IDETORIAL.com, Kupang — Pemerintah Kota Kupang mendorong gerakan “Kupang Berair” (Bersatu Rawat Air dan Tanah) tidak berhenti sebagai komitmen, tetapi diterapkan menjadi aksi konservasi air tanah di seluruh 51 kelurahan.
Langkah tersebut mulai diterjemahkan melalui pembuatan biopori sebagai bagian dari Workshop Membangun Komitmen Bersama untuk Aksi Implementasi Konservasi Air Tanah yang digelar PLAN International Indonesia bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kupang di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Rabu, 30 September 2026.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Kupang, Ignas Lega, mengatakan konservasi air membutuhkan aksi nyata dan tidak cukup hanya dituangkan dalam dokumen atau kesepakatan.
“Ini workshop tentang komitmen. Komitmen bukan sekadar berbicara di sini, tetapi harus ada implementasinya di luar,” tegas Ignasius.
Sebagai langkah awal, enam titik biopori dibuat di lingkungan Rumah Jabatan Wali Kota Kupang. Ignasius turut melakukan pemasangan biopori sebagai bagian dari dimulainya aksi konservasi tersebut.
Biopori dibuat dalam bentuk lubang silindris vertikal di dalam tanah untuk meningkatkan resapan air hujan sekaligus membantu pengelolaan sampah organik. Metode sederhana ini dinilai dapat diterapkan masyarakat mulai dari lingkungan rumah hingga fasilitas publik.
Pemkot Kupang mendorong konservasi air dimulai dari lingkungan terkecil, termasuk rumah tangga, sekolah, RT/RW, kelompok perempuan, anak muda, lembaga keagamaan dan komunitas. Gerakan tersebut kemudian diharapkan berkembang secara bertahap hingga menjangkau seluruh 51 kelurahan.
Ignas meminta camat dan lurah mengambil peran sebagai penggerak di wilayah masing-masing. Surat edaran mengenai konservasi air, kata dia, harus diterjemahkan menjadi kegiatan nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
“Kami berharap surat edaran tentang konservasi air tidak berhenti sebagai dokumen administrasi. Kami minta para camat dan lurah menjadi penggerak di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Menurut Ignas, konservasi air merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan sumber daya air bagi generasi mendatang. Karena itu, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga air dan tanah secara berkelanjutan.
Kerja sama Pemkot Kupang dengan PLAN International Indonesia berlangsung selama empat tahun dan saat ini memasuki tahun pertama melalui program Cerdas Kelola Air dan Lahan Berkelanjutan (CERAH). Program tersebut diarahkan untuk mendorong pengelolaan air dan lahan yang inklusif serta berkelanjutan.
Safeguarding Advisor sekaligus National Child Protection Advisor PLAN International Indonesia, Sigit Wacono, mengatakan gerakan Kupang Berair tidak hanya berkaitan dengan konservasi air dan tanah, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pengendalian banjir dan longsor serta menjaga keberlanjutan sumber daya air dan lahan.
Melalui program CERAH, PLAN mendorong pengelolaan sumber daya air secara terpadu dengan melibatkan perempuan, anak, kaum muda, masyarakat, kelompok disabilitas dan kelompok rentan dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan aksi konservasi.
Praktik konservasi telah mulai dilakukan di tingkat komunitas. Pendeta Margaritha Heo Uly dari GMIT Betlehem Penkase Oeleta mengatakan pihak gereja bersama jemaat telah membuat 27 biopori dari total 60 kepala keluarga.
Praktik tersebut menunjukkan aksi konservasi dapat dimulai dari lingkungan masyarakat dan diperluas menjadi gerakan bersama. Pemkot Kupang selanjutnya akan memantau implementasi konservasi air di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk memastikan gerakan Kupang Berair benar-benar diterapkan di lapangan.
(Lidia)