IDETORIAL.com, Kupang — Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) El Tari menjadikan lingkungan sekolah sebagai basis edukasi dan pembentukan budaya kesiapsiagaan bencana melalui Program Sekolah Tanggap Bencana.
Program tersebut di laksanakan di SMA Negeri 4 Kupang berkolaborasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang, membekali siswa dan guru dengan pengetahuan kebencanaan, sekaligus memperkuat kemampuan warga sekolah dalam merespons kondisi darurat.
Puluhan siswa dan guru mengikuti pelatihan dan simulasi yang mencakup pengenalan potensi dan risiko bencana, Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), teknik evakuasi, hingga langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi kedaruratan.
“Melalui Program Sekolah Tanggap Bencana, kami tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kesiapsiagaan. Siswa dan guru perlu memiliki pengetahuan serta keterampilan dasar dalam menghadapi situasi darurat,” kata Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, dalam rilis tertulis, Sabtu, 25 September 2026.
Ahad menambahkan, Program Sekolah Tanggap Bencana merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus membangun budaya kesiapsiagaan dari lingkungan pendidikan.
Senior Supervisor Receiving, Storage, & Distribution Pertamina Patra Niaga AFT El Tari, Setyo Ariwibowo, mengatakan, kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum bencana terjadi.
“Bencana bisa datang tiba-tiba. Karena itu, pengetahuan dan kesiapan perlu dibangun sejak sekarang karena dapat menjadi skill set yang bermanfaat bagi kita semua,” ujar Setyo.
Penguatan kesiapsiagaan tidak berhenti pada pelatihan. Pertamina turut mendukung sekolah dengan penyediaan plang jalur evakuasi, titik kumpul, dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Sejumlah peserta juga akan dipilih menjadi bagian dari satuan tugas tanggap bencana dan perubahan iklim di lingkungan sekolah. Keberadaan satuan tugas tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan edukasi dan kesiapsiagaan setelah kegiatan pelatihan selesai.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang, Ernest Ludji, mengatakan pengetahuan kebencanaan yang diperoleh siswa diharapkan dapat diteruskan kepada lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Pengetahuan yang didapat hari ini diharapkan tidak hanya disimpan untuk diri sendiri, tetapi juga dapat dibagikan kepada teman-teman dan keluarga di rumah,” ujar Ernest.
Menurut dia, sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran kebencanaan karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dapat dibawa ke lingkungan di luar sekolah.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 4 Kupang, Fransiskus Xaverius Balu Lowa, mengatakan kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan warga sekolah menghadapi keadaan darurat.
“Pengetahuan dan latihan yang diberikan, diharapkan membuat siswa maupun guru mampu mengambil tindakan secara cepat dan tepat saat terjadi bencana,”ucap Fransiskus.
Melalui kolaborasi dengan BPBD Kota Kupang dan SMA Negeri 4 Kupang, program tersebut diarahkan untuk membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya memahami risiko bencana, tetapi juga memiliki sistem, sarana, dan sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi kondisi darurat.
(lidia/*)