IDETORIAL.com, Kupang – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, membuka secara resmi Festival Budaya Kelurahan Maulafa di halaman Gereja GMIT Laharoi Tofa, Kelurahan Maulafa,
Kegiatan bertema“Flobamora di Maulafa: Beragam Budaya, Satu Saudara” tersebut berlangsung selama tiga hari hingga, Kamis, 4 Juni 2026.
Pembukaan festival dihadiri Ketua Majelis Jemaat GMIT Laharoi Tofa Pdt. Indoe, Wakil Ketua Jemaat Pdt. Lucia Wulang, Anggota DPRD Kota Kupang Djuneidi C. Kana, pimpinan perangkat daerah, Camat dan Lurah Maulafa, unsur TNI-Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala sekolah, ketua RT/RW, serta warga setempat.
Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan bahwa keberagaman yang dimiliki masyarakat Kota Kupang merupakan kekuatan yang harus terus dijaga sebagai modal sosial pembangunan.
“Keberagaman bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan. Keberagaman bukan menjadi jarak pemisah, melainkan jembatan yang mempererat persaudaraan. Di Kota Kupang kita selalu bisa hidup dalam harmoni,” ujarnya.
Menurut Christian Widodo, harmoni tidak berarti semua orang harus sama, melainkan kemampuan hidup berdampingan dalam perbedaan suku, budaya, agama, dan latar belakang sosial.
Ia mengibaratkan harmoni seperti rangkaian nada dalam sebuah lagu yang berbeda-beda, namun menghasilkan keindahan ketika berpadu secara seimbang.
Pada kesempatan itu, Wali Kota juga mengajak masyarakat mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Festival budaya, menurutnya, menjadi wujud nyata pengamalan sila ketiga Pancasila, yakni Persatuan Indonesia, melalui semangat gotong royong dan kebersamaan.
Selain itu, ia memberikan apresiasi kepada Lurah Maulafa atas dedikasi dan kinerja dalam melayani masyarakat. Christian menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kupang terus mendorong perubahan paradigma birokrasi dari sekadar memerintah menjadi melayani.
“Pemerintah bukan lagi sekadar memerintah, tetapi melayani. Memerintah adalah melayani. Karena itu seluruh aparatur harus mengutamakan kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Menanggapi aspirasi warga terkait kondisi jalan rusak dan kebutuhan pembangunan kantor lurah yang baru, Wali Kota menyatakan pemerintah akan berupaya mengakomodasi kebutuhan tersebut sesuai kemampuan keuangan daerah.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Kupang saat ini menghadapi kebijakan efisiensi anggaran yang mengakibatkan pengurangan dana hingga Rp204 miliar. Meski demikian, pemerintah tetap memprioritaskan pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik dengan melakukan penghematan pada belanja yang tidak mendesak.
“Kami memilih menunda pembelian kendaraan dinas baru dan menghemat berbagai pengeluaran agar anggaran dapat dialihkan untuk kepentingan masyarakat, seperti perbaikan jalan dan dukungan bagi rumah-rumah ibadah,” katanya.
Ketua Panitia Festival Budaya Maulafa, Yohanes Selu, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan melestarikan budaya lokal, memperkuat persatuan masyarakat, mendorong pengembangan UMKM, serta menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah.
Berbagai agenda digelar selama festival berlangsung, mulai dari parade budaya, pertunjukan seni dan tarian tradisional, pameran budaya, bazar UMKM, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga sosialisasi dari sejumlah instansi.
Sementara itu, tokoh masyarakat Gerson Elia menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap penyelenggaraan festival budaya. Ia juga menyampaikan harapan masyarakat terkait pembangunan kantor lurah yang representatif dan perbaikan infrastruktur jalan di wilayah Maulafa.
Festival Budaya Maulafa berlangsung meriah dengan partisipasi masyarakat dari berbagai latar belakang. Warga tampak mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur, mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman yang menjadi identitas Kota Kupang. (Lid)