IDETORIAL.com, Kupang — Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang menggelontorkan dana Rp100 juta untuk mendukung pelaksanaan Pesparawi Sinode GMIT yang untuk pertama kalinya digelar di Kota Kupang pada 7–9 Oktober 2026.
Dukungan dana tersebut disampaikan Wali Kota Kupang, Chris Widodo saat menerima audiensi Panitia Pesparawi Sinode GMIT di Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Senin, 5 Oktober 2026.
“Ini pertama kali dilaksanakan. Luar biasa. Kita ikut menyumbang Rp100 juta. Ini menjadi bentuk perhatian dari Pemerintah Kota Kupang,” ujar Chris.
Menurut Chris, dukungan pemerintah terhadap Pesparawi tidak semata-mata berkaitan dengan kegiatan keagamaan. Perhelatan bertajuk “Simponi Persaudaraan GMIT” itu juga menjadi ruang untuk mengembangkan talenta, seni, budaya, serta memperkuat kehidupan sosial masyarakat.
“Rindu kita supaya para pemuda dengan talenta-talenta itu dihimpun. Musik-musik daerah dan kecintaan bernyanyi tradisional dapat dikembangkan, tetapi tetap dalam nuansa rohani,” katanya.
Dukungan Pemkot Kupang juga diberikan dalam bentuk fasilitas. Pemerintah menyiapkan tenda dan sekitar 500 kursi, kendaraan operasional untuk mengangkut peralatan, pengaturan lalu lintas melalui Dinas Perhubungan, dukungan kesehatan dan obat-obatan dari Dinas Kesehatan, serta pelayanan kebersihan selama kegiatan berlangsung.
Pemkot juga menyiapkan sejumlah lokasi parkir alternatif untuk mengantisipasi peningkatan kendaraan dan penonton, terutama saat pembukaan. Fasilitas pemerintah di sekitar lokasi kegiatan akan dimanfaatkan sebagai area parkir tambahan agar aktivitas Pesparawi tidak mengganggu arus lalu lintas.
Sekda Kota Kupang sekaligus Ketua Pesparawi Sinode GMIT, Jefry Pelt, mengatakan jajaran Pemkot Kupang berkomitmen memberikan dukungan maksimal bagi pelaksanaan Pesparawi perdana tersebut.
Pesparawi Sinode GMIT akan dipusatkan di kompleks Kantor Sinode GMIT yang baru. Kegiatan ini tidak hanya diarahkan sebagai perlombaan paduan suara, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan untuk membangun persaudaraan serta mengembangkan talenta generasi muda.
Pendeta Norman Nenohoni, salah satu panitia Pesparawi Sinode GMIT, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat persaudaraan sekaligus mengembangkan talenta melalui musik gereja.
“Kegiatan ini bukan hanya perlombaan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun persaudaraan dan mengembangkan talenta,” jelas Norman.
Pesparawi mempertandingkan dua kategori, yakni kategori umum dan musik etnik. Pada kategori musik etnik, peserta membawakan lagu-lagu daerah bernuansa rohani dengan menggunakan unsur musik tradisional.
Selain perlombaan, rangkaian kegiatan juga diisi simposium yang menghadirkan juri dan narasumber tingkat nasional. Forum tersebut diharapkan memberi edukasi dan kontribusi bagi pengembangan liturgi serta musik gereja.
Dukungan dana dan fasilitas dari Pemkot Kupang diharapkan memastikan pelaksanaan Pesparawi perdana GMIT tidak hanya berlangsung lancar, tetapi juga memberi ruang lebih luas bagi generasi muda untuk mengembangkan talenta seni dan musik sekaligus memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat.
(Lidia)