GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
P. Stefen Messakh (Bussiness Development Consultan - Jakarta)

Opini : NTT Kaya Potensi, Miskin Hilirisasi: Ekonomi Mau Dibawa ke Mana?

IDETORIAL.com, Jakarta – “Air hujan jatuh di tanah sendiri namun sungainya mengalir ke tempat lain” mungkin itu salah satu gambaran tentang kompleksitas permasalahan ekonomi di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dengan potensi yang sangat besar, baik itu potensi Pertanian, Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Pariwisata dan masih banyak lagi potensi di Provinsi ini namun kondisinya apakah telah memberikan dampak terhadap ekonomi NTT secara nyata?

Sektor ekonomi tersebut masih kebanyakan dikelola secara tradisional, dan dengan infrastruktur pengolahan yang masih minim, serta supply change yang belum diatur secara terstruktur dan terarah. Kita mencontohkan sektor ekonomi Primer yaitu pertanian dengan luas lahan pertanian sesuai data BPS NTT Tahun 2024 yang datanya diperbaharui tanggal 10 Desember 2025 dengan rincian:

Jenis LahanLuas
Lahan sawah±113.463 hektare
Lahan pertanian kering±591.166 hektare
Lahan sementara tidak diusahakan±17.072 hektare
Total±721.701 hektare

Dengan luasan panen sekitar 168 ribu lebih hektare, atau jika diasumsikan panen dapat dilakukan 2 kali secara optimal, seharusnya bisa mencapai 226 ribu hectare (luas lahan sawah dikalikan 2 kali panen), sedangkan Gabah kering giling sebanyak 707 ribu lebih atau 6,2 ton per hectare.Ini hasil yang baik namun belum optimal.  

Usaha-usaha di sektor perikanan dan kelautan masih berskala kecil saat ini (produksi udang dan lobster di Sumba Timur dan garam di Rote belum dilaksanakan). Pemerintah Propinsi NTT telah merilis beberapa capaian yang dinilai menurut saya ‘masih cukup baik’.

AMAN dan UNESCO Perkuat Keamanan Jurnalis Perempuan Adat Lewat Pelatihan di Makassar

Mengenai capaian negosiasi anggaran dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan di NTT untuk beberapa sektor, namun hal itu belum bisa dinilai keberhasilan karena semua masih berupa angka dan belum dieksekusi, hasil atau capaiannya akan kelihatan apabila semua itu telah ditransaksikan dan ditransmisi dalam sistim ekonomi NTT.

APBD dan APBN hanyalah trigger, sedangkan yang menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi adalah sisi konsumsi dan investasi. Jagung masih dijual mentah, sapi dijual hidup, rumput laut dijual raw material padahal keuntungan terbesar itu ada pada industri pengolahannya dan hilirisasi yang dapat ditransaksikan di Propinsi NTT.

Sangat disayangkan, hal ini belum ada gebrakan nyata dalam keterbatasan fiskal daerah untuk dapat dioptimalkan. Daerah kita kalah 2 kali dalam menangani proses produksi  dan distribusi karena, manakala semua barang mentah dikirim, nantinya masuk kembali ke propinsi NTT dengan biaya logistik yang mahal, dan distribusi yang panjang sehingga berdampak pada harga jual yang terkerek naik.

Hal ini otomatis berdampak kepada masyarakat NTT, sebagai konsumen dari barang jadi tersebut dengan daya beli masyarakat yang rendah /purchase power dan ditengah ruang fiskal pemerintah propinsi, yang terbatas saat ini guna melakukan intervensi terhadap kondisi-kondisi yang membutuhkan campur tangan pemerintah .

Kondisi ini seharusnya jangan terus dibiarkan, sehingga masyarakat menilai seolah olah pemerintah hanya menjadi penonton, terhadap beban masyarakat yang dihadapi saat ini, padahal Pemerintah juga sedang berusaha, dengan konsep pembangunan yang telah ada untuk dapat mensejahterakan rakyatnya.

Tagepe Disiapkan Jadi Pusat Seni dan Literasi Baru di Kota Kupang

Pertumbuhan ekonomi yang hanya didorong dan diharapkan dari fiskal daerah ( kenyataannya fiskal daerah sangat terbatas ), itu hanya dalam jangka pendek, dan cenderung hanya catatan ekonomi saja. Pada akhirnya, yang terpenting adalah bagaimana adanya capital accumulation dengan membangun industry pengolahan, hilirisasi dan memperbesar sektor swasta untuk dapat berkiprah maksimal, dalam mengkapitalisasi potensi didaerah menjadi transaksi ekonomi, dan terciptanya mekanisme pasar yang equilibrium [keseimbangan antara penawaran dan permintaan]. 

Hlirisasi, bukannya kita melihat secara parsial sebagai suatu proses ekonomi yang terjadi, namun secara komprehensif mulai dari hulu sampai hilir. Capaian menciptakan pasar dari suatu terobosan yang namanya NTT Mart, merupakan langkah yang sangat baik, namun apakah ini akan berkepanjangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di NTT secara berkelanjutan?,

Berapa besar memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi? bagaimana kondisi di hulu contohnya, ketersediaan lahan untuk menghasilkan bahan baku? siapa yang mengelola? hasil dari bahan baku berkualitas atau tidak? siapa yang memproduksi?, dengan apa memproduksi? berapa hasil atau kapasitas produksi? bagaimana distribusi dan dengan apa distribusinya?, pasar yang disediakan oleh pemerintah berapa omzet yang dijual/terjual? Apakah mekanisme pasar tercipta atau tidak?

Pertanyaan-pertanyaan ini yang harus disiasati dan dijawab pemerintah, dengan strategi dan program kerja dibidang ekonomi yang mumpuni, sehingga mekanisme pasar dapat tercipta baik dari sisi supply dan demand.

Sedikit hitungan yang saya berikan, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB NTT 2024 ada diangka Rp.137 triliun dan ICOR ditahun yang sama 12,4% (sangat tidak efisien). Ini berarti untuk mendongkrak pertumbuhan sampai 5 % sesuai target Pemerintah Propinsi NTT, harus membutuhkan nilai investasi kurang lebih Rp. 84,9triliun, guna mencapai pertumbuhan itu (include single project NTT Mart).

Wawali Kupang Dorong IWASMA Jadi Motor Kreativitas dan Kolaborasi Pemuda di NTT

Data ini menunjukan bahwa, tujuan mulia Pemerintah Propinsi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di NTT, dari konsep hilirisasi kecil yang sudah dijalankan ini, apakah akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di NTT?

Masih banyak PR dan duduk bersama untuk mendiskusikan kondisi ekonomi NTT ini dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul,  semua stakeholder diharapkan mencari jalan keluar dan eksekusi yang cepat, serta terarah bila perlu butuh quantum leap dalam perekenomian NTT, sehingga kesejahteraan masyarakat yang menjadi tujuan pemerintah benar-benar nyata.

Strategi untuk meningkatkan nilai investasi yang dapat berdampak secara jelas dan terarah, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi, membutuhkan keterlibatan semua pihak dan bukan pemerintah saja. Kompleksitas masalah guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi di NTT yaitu produktifitas rendah , nilai tambah rendah , konektivitas mahal (untuk distribusi),  SDM belum kuat dan belum ada terobosan digitalisasi dalam ekonomi NTT secara tepat.

NTT tidak kekurangan potensi, tetapi masih menghadapi tantangan dalam mengubah potensi menjadi produktivitas, nilai tambah, dan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak cukup hanya bertumpu pada belanja pemerintah, tetapi membutuhkan transformasi struktural melalui industrialisasi, hilirisasi, penguatan SDM, serta integrasi ekonomi digital dan pasar yang efisien. TUGAS SIAPA INI??

Hal ini perlu suatu breakthrough [terobosan] dari semua elemen dan stakeholder di NTT, agar sepaham dan saling membantu, guna mendukung slogan Pemerintah Provinsi NTT yaitu “Ayo Bangun NTT”.

Selamat berdiskusi dan selamat berjuang untuk kita semua membangun NTT. 

Oleh: P. Stefen Messakh
Business Development Consultant – Jakarta

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement