GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Sejumlah petugas BPBD Kabupaten Ende dan Basarnas Kota Ende memuat barang bantuan logistik dan peralatan untuk dikirim ke Desa Jegharangga dari Kantor BPBD Kabupaten Ende, Kota Ende, Nusa Tenggara Barat, Jumat (21/8)

Kolaborasi BNPB dan BPBD Dampingi Warga Jegharangga Bangkit Pascagempa M 7,7 Flores

IDETORIAL.com, Ende — Tenda-tenda darurat masih menjadi tempat berlindung bagi sebagian warga Desa Jegharangga, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di tengah upaya memulihkan kehidupan setelah gempa bumi magnitudo (M) 7,7 Flores, rasa takut terhadap guncangan susulan masih membuat sebagian warga belum berani kembali ke rumah.

Sebanyak 96 rumah di Desa Jegharangga mengalami kerusakan. Rinciannya, 19 rumah rusak berat, 20 rumah rusak sedang, dan 56 rumah rusak ringan.

Kerusakan tersebut membuat sejumlah warga memilih sementara waktu bertahan di tenda yang didirikan di halaman rumah maupun ruang terbuka. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan kerusakan bangunan, tetapi juga trauma yang masih dirasakan warga setelah gempa.

Dalam rilis tertulis, Sabtu, 22 Agustus 2026, di tengah situasi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ende dan unsur lintas sektor terus mendampingi masyarakat.

BNPB dan Pemkab Ende Satukan 21 Camat Perkuat Sinergi Penanganan Gempa M 7,7 Flores

Bantuan logistik berupa beras, sembako, biskuit, selimut hingga tenda keluarga disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak.

Distribusi dilakukan bersama BPBD Kabupaten Ende, Basarnas, TNI dan relawan. Kehadiran mereka di tengah masyarakat tidak hanya memastikan bantuan tersalurkan, tetapi juga memberikan pendampingan agar warga memiliki rasa aman dalam menghadapi masa darurat.

Pendampingan dilakukan pula melalui edukasi mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. BPBD bersama TNI dan Basarnas memberikan pemahaman kepada warga mengenai langkah yang harus dilakukan ketika terjadi guncangan, termasuk cara menyelamatkan diri dan memilih lokasi yang lebih aman.

Edukasi tersebut menjadi penting di tengah masih adanya gempa susulan. Warga diharapkan dapat merespons guncangan dengan lebih tenang dan tidak mudah panik.

Perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok rentan. Di sejumlah titik, BPBD mendirikan tenda prioritas bagi lanjut usia, ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak-anak. Tenda tersebut menjadi ruang perlindungan sementara agar kelompok yang membutuhkan perhatian lebih dapat beristirahat dengan aman dan nyaman.

Pos Logistik Halim Siapkan 47 Ton Bantuan untuk NTT, Stok Gudang Capai 577 Ton

Dukungan logistik juga terus diperluas ke berbagai wilayah di Kabupaten Ende. Berdasarkan data hingga Jumat , 21 Agustus 2026, sebanyak 6.931 kepala keluarga (KK) terdampak gempa telah mendapatkan dukungan logistik yang disalurkan secara bertahap ke 21 kecamatan.

Distribusi dimulai pada 17 Agustus 2026 dengan penyaluran 300 paket ke Kecamatan Ende Tengah dan 250 paket ke Kecamatan Maukaro.

Pada 18 Agustus, bantuan kembali disalurkan ke Kecamatan Ende Utara sebanyak 400 paket, Ende Timur 240 paket, Kota Ende 600 paket, Detusoko 260 paket, serta Letembusu dan Ndori masing-masing 75 paket.

Penyaluran diperluas pada 19 Agustus ke sejumlah wilayah. Kecamatan Ndona menerima 400 paket, Nangapanda 680 paket, Pulau Ende 100 paket, Wolojita 57 paket, Kelimutu 200 paket, Wewaria 400 paket, Lio Timur 230 paket, Ndona Timur 800 paket, Ende Selatan 200 paket, Detukeli 100 paket, Wolowaru 200 paket, dan Maurole 195 paket.

Khusus Kecamatan Letembusu, sebanyak 245 paket didistribusikan secara bertahap pada 18 dan 19 Agustus.

Ombudsman RI Dorong Transparansi dan Penguatan Pengawasan Penerimaan Mahasiswa Jalur Mandiri

Sementara pada 20 Agustus, distribusi dilanjutkan ke Kecamatan Kota Baru sebanyak 100 paket.

Penyaluran dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah. Mekanisme tersebut diharapkan memastikan bantuan dapat menjangkau penyintas hingga ke wilayah kecamatan dan desa yang membutuhkan.

Bagi warga Jegharangga, bantuan yang datang bukan sekadar beras, makanan, selimut, maupun tenda. Kehadiran petugas dan relawan juga membawa pesan bahwa masyarakat tidak menghadapi masa sulit ini sendirian.

Di tengah rumah-rumah yang rusak dan tenda-tenda darurat yang masih berdiri, warga perlahan mulai menata kembali kehidupan. Edukasi kesiapsiagaan menjadi bekal untuk menghadapi kemungkinan guncangan susulan, sementara bantuan logistik membantu memenuhi kebutuhan dasar selama masa darurat.

Penanganan pascabencana akan terus dilakukan melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Basarnas, relawan, dan berbagai unsur terkait.

Dari ruang-ruang darurat tempat warga bertahan hari ini, upaya pemulihan perlahan dibangun. Jegharangga dan masyarakat terdampak di Kabupaten Ende diharapkan dapat kembali menata kehidupan, memulihkan rasa aman, dan bangkit menghadapi hari-hari berikutnya. (hms/BNPB)

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement