GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Fernando Soares saat mendaftar ke Sekretariat ASPROV PSSI NTT

Daftar Calon Ketua PSSI NTT, Fernando Soares Kantongi 24 Dukungan

IDETORIAL.com, Kupang – Fernando Soares mengantongi 24 dukungan dari total 35 suara yang tercatat dalam pencalonan Ketua Umum Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Nusa Tenggara Timur (NTT).

Setelah mendaftarkan diri, Fernando Soares yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT mulai mengonsolidasikan dukungan, sekaligus menawarkan sejumlah pembenahan untuk mendorong perkembangan sepak bola di NTT.

Fernando mengatakan, dukungan yang telah diperolehnya menjadi modal untuk melanjutkan komunikasi dengan pemilik suara. Ia berharap dukungan tersebut terus bertambah hingga menjelang proses pemilihan.

“Kami tidak akan mengurus Asprov ini sendirian. Semua stakeholder sepak bola akan kita ajak ikut membangun sepak bola NTT,” kata Fernando Soares, usai mendaftarkan diri ke Sekretariat Asprov PSSI NTT, Rabu, 14 Oktober 2026.

Menurut dia, apabila dukungan terhadap satu calon semakin kuat, termasuk kemungkinan terjadinya aklamasi, proses selanjutnya tetap harus mengikuti mekanisme yang ditetapkan panitia serta ketentuan dalam statuta dan regulasi PSSI.

Dari Desa Wisata Bali ke Kupang, Perkemi Pulang Bawa Pelajaran Kebersihan

Di luar proses pencalonan, Fernando menawarkan tujuh pokok pembenahan sepak bola NTT. Gagasannya mencakup penataan kompetisi, pembinaan pemain usia dini, peningkatan kapasitas pelatih dan wasit, penguatan perangkat pertandingan, penerapan teknologi, tata kelola organisasi, hingga perluasan akses pemantauan bakat pemain.

Pertama, memisahkan Liga 4 dari Piala Gubernur. Fernando mengusulkan agar Liga 4 NTT dan Piala Gubernur menjadi dua agenda kompetisi yang berbeda. Pemisahan tersebut diharapkan membuat masing-masing kompetisi memiliki tujuan, format, dan ruang pengembangan yang lebih jelas.

Liga 4 diarahkan sebagai kompetisi berjenjang yang menjadi jalur pembinaan sekaligus persaingan klub menuju level yang lebih tinggi. Sementara itu, Piala Gubernur diusulkan sebagai turnamen tersendiri yang melibatkan tim-tim dari 22 kabupaten/kota di NTT melalui asosiasi PSSI setempat.

Dengan skema tersebut, kompetisi tidak hanya berpusat pada pertandingan di tingkat provinsi, tetapi juga mendorong aktivitas sepak bola di daerah. Keterlibatan asosiasi kabupaten/kota diharapkan memperluas kesempatan bagi klub dan pemain untuk menunjukkan kemampuan.

Kedua, membangun kompetisi berjenjang dari kabupaten hingga provinsi. Fernando menilai pembinaan sepak bola perlu ditopang oleh kompetisi yang berkesinambungan. Karena itu, ia mengusulkan agar Liga 4 diselenggarakan secara berjenjang, dimulai dari tingkat kabupaten/kota hingga berlanjut ke tingkat provinsi.

Jadi Pendaftar Pertama, Fernando Soares Dapat Dukungan Sejumlah Tokoh untuk Ketua PSSI NTT

Model tersebut diharapkan memberi ruang lebih luas bagi klub-klub daerah untuk berkompetisi dan meningkatkan kualitas permainan. Dengan jalur kompetisi yang terstruktur, pemain berbakat dari daerah juga memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang dan menembus persaingan pada level berikutnya.

Ketiga, memperkuat pembinaan pemain usia dini melalui sekolah sepak bola (SSB). Fernando menekankan pentingnya membangun fondasi sepak bola sejak usia muda, terutama bagi anak-anak berusia 6–8 tahun hingga kelompok usia 12 tahun.

Pembinaan sejak dini dinilai penting untuk membentuk keterampilan dasar, kedisiplinan, pemahaman permainan, serta karakter pemain. Penguatan SSB juga perlu menjadi bagian dari program jangka panjang agar NTT tidak hanya menghasilkan pemain untuk kebutuhan kompetisi sesaat, tetapi mampu menyiapkan talenta yang berkembang secara berkelanjutan.

Keempat, meningkatkan sertifikasi pelatih dan wasit di seluruh kabupaten/kota. Fernando mengusulkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sepak bola melalui program sertifikasi bagi pelatih dan wasit. Program tersebut diharapkan menjangkau seluruh kabupaten/kota sehingga peningkatan kualitas tidak hanya terpusat di Kota Kupang atau daerah tertentu.

Ketersediaan pelatih yang memiliki kompetensi dan wasit yang memahami aturan permainan menjadi bagian penting dalam membangun kompetisi yang berkualitas. Dengan peningkatan kapasitas secara merata, pembinaan pemain dan penyelenggaraan pertandingan di daerah diharapkan dapat berjalan lebih baik.

DPC Hanura Desak DPRD Lanjutkan Proses PAW Mokris, Sebut Dokumen Pemberhentian Lengkap

Kelima, memperkuat dukungan tenaga medis dan pelatih fisik. Fernando juga menyoroti kebutuhan dukungan teknis bagi pemain, khususnya dalam menjaga kondisi fisik dan kesehatan selama menjalani latihan maupun pertandingan.

Menurut gagasannya, sepak bola tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis pemain dan strategi pelatih. Dukungan tenaga medis serta pelatih fisik diperlukan untuk membantu menjaga kebugaran, mencegah risiko cedera, dan mendukung pemulihan pemain.

Penguatan aspek tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapan pemain saat menghadapi kompetisi dengan jadwal dan intensitas pertandingan yang tinggi.

Keenam, mengusulkan penerapan teknologi VAR untuk membantu pengawasan pertandingan. Fernando memasukkan penggunaan Video Assistant Referee (VAR) sebagai salah satu gagasan pembenahan sepak bola NTT. Teknologi ini diharapkan dapat membantu meninjau keputusan-keputusan penting dalam pertandingan yang berpotensi menimbulkan kontroversi.

Menurut dia, penggunaan teknologi dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pengawasan pertandingan dan meminimalkan persoalan akibat keputusan wasit yang diperdebatkan.

Namun, penerapan VAR membutuhkan kesiapan perangkat, sumber daya manusia, pembiayaan, dan prosedur operasional. Karena itu, gagasan tersebut perlu diterjemahkan lebih lanjut ke dalam rencana teknis yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan penyelenggaraan kompetisi di NTT.

Ketujuh, membangun tata kelola PSSI yang transparan dan partisipatif serta memperluas pemantauan bakat pemain. Fernando menginginkan pengelolaan organisasi yang melibatkan klub dalam proses pengambilan keputusan. Keterlibatan klub dinilai penting karena mereka merupakan bagian utama dari ekosistem sepak bola yang menjalankan pembinaan dan kompetisi.

Selain pembenahan tata kelola, Fernando mengusulkan pembentukan TV Bola NTT. Platform tersebut diharapkan menjadi sarana untuk menayangkan pertandingan atau menampilkan kemampuan pemain sehingga dapat diakses oleh pemantau bakat dari luar daerah tanpa harus selalu datang langsung ke NTT.

“Kami juga merencanakan ke depan ada TV Bola NTT, sehingga talent scout bisa memonitor anak-anak kita, bibit-bibit NTT. Tidak perlu mereka datang ke NTT, mereka bisa melihat melalui TV Bola NTT,” katanya.

Melalui gagasan itu, pemain-pemain dari berbagai kabupaten/kota diharapkan memiliki peluang lebih luas untuk dikenal oleh pencari bakat dan memperoleh kesempatan mengembangkan karier sepak bola.

Fernando juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah pihak yang mendukung pencalonannya, antara lain Farry Francis, Ahmad Yohan, dan Angelo Wakekako.

Berbagai gagasan tersebut menjadi tawaran Fernando dalam pencalonan Ketua Umum Asprov PSSI NTT. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan program-program itu ke dalam rencana kerja yang terukur, termasuk penentuan prioritas, kebutuhan anggaran, pemerataan pelaksanaan di daerah, serta indikator keberhasilan.

Dengan dukungan yang diklaim telah mencapai 24 dari 35 suara, Fernando masih perlu melanjutkan konsolidasi menjelang proses pemilihan. Sementara itu, realisasi gagasan yang ditawarkan akan bergantung pada mekanisme organisasi, dukungan anggota, serta kemampuan Asprov PSSI NTT menjalankan pembenahan secara berkelanjutan.

(Lidia)

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement