IDETORIAL.com, Kupang – Ketika pertandingan berakhir dan perebutan medali usai, para kenshi Shorinji Kempo di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) VIII Nusa Tenggara Timur (NTT) 2026 tidak langsung meninggalkan arena. Mereka bergotong royong membereskan peralatan, merapikan gedung, dan membersihkan lingkungan pertandingan melalui tradisi samu-samu.
Tradisi ini menjadi cerita berbeda di balik gemerlap kompetisi olahraga pelajar. Jika di arena para atlet berjuang meraih kemenangan, melalui samu-samu mereka menunjukkan bahwa persaudaraan dan tanggung jawab tetap menjadi bagian penting setelah pertandingan selesai.
Usai upacara penutupan pertandingan Shorinji Kempo, panitia pelaksana dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT bersama panitia internal Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (PERKEMI) NTT bekerja bersama membersihkan area gedung, baik di bagian dalam maupun luar bangunan.
Mereka membereskan perlengkapan pertandingan dan memastikan fasilitas yang telah digunakan kembali bersih serta tertata. Setiap orang mengambil bagian untuk menuntaskan tanggung jawab bersama.
Wakil Ketua Pengprov PERKEMI NTT, George Hadjoh menegaskan, kebersihan setelah pertandingan merupakan bagian dari standar operasional prosedur (SOP), yang harus dijalankan seluruh panitia sesuai arahan Ketua Umum PERKEMI NTT, Julie Sutrisno Laiskodat. Seluruh pihak diminta memastikan area yang digunakan tidak ditinggalkan dalam keadaan kotor.
“Pastikan kita keluar dengan semua bersih, luar dan dalam, karena hal ini menjadi SOP sesuai arahan Ketua Umum PERKEMI NTT, Ibu Julie Laiskodat. Terima kasih. Salam persaudaraan,” kata George Hadjoh, Senin, 26 Oktober 2026.
Pelaksanaan samu-samu bukan sekadar kegiatan membersihkan tempat pertandingan. Tradisi ini mencerminkan disiplin, kepedulian, gotong royong, dan penghormatan terhadap fasilitas yang digunakan bersama.
Menurut George Hadjoh, tanggung jawab menjaga kebersihan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Karena itu, seluruh pihak harus terlibat memastikan gedung dan lingkungan pertandingan kembali bersih setelah kegiatan berakhir.
“Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari pembentukan karakter atlet, tidak hanya ketika berlatih dan bertanding, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” tambah George
Di tengah kompetisi yang menempatkan medali sebagai salah satu tolok ukur prestasi, samu-samu menghadirkan pesan bahwa keberhasilan olahraga juga tercermin dari sikap dan perilaku para atlet. Persaudaraan tidak berhenti ketika peluit akhir berbunyi, tetapi berlanjut melalui kesediaan bekerja bersama dan menjaga lingkungan.
Dari sisi prestasi, Kota Kupang keluar sebagai juara umum cabang olahraga Shorinji Kempo POPDA VIII NTT 2026 dengan raihan 28 medali, terdiri atas 11 emas, 10 perak, dan tujuh perunggu. Kabupaten Belu menempati posisi kedua dengan 24 medali, yakni enam emas, tujuh perak, dan 11 perunggu. Sementara itu, Kabupaten Kupang berada di posisi ketiga dengan 14 medali, terdiri atas tiga emas, empat perak, dan tujuh perunggu.
Perolehan medali tersebut menjadi catatan persaingan para atlet pelajar di POPDA VIII NTT. Namun, di balik prestasi itu, tradisi samu-samu meninggalkan pesan bahwa seorang kenshi tidak hanya dituntut tangguh saat bertanding, tetapi juga disiplin, peduli, dan bertanggung jawab setelah pertandingan berakhir.
Salam persaudaraan. Osh!
(Lidia)