GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi

49 Tahun Pasar Modal Indonesia, OJK Perkuat Integritas dan Luncurkan ETF Emas

IDETORIAL.com, Jakarta — Memperingati 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan penguatan integritas pasar modal sebagai prioritas utama untuk mendorong transformasi pasar yang semakin efisien, transparan, terpercaya, dan inovatif.

Komitmen tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia di Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.

Friderica mengatakan penguatan integritas dilakukan melalui peningkatan likuiditas, transparansi, tata kelola, penegakan aturan (enforcement), serta penguatan sinergi antarpemangku kepentingan.

“OJK berkomitmen untuk terus meningkatkan likuiditas, transparansi, tata kelola dan enforcement serta sinergitas sebagai bagian dari rencana aksi reformasi integritas di Pasar Modal Indonesia,” kata Friderica.

Menurutnya, reformasi yang telah dilakukan turut mendorong pertumbuhan basis investor. Hingga 7 Agustus 2026, jumlah Single Investor Identification (SID) telah mencapai 30,27 juta investor, atau tumbuh 48,67 persen secara tahunan.

BI: IKK NTT Juli 2026 di Level 118, Optimisme Konsumen Tetap Terjaga

Pertumbuhan tersebut dinilai mencerminkan semakin besarnya kepercayaan dan harapan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia.

OJK Luncurkan ETF Emas

Momentum peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia juga ditandai dengan peluncuran Exchange Traded Fund (ETF) Emas, instrumen investasi baru yang diperdagangkan di bursa.

Friderica menyebut ETF Emas menjadi salah satu quick win dari delapan rencana aksi OJK dalam agenda pendalaman pasar secara terintegrasi.

ETF Emas dinilai memberikan alternatif investasi yang praktis dan likuid. Instrumen ini juga sesuai prinsip syariah dan dapat berfungsi sebagai safe haven, sekaligus mendukung pengembangan Pasar Bullion melalui kolaborasi antarlembaga dan pelaku industri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut baik peluncuran ETF Emas tersebut. Ia berharap kehadiran produk baru itu tidak hanya memperluas pilihan investasi masyarakat, tetapi juga meningkatkan likuiditas pasar.

Darah Rakyat Timor di Meja Hijau

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung juga menilai ETF Emas berpotensi memperluas basis investor, menambah keragaman instrumen investasi, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat tata kelola pasar modal.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan ETF Emas diharapkan dapat memperkuat stabilitas pasar modal melalui diversifikasi instrumen dan pilihan investasi.

Dana Pasar Modal Capai Rp123,21 Triliun

Di sisi kinerja, hingga 7 Agustus 2026 penghimpunan dana melalui pasar modal telah mencapai Rp123,21 triliun melalui 135 aksi korporasi. Jumlah emiten di pasar modal Indonesia juga telah melampaui 962 perusahaan.

Basis investor terus bertumbuh hingga mencapai 30,27 juta investor, bertambah sekitar 9,8 juta investor. Dari jumlah tersebut, 78 persen berusia di bawah 40 tahun, menunjukkan semakin kuatnya partisipasi generasi muda dalam pasar modal.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp667 triliun, sementara nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.026 triliun.

BULOG Pastikan Beras SPHP Melimpah di Pasar Alor

Pada sektor perdagangan karbon, volume transaksi kumulatif sejak 26 September 2023 hingga 7 Agustus 2026 mencapai 1,98 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai transaksi sebesar Rp93,89 miliar. Transaksi tersebut melibatkan 158 perusahaan, dengan ketersediaan unit karbon mencapai 3,14 juta ton CO2 ekuivalen.

Sementara itu, Indonesia kembali dipertahankan dalam klasifikasi Emerging Market dalam MSCI Market Classification Review Juni 2026. OJK menilai keputusan tersebut menjadi pengakuan atas berbagai upaya perbaikan yang dilakukan bersama Self-Regulatory Organization (SRO) dan pemangku kepentingan pasar modal.

Ke depan, OJK bersama SRO akan terus mendorong penguatan integritas dan pendalaman pasar melalui sejumlah agenda strategis, termasuk peningkatan persyaratan minimum free float menjadi 15 persen, pengaturan High Shareholder Concentration (HSC), serta peningkatan transparansi kepemilikan saham.

Agenda lainnya mencakup peningkatan kualitas emiten dan perusahaan publik, penguatan kelembagaan penyedia jasa keuangan, peningkatan keamanan siber, serta pengembangan keuangan berkelanjutan melalui penguatan Bursa Karbon dan inovasi produk investasi berbasis pelestarian lingkungan.

(Lid)

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement