IDETORIAL.com, Jakarta — Pemerintah Indonesia bersama UNICEF Indonesia dan CEO Water Mandate memperkuat ketahanan air di Jawa melalui peluncuran Berketahanan Air untuk Sanitasi dan Air Minum Aman (BERSAMA), sebuah inisiatif multipihak yang berfokus pada penguatan akses air minum, sanitasi, dan kebersihan (WASH) yang berketahanan terhadap perubahan iklim.
Inisiatif tersebut diluncurkan di Jakarta, Senin , 24 Agustus 2026, dengan melibatkan Water Resilience Coalition (WRC), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, pemerintah daerah, masyarakat, serta sektor swasta.
Program BERSAMA akan menyasar wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat, terutama kawasan yang dinilai rentan terhadap dampak perubahan iklim dan persoalan kualitas air.
Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat sistem penyediaan air agar lebih mampu menghadapi banjir, kekeringan, pencemaran, serta berbagai risiko iklim yang dapat mengganggu akses masyarakat terhadap layanan dasar.
Tantangan tersebut semakin penting mengingat tekanan terhadap sumber daya air di Jawa terus meningkat. Menurut Bank Dunia, sekitar 57 persen penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa, sementara wilayah ini hanya memiliki sekitar 6 persen sumber daya air nasional.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan air membutuhkan langkah yang tidak hanya bersifat reaktif ketika terjadi bencana, tetapi juga melalui investasi dan penguatan sistem secara berkelanjutan.
Perubahan iklim juga memperbesar ancaman terhadap layanan air dan sanitasi. Pada 2025, Indonesia mencatat lebih dari 4.700 bencana, dengan hampir separuhnya berkaitan dengan banjir.
Banjir dapat merusak infrastruktur penyediaan air, mencemari sumber air, sekaligus meningkatkan risiko penyakit seperti diare. Dampaknya tidak berhenti pada kesehatan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas pendidikan, layanan kesehatan, dan perlindungan anak.
“Air yang aman, mulai dari sumber hingga rumah tangga, merupakan hal mendasar untuk melindungi hak anak atas kesehatan yang baik dan lingkungan yang aman, terlebih ketika tantangan iklim semakin sering terjadi,” ujar Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman.
Melalui BERSAMA, UNICEF mendorong pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk membangun sistem air yang lebih tangguh sehingga anak-anak dan kelompok rentan tetap memperoleh layanan dasar meski menghadapi tekanan akibat perubahan iklim.
Pada fase pertama yang berlangsung 2026–2028, BERSAMA akan menyasar dua kabupaten dan 30 desa di DAS Citarum. Program ini mendapat dukungan awal sebesar US$1 juta dari Gap Inc. dan Haleon.
Selain pendanaan, kedua perusahaan tersebut akan terlibat dalam berbagi pengetahuan, mendorong kolaborasi, serta memperluas keterlibatan dunia usaha dalam penguatan ketahanan air.
Water Resilience Coalition juga akan berperan dalam mendorong aksi kolektif dan memastikan program menghasilkan capaian ketahanan air yang terukur.
CEO Water Resilience Coalition, Matt Kistler, mengatakan ketahanan air tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja.
Menurut dia, pemerintah, masyarakat, organisasi masyarakat sipil, dan dunia usaha perlu bekerja bersama untuk menghadapi persoalan air sekaligus mencari solusi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
“WRC meyakini bahwa ketahanan air membutuhkan aksi kolektif,” katanya.
BERSAMA menargetkan sekitar 200.000 orang memperoleh akses terhadap layanan WASH yang berketahanan iklim. Selain itu, sekitar 300.000 orang ditargetkan mendapatkan peningkatan kesadaran mengenai ketahanan air dan iklim, termasuk praktik penghematan air serta kebersihan.
Dalam tiga tahun fase awal, program tersebut juga ditargetkan berkontribusi terhadap pengisian kembali lebih dari 12.000 meter kubik air setiap tahun melalui pemanenan air hujan, konservasi daerah aliran sungai, dan imbuhan air tanah.
Lebih jauh, BERSAMA tidak hanya diarahkan pada pembangunan infrastruktur. Program ini juga akan memperkuat kebijakan dan sistem pengelolaan air agar manfaatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.
Model yang dikembangkan di DAS Citarum diharapkan dapat direplikasi dan diperluas ke wilayah lain di Jawa.
Inisiatif tersebut sekaligus mendukung agenda nasional Indonesia dalam meningkatkan akses terhadap layanan air minum dan sanitasi yang dikelola secara aman serta memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim.
BERSAMA juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDG) 6 tentang air bersih dan sanitasi, sekaligus mendukung agenda kesehatan, penanganan perubahan iklim, pengentasan kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.