IDETORIAL.com, Kupang – Bulan Budaya GMIT Maranatha Oebufu tahun 2026, menjadi ruang perjumpaan lintas etnis dan generasi, yang memperkuat semangat persatuan, pelestarian budaya, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kota Kupang.
Selama sebulan penuh, berbagai kegiatan budaya, seni, dan ekonomi kreatif digelar untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal sekaligus mempererat hubungan antarwarga di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas Kota Kupang.
Saat menutup rangkaian kegiatan tersebut, Senin, 1 Juni 2026, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo menegaskan bahwa, budaya memiliki peran penting dalam menjaga identitas masyarakat, sekaligus memperkuat kohesi sosial.
Menurutnya, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan aset yang harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Budaya adalah identitas yang menyatukan kita. Di tengah masyarakat yang beragam, budaya menjadi jembatan yang memperkuat persaudaraan dan rasa memiliki terhadap daerah ini,” kata Christian.
Ia menilai kegiatan Bulan Budaya menjadi contoh bagaimana keberagaman dapat dikelola menjadi kekuatan sosial yang mempererat hubungan antarwarga tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, Christian juga mengajak masyarakat untuk terus menghidupi nilai persatuan, gotong royong, dan saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
“Persatuan bukan berarti semua harus sama. Kita bisa berbeda suku, budaya, maupun latar belakang, tetapi tetap berjalan bersama untuk tujuan yang sama, yaitu membangun Kota Kupang yang harmonis dan maju,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Sinode GMIT, Semuel Benjamin Pandie, menegaskan bahwa Bulan Budaya merupakan bagian dari upaya gereja merawat identitas masyarakat sekaligus membangun ruang perjumpaan yang menghargai keberagaman.
Menurutnya, budaya dan nilai-nilai keagamaan dapat berjalan beriringan dalam memperkuat kemanusiaan, solidaritas, dan kehidupan bermasyarakat.
Selain menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya dari sejumlah etnis di Nusa Tenggara Timur, kegiatan tersebut juga melibatkan pelaku UMKM jemaat yang memanfaatkan momentum itu untuk mempromosikan produk lokal. Kehadiran sektor usaha mikro dinilai menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya berdampak pada aspek sosial, tetapi juga mampu mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Ketua Panitia, Martin Manafe, mengatakan keterlibatan generasi muda menjadi salah satu fokus utama dalam penyelenggaraan Bulan Budaya tahun ini. Melalui berbagai kegiatan edukatif dan pertunjukan seni, generasi muda diajak mengenal akar budayanya sekaligus membangun rasa bangga terhadap identitas lokal.
Penutupan Bulan Budaya GMIT Maranatha Oebufu memperlihatkan bahwa keberagaman yang dirawat melalui dialog budaya, seni, dan kebersamaan dapat menjadi modal sosial yang kuat dalam mendukung pembangunan Kota Kupang yang inklusif, toleran, dan berdaya saing.(lid)