IDETORIAL.com, Kupang — Wali Kota Kupang, Chris Widodo, meminta aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Kupang, menerjemahkan nilai-nilai Pancasila dalam kerja dan pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, pengamalan Pancasila harus terlihat dalam cara ASN bekerja, mengambil keputusan dan menjalankan tanggung jawab.
Pesan itu disampaikan Wali Kota Kupang saat menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang, Kamis, 1 Oktober 2026.
Chris mengatakan bentuk perjuangan generasi saat ini berbeda dengan perjuangan para pahlawan pada masa lalu. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan menghadapi ancaman secara langsung, kini pengabdian diwujudkan melalui pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
“Kalau sekarang, kita berperang di ruang-ruang yang berbeda. Kita melawan kemiskinan yang memiskinkan harapan. Kita melawan pengangguran yang melemahkan daya juang. Kita melawan kebodohan yang membatasi langkah. Dan kita melawan ketidakadilan yang memecah persatuan,” tegasnya.
Karena itu, Chris meminta ASN menjadikan tugas sehari-hari sebagai bentuk pengamalan Pancasila. Nilai tersebut, kata dia, harus tercermin dalam cara aparatur bekerja, berkomunikasi, mengambil keputusan dan memberikan pelayanan publik.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjalankan pemerintahan. Menurutnya, capaian Pemkot Kupang dalam beberapa waktu terakhir merupakan hasil kerja bersama seluruh jajaran, bukan keberhasilan individu.
Chris menyebut dalam kurun waktu sekitar dua minggu, Pemkot Kupang meraih tiga penghargaan di tingkat nasional dan regional, yakni Terbaik III kategori Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan, Terbaik II implementasi Program 3 Juta Rumah, serta Terbaik I TP2DD untuk wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.
“Saya sadar betul ini bukan kerja satu dua orang. Tidak ada Superman di sini, yang ada Superteam. Ini adalah kerja kolaboratif antara pemerintah, teman-teman di DPRD, dan Bapak/Ibu sekalian,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa budaya kerja harus berjalan bersama disiplin dan akuntabilitas. ASN yang menunjukkan kinerja baik akan mendapat apresiasi, sedangkan pelanggaran terhadap aturan memiliki konsekuensi sesuai ketentuan.
“Kalau teman-teman kerja bagus pasti mendapat apresiasi, tapi sebaliknya kalau kerja tidak bagus tentu ada konsekuensi,” katanya.
Chris juga meminta ASN tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan akhir pengabdian. Menurutnya, masa jabatan memiliki batas, tetapi manfaat yang diberikan kepada masyarakat dan sistem pemerintahan yang dibangun dapat bertahan lebih lama.
“Ini bukan tentang seberapa lama kita menjabat, tetapi seberapa banyak manfaat kita kepada orang lain ketika kita masih menjabat,” tegasnya.
Ia mendorong penguatan sistem tata kelola pemerintahan agar keberhasilan tidak bergantung pada figur tertentu. Perubahan di bidang kebersihan Kota Kupang, misalnya, disebutnya sebagai hasil kerja kolektif berbagai perangkat daerah.
“Kalau kerja kita bagus, bukan hanya saya yang dapat pujian, tapi kalian juga,” ujarnya.
Dalam menjalankan tugas, Chris meminta ASN terbuka terhadap koreksi. Teguran, menurutnya, harus dipandang sebagai bagian dari upaya memperbaiki pekerjaan dan cara kerja.
“Saya lembut pada caranya, tapi tegas pada tujuannya. Fortiter in re, suaviter in modo,” katanya.
Chris juga menekankan pentingnya komunikasi langsung dan pendekatan bottom-up. Pimpinan, kata dia, perlu mendengar persoalan dari aparatur di lapangan agar masalah dapat dipahami secara utuh dan dicarikan solusi yang tepat.
Ia menegaskan pembangunan Kota Kupang bukan hanya tanggung jawab wali kota dan wakil wali kota. Seluruh jajaran pemerintahan memiliki peran dalam memastikan pelayanan dan pembangunan berjalan.
“Inilah masa kita. Ini bukan masa saya dan Ibu Wakil saja. Ini adalah masa kepemimpinan kalian semua juga,” ungkapnya.
Menutup amanatnya, Christian mengajak seluruh ASN menjadikan Kota Kupang sebagai rumah bersama yang memberi ruang bagi setiap warga untuk merasa diterima, dihargai dan mendapatkan pelayanan yang baik.
(Lidia)