kenal, anak-anak itu masih memiliki alasan untuk tersenyum.
Mereka menunjukkan bahwa bara semangat belajar di bumi Flores belum padam.
FLORES TIDAK SENDIRI
Dari Sabang hingga Merauke, dari Jakarta hingga Pontianak, para ibu dalam keluarga besar PIPEBI menyisihkan rezeki mereka untuk Flores.
Penggalangan dana yang mencapai Rp300 juta menjadi bukti bahwa jarak geografis tidak mampu memutus ikatan kemanusiaan.
Gempa memang telah merobohkan puluhan ribu rumah.
Tetapi ia tidak berhasil merobohkan semangat masyarakat Flores.
Harapan itu hidup dalam diri Maria.
Dalam senyum anak-anak.
Dalam keteguhan para lansia.
Dalam kerja para relawan.
Dalam bantuan yang datang dari berbagai penjuru negeri.
Dan dalam tangan-tangan yang memilih untuk membantu ketika saudara mereka sedang jatuh.
Inilah wajah Indonesia.
Ketika satu wilayah tertimpa musibah, wilayah lain bergerak untuk mengangkatnya kembali.
Flores mungkin sedang terluka.
Tetapi Flores tidak sendiri.
Ada asa yang tetap menyala di bumi ini.
Kecil, tetapi nyata.
Mari menjaga nyala itu.
Biarlah baranya tetap berpijar dan menjadi terang hingga Flores kembali berdiri.
Kupang, 7 September 2026
Terry Adidoyo
Ketua PIPEBI NTT
Catatan dan Dokumentasi: Artikel komprehensif ini disusun berdasarkan himpunan data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ensiklopedia terbuka Wikipedia, laporan resmi pusat penanggulangan bencana BNPB, serta dokumentasi laporan lapangan langsung dari tim PIPEBI per tanggal 7 September 2026.
(Lidia)