IDETORIAL.com,Kupang – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Kupang berharap Festival Literasi tidak berhenti sebagai kegiatan perdana, tetapi menjadi agenda berkelanjutan untuk memperkuat kemampuan literasi masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda.
Plt Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Kupang, Frengky Amalo, menilai penguatan literasi penting karena menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia. Melalui festival yang berlangsung selama tiga hari tersebut, kemampuan dan kreativitas peserta dari berbagai jenjang pendidikan ditampilkan sekaligus mendorong keterlibatan komunitas pegiat literasi, perguruan tinggi, sekolah, pengelola perpustakaan, hingga pemerintah kelurahan.
“Penyelenggaraan festival merupakan bagian dari pelaksanaan petunjuk teknis pemerintah pusat. Salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan daerah adalah festival literasi untuk meningkatkan perhatian terhadap penguasaan literasi masyarakat,”jelas Frengky, Rabu, 28 Oktober 2026.
Menurut dia, Kota Kupang memiliki posisi strategis sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur sehingga diharapkan dapat menjadi tolok ukur pengembangan literasi di daerah.
“Literasi itu merupakan fondasi bagi sumber daya manusia. Kalau masyarakat tidak bisa menguasai literasi secara benar, berarti mereka tidak punya kemampuan untuk mendapatkan solusi. Jadi, literasi ini juga bagian dari solusi,” ujarnya.
Ia mengapresiasi partisipasi masyarakat dalam festival tersebut. Antusiasme pengunjung, termasuk kehadiran orang tua dan masyarakat yang menyaksikan anak-anak menampilkan kemampuan literasi, menjadi alasan kegiatan serupa diharapkan dapat kembali dilaksanakan pada 2027.
Festival itu juga melibatkan berbagai unsur untuk membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya literasi. Keterlibatan sekolah, perguruan tinggi, komunitas pegiat literasi, pengelola perpustakaan, dan pemerintah kelurahan dinilai penting agar pengembangan literasi tidak hanya bergantung pada kegiatan sesaat.
Meski demikian, penguatan literasi di Kota Kupang masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal aksesibilitas dan ketersediaan fasilitas pendukung. Salah satu kebutuhan yang disoroti adalah pengembangan ekosistem perpustakaan berbasis digital, termasuk akses internet dan ketersediaan buku elektronik.
Menurut dia, perpustakaan perlu berkembang menjadi ruang yang mendukung lebih dari sekadar kegiatan membaca. Fasilitas tersebut juga perlu menyediakan ruang untuk berdiskusi, berkreasi, dan mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan literasi.
“Jangan sampai perpustakaan masih menggunakan cara berpikir konvensional: datang, duduk manis, membaca, lalu pulang. Tidak seperti itu lagi. Itu sudah konvensional dan tertinggal,” katanya.
Ia mengakui kemampuan keuangan setiap daerah dan institusi berbeda-beda sehingga pengembangan fasilitas perpustakaan digital membutuhkan dukungan berbagai pihak. Karena itu, pemerintah mendorong keterlibatan badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui penyediaan akses Wi-Fi gratis, bantuan buku, maupun pengembangan pojok baca di ruang publik, termasuk pusat perbelanjaan dan lokasi yang mudah dijangkau keluarga.
Dengan adanya pojok baca, anak-anak dapat memanfaatkan waktu untuk membaca ketika orang tua beraktivitas di pusat perbelanjaan. Fasilitas tersebut diharapkan memperluas akses bacaan sekaligus menjadikan literasi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Kupang berharap festival ini menjadi titik awal kolaborasi yang lebih luas dalam membangun ekosistem literasi. Keberlanjutan program, pemerataan akses perpustakaan, serta dukungan fasilitas digital menjadi bagian penting agar penguatan literasi dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas.
Sebelumnya, pada saat pembukaan Festival Literasi yang dibuka oleh Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, menyampaikan bahwa persiapan menuju Indonesia Emas 2045 harus dimulai sejak sekarang melalui pendidikan, pembiasaan membaca, dan pembentukan karakter generasi muda. Literasi tidak cukup hanya membuat anak mampu membaca, tetapi juga harus membentuk kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepedulian sosial.
Festival Literasi Kota Kupang 2026 yang mengusung tema “Mewujudkan Kota Kupang sebagai Kota Literasi Menuju Indonesia Emas 2045” melibatkan sekitar 600 peserta dari kalangan pelajar, pengelola perpustakaan, keluarga, komunitas, dan masyarakat sejak tanggal 27 Oktober 2026 dan akan ditutup pada tanggal 29 Oktober 2026.
(Lidia)