IDETORIAL.com, Rote – Tokoh Adat Desa Serubeba, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nicodemus Haon mengajak masyarakat mendukung pembangunan Sentra Industri Garam Nasional di wilayah tersebut agar berjalan lancar dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi warga setempat.
Nicodemus mengatakan, pembangunan kawasan tambak garam tersebut mulai memberikan dampak ekonomi, melalui penyerapan tenaga kerja dan tumbuhnya aktivitas usaha masyarakat di sekitar lokasi proyek.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah karena dengan adanya proyek pembangunan tambak garam ini, perekonomian masyarakat sekitar sudah mulai membaik dan tingkat pengangguran berkurang,” ujar Nicodemus, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Ia mengimbau masyarakat dapat menjaga keamanan dan ketertiban selama pembangunan berlangsung. Menurutnya, setiap persoalan yang muncul perlu diselesaikan melalui komunikasi dan dialog terbuka antara masyarakat, pemerintah daerah, pihak kontraktor, dan tokoh adat.
“Mari kita bersama-sama menyatukan hati dan pikiran untuk terus mendukung pelaksanaan proyek tersebut agar memberikan manfaat berkelanjutan. Yang terpenting, marilah kita menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap aman, damai, dan kondusif,” katanya.
Nicodemus juga berharap masyarakat dan seluruh pihak terkait terus menjaga komunikasi serta mendukung pembangunan, agar manfaat proyek dapat dirasakan lebih luas, terutama melalui kesempatan kerja dan pertumbuhan usaha masyarakat lokal.
Pembangunan Sentra Industri Garam Nasional merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diarahkan untuk mendukung swasembada garam nasional. Selain meningkatkan kapasitas produksi garam, proyek ini diharapkan membuka peluang kerja dan menggerakkan perekonomian masyarakat Rote Ndao.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Rote Ndao, Jems Riwu, menjelaskan bahwa pembangunan tambak garam dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama seluas 606 hektare telah rampung, sedangkan tahap kedua seluas 751 hektare masih dalam pengerjaan.
Berdasarkan data kontraktor yang disampaikan Jems, proyek tersebut telah menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja, dengan hampir 300 orang di antaranya merupakan pekerja lokal.
Dampak ekonomi juga terlihat dari bertambahnya kios dan lapak kebutuhan pokok di sekitar kawasan proyek. Sejumlah warga memperoleh penghasilan tambahan melalui usaha perdagangan dan penyewaan rumah bagi para pekerja. Perbaikan akses serta sarana pendukung di sekitar tambak turut menjadi bagian dari perkembangan kawasan tersebut.
Meski demikian, penyelesaian administrasi dan pembayaran kompensasi masih berlangsung. Jems menyebut proses administrasi dan teknis terkait telah mencapai sekitar 75 persen.
“Kami memahami ada proses yang terkesan lambat dan kami memohon kesabaran masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah daerah berharap penyelesaian berbagai tahapan pembangunan dapat berjalan sesuai rencana. Jika seluruh proses berlangsung lancar dan kondisi wilayah mendukung, produksi garam di Rote Ndao ditargetkan mulai beroperasi penuh pada Oktober hingga November 2026.
(Lidia)